MajmusSunda News, Jum’at (11/09/2026) – Sekitar pukul sepuluh pagi, telepon berdering. Di ujung sana terdengar suara yang membawa saya seketika menyeberangi waktu, menuju hampir lima puluh tahun yang lalu. Beliau adalah Bapak Tjetje Sumartana, Kepala Sekolah SD Center Ciriung 2 Cibinong pada tahun 1977–1981 (mudah- mudahan saya tidak salah dengan periode ini). Suara itu masih menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, seolah waktu yang panjang tidak pernah benar-benar memutus hubungan antara seorang guru dan muridnya. Ada rasa senang, haru, sekaligus syukur karena sebuah telepon sederhana telah membuka kembali pintu kenangan yang selama ini tersimpan baik.
Kami saling bertanya kabar. Sedikit berbincang tentang masa sekolah, tentang keadaan dahulu, tentang orang-orang dan suasana yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Alhamdulillah beliau tetap sehat di usia lebih dari 80 tahun. Tidak banyak yang perlu dibicarakan. Percakapan itu justru terasa indah karena tidak membutuhkan banyak kata. Ada hubungan yang pernah dibangun dengan ketulusan, lalu waktu hanya mengubah jarak, bukan maknanya.
Yang membuat percakapan itu terasa semakin dalam adalah ketika beliau mengatakan bahwa saat menelepon, beliau sedang berada di masjid, menunggu salat Jumat. Lalu terdengar kalimat beliau, “Ini Bapak di depan sajadah Yudh!” Kalimat sederhana itu seketika membuat percakapan kami memiliki ruang yang berbeda. Seorang guru yang pernah berdiri di depan kelas puluhan tahun silam, kini sedang berada di hadapan sajadah, dan dari tempat itu menyapa salah seorang muridnya yang telah menempuh perjalanan hidup begitu panjang.
Saya pun meminta didoakan secara khusus dari beliau. Bukan sekadar doa agar diberi kesehatan, tetapi agar kesehatan itu menjadi jalan menuju umur yang berkah, sebagaimana beliau telah dianugerahi usia dan perjalanan hidup yang panjang. Ada doa yang terasa lebih teduh ketika keluar dari lisan seorang guru. Di dalamnya bukan hanya terdapat kata-kata, melainkan juga jejak kasih yang pernah diberikan jauh sebelum kita memahami arti sebuah kebaikan.
Si murid yang dahulu masih kanak-kanak, kini pun telah menua. Waktu rupanya tidak hanya mengubah rambut, wajah, dan langkah, tetapi juga memperlihatkan betapa panjang perjalanan yang telah dilalui sejak seorang anak duduk di bangku sekolah dan memandang gurunya sebagai sosok yang jauh lebih besar daripada dirinya. Kini jarak itu terasa berbeda. Guru dan murid sama-sama telah melewati banyak musim kehidupan, dan sebuah telepon sederhana mempertemukan keduanya dalam kesadaran bahwa usia adalah perjalanan yang diam-diam terus bergerak.
Telepon, yang sering kita anggap sebagai benda biasa, ternyata dapat menjadi nikmat yang besar. Ia dapat mempertemukan dua manusia yang terpisah puluhan tahun, menghadirkan kembali suara yang hampir hanya tinggal dalam ingatan, dan membawa kabar baik dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Teknologi memang menghubungkan suara, tetapi yang membuat sebuah percakapan menjadi berarti bukanlah teknologinya. Ada kasih, penghormatan, kenangan, dan doa yang menjadikan suara itu sampai lebih jauh daripada sekadar telinga.
Hari ini saya kembali memahami bahwa nikmat Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan mudah dikenali. Kadang ia hadir sebagai dering telepon pada pagi hari. Kadang berupa suara seorang guru yang masih mengingat muridnya setelah puluhan tahun. Kadang berupa sebuah kalimat sederhana dari depan sajadah. Dan kadang, nikmat itu berupa kesempatan untuk meminta doa kepada seseorang yang dahulu pernah mengajarkan kita, tanpa banyak menyadari bahwa sebagian perjalanan hidup kita tumbuh dari kebaikan yang pernah ia tanamkan.
“Pak Tjetje yang saya muliakan, saya pun menulis ini di hadapan sajadah, selepas salat Jumat. Di rumah Allah juga, sebagaimana Bapak tadi menunggu salat, saya ingin mengirimkan rasa hormat saya melalui doa.”
Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan kepada Bapak Tjetje Sumartana, melapangkan langkah Bapak dalam perjalanan usia yang masih dianugerahkan-Nya, menenteramkan hati, menguatkan tubuh, serta menjadikan setiap hari sebagai umur yang penuh keberkahan. Semoga segala ilmu, perhatian, dan kebaikan yang pernah Bapak tanamkan kepada murid-murid Bapak menjadi amal yang terus mengalir, menjadi cahaya dalam perjalanan Bapak, dan menjadi bagian dari catatan kebaikan di sisi Allah. Dari seorang murid yang dahulu masih kanak-kanak dan kini pun telah menua, terimalah simpuh hormat dan terima kasih yang mungkin tidak pernah cukup terucapkan. Semoga Allah menjaga Bapak selalu dalam kasih sayang-Nya, memanjangkan usia dalam kesehatan dan keberkahan, mengampuni segala khilaf, menerima seluruh amal baik, serta mempertemukan kita kembali dalam keadaan sehat, tenteram, dan berada dalam ridha-Nya.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Kontak Telepon Itu Nikmat yang Besar: Simpuh Terdalam untuk Bapak Tjetje Sumartana
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












