MajmusSunda News, Kamis (20/08/2026) – Waktu sering membawa kita pada keyakinan bahwa semakin banyak yang diketahui, semakin dekat pula kita kepada kebenaran. Kita membaca, menelusuri, mengalami, menyaksikan, lalu perlahan menyusun dunia melalui nama-nama dan pengertian yang kita miliki. Sesuatu yang dahulu asing menjadi akrab setelah diberi penjelasan. Yang gelap terasa terang setelah sebuah jawaban ditemukan. Namun ada satu hal yang sering luput disadari, bahwa mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mengenalnya sampai ke dalam. Pengetahuan dapat membuka sebuah pintu, tetapi pintu yang terbuka belum tentu membuat seluruh ruang terlihat.
Sehelai daun yang jatuh di halaman, air yang mengalir setelah hujan, cahaya yang perlahan mengubah warna langit, atau tubuh yang setiap hari menemani perjalanan hidup, semuanya tampak biasa sampai perhatian berhenti sejenak di hadapannya. Kita dapat mengenali nama, bentuk, fungsi, dan perjalanan sesuatu melalui pengetahuan yang terus berkembang. Kita dapat membaca banyak buku, menelusuri berbagai literatur, mendalami pemikiran para ilmuwan dan filsuf, bahkan menyusuri halaman-halaman kitab yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun setelah begitu banyak yang dibaca, terkadang muncul kesadaran yang tidak lahir dari sebuah jawaban. Ada begitu luas wilayah yang tetap belum dikenal.
Dalam ungkapan _ajz al-ma‘rifah_, tersimpan kesadaran sederhana tentang keterbatasan manusia dalam mengenal seluruh hakikat. Bukan ketidakmampuan untuk mencari, melainkan kesadaran bahwa kemampuan mengenal tidak pernah sepenuhnya sebanding dengan keluasan yang hendak dikenal. Ada saat ketika pertanyaan tidak lagi dapat dijawab hanya dengan menambahkan pengetahuan. Bukan karena jawaban tidak ada, melainkan karena tidak semua yang ada dapat seluruhnya ditampung oleh kemampuan manusia untuk memahami. Di titik itu, pengetahuan tidak kehilangan nilainya. Ia hanya menemukan tempatnya.
Tirai paling halus tidak selalu bernama ketidaktahuan. Ada tirai yang justru dibuat oleh pengetahuan itu sendiri. Ia muncul ketika seseorang telah memiliki cukup banyak jawaban sehingga tidak lagi merasa perlu bertanya. Gelar dapat menjadi tirai, pengalaman dapat menjadi tirai, pemikiran dapat menjadi tirai, bahkan kemampuan memahami dapat menjadi tirai ketika semuanya membuat seseorang merasa telah sampai. Di sana pengetahuan yang semula menjadi cahaya perlahan berubah menjadi dinding. Bukan karena pengetahuan itu salah, tetapi karena mengetahui tentang sesuatu sering membuat kita lupa bahwa mengenal sesuatu tidak selalu sama dengan menyentuh hakikatnya.
Barangkali itu pula yang terjadi ketika manusia merasa telah mengenal manusia lainnya. Bertahun-tahun kebersamaan dapat membuat seseorang hafal wajah, kebiasaan, suara, bahkan cara seseorang menyimpan kesedihan. Tetapi satu peristiwa kecil dapat membuka sisi yang selama ini tidak pernah terlihat. Demikian pula ketika berhadapan dengan diri sendiri. Ada bagian dari diri yang baru dikenal setelah kehidupan membawa kita pada kehilangan, kegagalan, kesunyian, atau peristiwa yang tidak pernah direncanakan. Ternyata mengenal diri bukan hanya menemukan jawaban tentang siapa diri ini, tetapi juga berhadapan dengan ruang batin yang selama ini belum pernah dimasuki.
Begitu pula perjalanan pengetahuan manusia. Dari satu buku ke buku lain, dari satu pemikiran ke pemikiran berikutnya, dari satu kesimpulan menuju pertanyaan yang baru, pengetahuan terus bergerak. Apa yang dahulu dianggap selesai dapat dibuka kembali. Apa yang pernah diyakini sebagai batas dapat berubah menjadi awal perjalanan yang lain. Bahkan setelah membaca kitab, buku, dan berbagai literatur yang memenuhi usia, masih ada halaman kehidupan yang belum terbaca. Di sanalah pengetahuan tidak lagi sekadar menambah apa yang kita miliki, tetapi mengubah cara kita memandang apa yang belum kita pahami.
Di tepi pengetahuan, manusia berdiri membawa apa yang telah dipelajarinya, tetapi tidak menganggapnya sebagai seluruh peta. Ada batas yang tidak harus diterobos dengan kesombongan. Ada wilayah yang lebih baik didekati dengan kejernihan dan kerendahan hati. Sebab bisa jadi, ketika kalimat “saya tahu” perlahan berubah menjadi “saya belum tahu”, bukan pengetahuan yang berkurang, melainkan pandangan yang menjadi lebih luas. Dan barangkali, semakin dekat kita pada batas itu, semakin sedikit yang ingin kita katakan tentang apa yang berada di baliknya. Cukup berdiri dalam hening, menyadari bahwa ada yang tetap tak diketahui bukan karena kita belum cukup jauh berjalan, tetapi karena di hadapan sesuatu yang begitu luas, pengetahuan manusia memang hanya setitik cahaya.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Batas Tahu
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












