MajmusSunda News, Sabtu (12/09/2026) – Malam ini saya kembali berhadapan dengan sesuatu yang sesungguhnya telah lama saya ketahui, tetapi rupanya belum selesai saya pahami. Semakin banyak buku dibaca, semakin panjang daftar bacaan yang belum tersentuh. Semakin lama mengajar, semakin terasa bahwa satu pertanyaan mahasiswa dapat membuka ruang berpikir yang tidak tersedia dalam catatan kuliah. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan ilmu, manusia tetap dapat mencari sesuatu yang ternyata berada sangat dekat dengan dirinya sendiri. Kita dapat berbicara tentang banyak hal, membangun teori, dan menjelaskan berbagai persoalan, tetapi masih berkeliling mencari kacamata yang ternyata terselip di tempat sederhana. Gelar akademik, setinggi apa pun, rupanya belum menyediakan mata kuliah tentang benda-benda yang berpindah tempat tanpa mengikuti rapat akademik. Sesekali ilmu memang mengajak manusia tersenyum kepada keterbatasan dirinya.
Padahal manusia bukan makhluk yang miskin kemampuan mengetahui. Al-Qur’an menggambarkan manusia dalam ahsani taqwim, dengan akal, bahasa, daya pikir, dan kemampuan membangun pengetahuan. Dari sana lahir filsafat, sains, matematika, logika, teknologi, dan berbagai cabang ilmu lainnya. Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mencari kebenaran. Namun kesempurnaan penciptaan tidak berarti kesempurnaan pengetahuan. Manusia diberi kemampuan untuk mencari, bukan seluruh jawaban dalam sekali genggam.
Ilmu justru memperlihatkan betapa luas wilayah yang belum kita ketahui. Satu jawaban melahirkan pertanyaan baru. Satu penelitian membuka penelitian berikutnya. Teori membantu kita membaca kenyataan, tetapi kenyataan tidak selalu sesederhana teori yang kita buat. Dalam dunia akademik kita membutuhkan konsep, data, dan metode agar keyakinan tidak terlalu cepat menyebut dirinya sebagai pengetahuan. Namun kasih sayang tidak selalu selesai dalam angka, ketulusan tidak selalu dapat diberi skor, dan kesabaran kadang justru terlihat ketika menghadapi antrean panjang, internet yang lambat, atau pesan yang dibaca tanpa balasan.
Di luar ruang kelas, ilmu bertemu manusia dalam bentuknya yang paling nyata. Orang yang memahami teori pengendalian emosi masih dapat terganggu oleh perkara kecil. Pengajar manajemen waktu masih dapat kehilangan waktu ketika mencari sesuatu yang sejak tadi berada di dekatnya. Orang yang berbicara tentang keseimbangan hidup terkadang mendapati meja kerjanya sendiri membutuhkan perhatian. Semua itu bukan kegagalan ilmu. Justru di sanalah ilmu menjadi bahan untuk bercermin. Memahami manusia secara ilmiah tidak otomatis membuat seseorang selesai menjadi manusia.
Kisah kacamata tadi membawa kita kepada persoalan yang lebih dalam. Untuk menemukannya, kita tidak membutuhkan filsafat yang rumit, perhitungan yang panjang, atau kecerdasan buatan. Kita hanya perlu melihat dengan benar. Mengetahui ternyata bukan sekadar memiliki alat untuk mengetahui. Ada keterbatasan pada pengamatan, pengalaman, ingatan, dan cara kita memahami kenyataan. Karena itu, kemampuan mengatakan “belum tahu” bukan kelemahan ilmu. Justru di situlah ilmu menunjukkan kedewasaannya. Batas pengetahuan bukan musuh ilmu. Ia mengajarkan manusia untuk berhati-hati.
Kesadaran itu membawa kita kepada Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Isra ayat 85, ketika manusia diingatkan bahwa pengetahuan yang diberikan kepadanya hanyalah sedikit. Ayat itu tidak merendahkan manusia. Ia justru menempatkan kemampuan manusia pada proporsi yang sehat. Kita tetap membaca, meneliti, menguji, membangun teori, dan mengembangkan teknologi. Namun semua itu berlangsung dalam kesadaran bahwa manusia bukan pemilik seluruh jawaban. Karena pengetahuan kita terbatas, kita membutuhkan metode. Karena pengamatan kita terbatas, kita membutuhkan alat. Karena penalaran kita dapat keliru, kita membutuhkan kritik. Dan karena kemampuan kita memiliki batas, ilmu membutuhkan kerendahan hati.
Maka perjalanan ilmu bukan perjalanan menuju suatu titik ketika manusia dapat berkata bahwa seluruh pertanyaan telah selesai. Filsafat menjaga kita untuk terus bertanya. Sains mengajarkan kita agar tidak sembarang menjawab. Pengalaman mengingatkan bahwa kenyataan sering lebih luas daripada apa yang kita pahami. Wahyu mengingatkan bahwa seluruh pengetahuan manusia tetap berada dalam keluasan pengetahuan Allah. Kacamata akhirnya ditemukan bukan melalui teori yang rumit, tetapi setelah mata bersedia melihat kembali ke tempat yang sederhana. Justru di situlah pelajaran kecil itu menjadi besar. Manusia memang diciptakan dengan kemampuan mengetahui yang luar biasa, tetapi tidak diberi seluruh pengetahuan. Sebab ilmu tidak membuat kita selesai. Ilmu membuat kita semakin sadar bahwa perjalanan mengetahui masih panjang.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Ilmu Tidak Membuat Kita Selesai
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












