Jam yang Terus Berjalan di Ruangan Kosong

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Kamis (10/09/2026) Di ruang baca ada sebuah peninggalan kecil yang saya dapat dari rumah orang tua, sebuah jam dinding buatan tahun 1960-an. Usianya lebih tua dari umur saya sendiri. Bentuknya sederhana, dengan angka-angka yang mulai kehilangan ketajamannya dan kaca yang menyimpan jejak usia. Namun jarumnya masih bergerak dengan tenang. Detiknya terdengar pelan, seperti seseorang yang tidak sedang terburu-buru menuju ke mana pun.

Jam itu pernah berada di rumah yang menjadi bagian dari masa kecil. Di sana pernah ada suara orang tua, percakapan saudara, tawa anak-anak, langkah kaki yang datang dan pergi, serta meja makan yang mempertemukan keluarga dalam kehangatan yang sederhana. Anak-anak yang dahulu berlarian kini telah tumbuh dan menempuh jalannya masing-masing. Rumah yang dahulu ramai perlahan menjadi lebih lapang. Beberapa suara yang pernah memenuhi ruang kini tinggal sebagai kenangan, sementara doa orang tua seperti terus mengikuti langkah anak-anaknya, bahkan ketika mereka sudah jauh dari rumah.
__
Ada sesuatu yang menyentuh dari benda yang mampu bertahan melewati begitu banyak perubahan. Jam itu tidak menyimpan foto, tidak menulis catatan, dan tidak pernah bercerita tentang apa yang telah dilaluinya. Ia hanya berdetak. Tetapi justru dalam kesederhanaan itu terasa bahwa kehidupan meninggalkan begitu banyak jejak yang tidak pernah sempat dicatat.

Pada pagi ketika ruang baca kosong, suara detaknya menjadi lebih jelas. Tidak ada percakapan yang menimpanya, tidak ada langkah kaki yang menyela, tidak ada tangan yang sedang memindahkan buku dari satu rak ke rak lain. Jam itu tetap bekerja. Ia tidak membutuhkan seseorang untuk mendengar suaranya agar waktu tetap bergerak.
__
Manusia sering membutuhkan tanda bahwa sesuatu yang dikerjakan memiliki arti. Ada nama yang ingin dikenal, gagasan yang ingin didengar, pekerjaan yang ingin dihargai. Dunia akademik pun tidak sepenuhnya terbebas dari naluri itu. Di antara ruang-ruang yang pernah dipenuhi percakapan intelektual, ada banyak hal yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak semuanya kelak diingat siapa yang memulainya. Sebagian gagasan justru menjadi lebih hidup setelah nama penciptanya perlahan menghilang dari percakapan.

Sebuah kalimat yang pernah disampaikan dapat menetap dalam ingatan seseorang selama bertahun-tahun. Sebuah cara berpikir dapat berpindah tanpa diketahui dari mana asalnya. Sebuah keputusan baik dapat melahirkan keputusan baik lainnya, tanpa siapa pun merasa perlu mencari siapa yang pertama menanamkannya. Yang penting bukan lagi siapa yang berdiri di awal, melainkan ke mana sesuatu itu bergerak setelah dilepaskan.

Jam tua itu seolah mengajarkan bahwa keberadaan tidak selalu membutuhkan kesaksian. Ia tetap menunjukkan waktu ketika ruangan kosong. Ia tetap menjalankan tugasnya ketika tidak seorang pun memperhatikannya. Tidak ada tepuk tangan bagi detik yang berhasil dilewatinya. Tidak ada penghargaan bagi jarum yang tiba tepat pada waktunya. Ia hanya menjalani apa yang memang harus dijalani.

Semakin panjang usia seseorang, semakin terasa bahwa kehidupan bukan terutama tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan berapa banyak yang dapat diteruskan. Rumah yang pernah menjadi tempat tumbuh diteruskan menjadi kenangan. Kasih sayang orang tua menjelma dalam cara anak-anak memperlakukan keluarganya. Doa yang dahulu dipanjatkan dari sebuah rumah kecil dapat menemukan jalannya pada kehidupan generasi berikutnya, tanpa pernah diketahui persis di mana doa itu sampai.

Pagi semakin terang. Cahaya masuk melalui jendela ruang baca dan jatuh di permukaan jam yang telah berusia lebih dari enam puluh tahun itu. Jarumnya tetap bergerak, pelan dan pasti.

Suatu saat, tangan yang sekarang masih dapat menyetel jarumnya tidak lagi berada di sana. Ruang baca dapat berubah, buku-buku berpindah, rumah berganti suasana, dan generasi baru memenuhi ruang yang dahulu ditempati generasi sebelumnya. Tetapi detik akan tetap menemukan detik berikutnya.

Mungkin di situlah waktu menyimpan hikmahnya yang paling sunyi. Ia tidak meminta manusia untuk selalu dikenang. Ia hanya memberi kesempatan agar sesuatu yang baik pernah dikerjakan, lalu diteruskan oleh kehidupan dengan caranya sendiri.

Sebab yang paling panjang umurnya bukanlah nama yang terus disebut, melainkan kasih yang tetap mengalir, doa yang terus menyertai, dan kebaikan yang tetap berjalan setelah seseorang tidak lagi berada di tempat ia dahulu berdiri.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Jam yang Terus Berjalan di Ruangan Kosong
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *