MajmusSunda News, Minggu (06/09/2026) – Kemarin, 5 September 2026, sebuah berita tentang Gunung Anak Krakatau yang kembali erupsi di Selat Sunda membawa ingatan saya jauh ke belakang. Bukan hanya kepada gunung yang sejak dahulu berdiri di antara Jawa dan Sumatra, tetapi kepada sebuah peristiwa pada 1883, ketika Krakatau meletus dengan kekuatan yang hingga kini masih tercatat dalam sejarah bumi. Jarak waktu telah lebih dari satu abad. Namun nama Krakatau seperti tidak pernah benar-benar selesai berbicara. Ia hanya diam untuk suatu masa, lalu kembali mengingatkan manusia bahwa alam memiliki bahasanya sendiri.
Pada Agustus 1883, Krakatau mengalami rangkaian letusan besar yang mencapai puncaknya pada 26 dan 27 Agustus. Sebagian besar tubuh gunung runtuh, membentuk kaldera yang kemudian menjadi ruang bagi lahirnya Anak Krakatau. Tsunami menyapu pesisir Jawa dan Sumatra dan menelan puluhan ribu jiwa. Catatan sejarah dan kajian ilmiah kemudian membuat peristiwa itu tidak sekadar menjadi cerita tentang sebuah gunung yang meledak, tetapi juga tentang betapa luasnya daya sebuah gejala alam ketika manusia berada terlalu dekat dengannya.
Yang menarik dari Krakatau bukan hanya kedahsyatannya, tetapi juga apa yang terjadi sesudahnya. Gunung yang pernah menjadi sumber kehancuran itu tidak benar-benar hilang dari dunia. Di dalam kaldera yang tersisa, kehidupan geologis kembali bekerja. Pada 1927, dari dasar laut itu mulai tumbuh sebuah gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Seolah alam sedang memperlihatkan kepada manusia bahwa kehancuran dan kelahiran dapat berlangsung dalam ruang yang sama. Sesuatu yang runtuh tidak selalu menjadi akhir. Dari tempat yang pernah porak-poranda, alam kembali menyusun dirinya dengan caranya sendiri.
Mungkin karena itu berita tentang Anak Krakatau selalu terasa memiliki gema yang lebih panjang daripada sekadar berita tentang gunung api. Ia mengingatkan kita bahwa manusia hidup di tengah sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya. Kita membuat peta, membangun kota, menyusun jadwal penerbangan, menghitung pertumbuhan ekonomi, merancang masa depan, lalu merasa telah cukup memahami dunia. Tetapi sebuah getaran dari perut bumi, sebuah kepulan abu, atau gelombang yang bergerak dari laut dapat seketika membuat semua ukuran manusia kembali pada tempatnya.
Kita sering berbicara tentang alam sebagai sumber daya. Hutan dihitung dalam hektare, laut dalam potensi ekonomi, tanah dalam nilai investasi, dan gunung dalam potensi wisata. Semua itu sah dalam bahasa pembangunan. Tetapi alam sesungguhnya tidak pernah hanya menjadi angka. Ia memiliki kekuatan, keseimbangan, dan waktunya sendiri. Krakatau seperti mengajak manusia melihat kembali batas dari kesombongan yang kadang tumbuh tanpa disadari ketika kemampuan mengelola alam dianggap sama dengan kemampuan menguasainya.
Di hadapan Krakatau, barangkali yang paling layak tumbuh bukan ketakutan, melainkan kesadaran. Bahwa manusia diberi akal untuk membaca tanda-tanda alam, ilmu untuk memahami prosesnya, dan pengetahuan untuk mengurangi risikonya. Tetapi di balik seluruh kemampuan itu tetap ada wilayah yang tidak sepenuhnya berada dalam genggaman manusia. Di sanalah kesadaran tentang Allah menemukan ruangnya, bukan dalam kata-kata yang keras, melainkan dalam keheningan ketika manusia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan semesta yang begitu luas.
Krakatau tidak sedang berceramah kepada kita. Ia hanya berada di sana, seperti alam pada umumnya, bekerja menurut hukum yang telah ditetapkan kepadanya. Manusialah yang perlu belajar membaca. Bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk ditaklukkan, melainkan amanah untuk dihuni dengan pengetahuan dan kerendahan hati. Bahwa ilmu tidak membuat manusia menjadi penguasa seluruh kehidupan, tetapi justru seharusnya membuatnya semakin sadar akan keterbatasannya. Dan ketika hari ini Anak Krakatau kembali mengeluarkan suara dari tubuhnya, barangkali yang perlu kita dengarkan bukan hanya bunyi letusannya, tetapi juga bisikan yang lebih dalam tentang siapa sebenarnya kita, dan betapa luas kekuasaan Allah yang berada di luar batas kemampuan manusia untuk mengukurnya.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Erupsi Anak Gunung Krakatau: Dari Letusannya Kita Belajar Kembali tentang Kecilnya Manusia
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












