MajmusSunda News, Rabu (22/07/2026) – Tadi malam, saya kembali membaca sebuah buku yang pernah saya baca ketika masih duduk di bangku SMP. Membuka kembali halaman-halamannya seperti menemukan sebuah jalan lama yang pernah saya lalui, tetapi sudah lama tidak saya datangi. Ada sesuatu yang kemudian muncul dari ingatan. Buku itu mengingatkan saya pada masa ketika untuk pertama kalinya saya mengenal perasaan jatuh cinta. Perasaan yang pada usia itu belum mampu kita jelaskan dengan baik, tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang atau sesuatu tinggal begitu lama di dalam ingatan.
Buku itu sebuah mitologi Yunani Tentang kisah Cinta Psyche dan Eros. Dikisahkan bahwa Psyche mencintai Eros tanpa pernah benar-benar mengetahui siapa kekasihnya. Ia hanya tahu bahwa setiap malam, dalam gelap, seseorang datang kepadanya. Ada cinta yang hadir tanpa wajah, tetapi justru karena itulah ia menjadi begitu kuat. Sampai pada suatu malam, rasa ingin tahu mengalahkan kepercayaan. Psyche menyalakan lampu dan melihat wajah Eros. Sejak saat itu, cinta yang sebelumnya hidup dalam kepercayaan harus melewati jalan panjang yang penuh kehilangan, penderitaan, dan penebusan.
__
Kita sering mengira bahwa cinta hanya diuji oleh jarak dan waktu. Padahal, ada ujian yang lebih sunyi yaitu ketika seseorang yang kita cintai melakukan sesuatu yang tidak kita mengerti. Kita merasa dikhianati, meskipun ia tidak merasa sedang mengkhianati. Kita merasa dilukai, meskipun ia merasa hanya sedang menjalani sesuatu yang menurutnya benar. Di antara dua manusia, sebuah peristiwa yang sama dapat memiliki dua makna yang berbeda.
Psyche mungkin tidak sedang bermaksud menghancurkan cintanya. Ia hanya ingin melihat. Ia ingin memastikan. Ia ingin mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh kegelapan. Namun, dalam banyak hubungan, niat yang tidak buruk pun dapat melahirkan akibat yang menyakitkan. Di situlah kita sering berhenti terlalu lama. Kita menilai seseorang hanya dari akibat perbuatannya, sementara ia sendiri mungkin sedang berdiri di tempat yang berbeda, melihat peristiwa yang sama dari sudut yang tidak pernah kita masuki.
Karena itu, memaafkan tidak selalu dimulai dari melupakan kesalahan. Ia sering kali dimulai dari keberanian untuk memahami bahwa manusia dapat melakukan sesuatu yang menyakitkan tanpa sepenuhnya memahami luka yang ditimbulkannya. Kita pun demikian. Ada saat ketika kita merasa sedang melakukan yang terbaik, tetapi ternyata seseorang yang kita cintai terluka oleh pilihan kita.
Maka, ada satu kalimat yang tidak mudah diucapkan dalam sebuah hubungan. Aku memahami apa yang terjadi. Dan aku memaafkanmu. Kalimat itu bukan tanda bahwa kita kalah. Bukan pula pengakuan bahwa apa yang terjadi tidak penting. Ia adalah tanda bahwa kita tidak ingin selamanya menjadi tawanan dari sebuah peristiwa. Sebab, ada luka yang menjadi semakin berat bukan karena peristiwanya, melainkan karena kita terus membawanya ke mana pun kita pergi.
Lalu, perlahan, kita memahami bahwa keberanian untuk memaafkan bukan hanya persoalan hubungan antara dua manusia, tetapi juga bagian dari perjalanan hati menuju Allah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa orang-orang yang bertakwa bukanlah mereka yang tidak pernah marah, melainkan mereka yang mampu menahan amarah dan memilih memaafkan.
“…_orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan._” (QS. Ali ‘Imran ayat 134)
Maka, ketika dua manusia masih berdiri di antara kesalahan, kekecewaan, dan sesuatu yang belum selesai, siapa pun yang lebih dahulu menemukan kejernihan dapat berkata, Aku memahami apa yang terjadi. Dan aku memaafkanmu. Sebab, di antara banyak jalan untuk mendekat kepada Allah, ada hati yang memilih tidak membalas, lalu perlahan menjadi lebih luas daripada peristiwa yang pernah membuatnya sempit.
Yudha Heryawan Asnawi
***
Judul: Aku Memahami Apa yang Terjadi dan Aku Memaafkanmu
Penulis: Prof. Dr. Yudha Heryawan Asnawi, M.M
Editor: Raka Alvaro Triputra













Respon (17)