MajmusSunda News, Rabu (26/08/2026) – Memasuki usia di atas lima puluh, tubuh mulai mempunyai cara sendiri memberi tahu bahwa waktu telah berjalan cukup jauh. Badan sesekali terasa “greges”, istilah yang akrab dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan rasa meriang, tidak enak badan, pegal, atau tubuh yang terasa kurang nyaman. Dalam bahasa kedokteran, keluhan semacam ini dapat berada dalam rentang *_malaise_, yaitu rasa tidak enak badan secara umum yang sering disertai kelelahan. Istilahnya boleh berbeda, tetapi yang dirasakan tetap sama, tubuh seperti meminta sedikit perhatian. Kita tahu perubahan seperti ini dapat menjadi bagian dari perjalanan usia. Namun ketika mulai dirasakan sendiri, tetap saja ada sedikit rasa was-was. Rupanya memahami bahwa sesuatu itu natural tidak selalu membuat hati sepenuhnya tenang.
Rutinitas di kampus, pekerjaan akademik yang tidak pernah benar-benar selesai, membaca, menulis, mengajar, membimbing, menghadiri berbagai pertemuan, hingga tugas-tugas tambahan yang berkaitan dengan urusan negara, semuanya membutuhkan energi, bukan hanya tenaga lahir, tetapi juga pikiran dan batin. Dulu semua itu seperti bagian biasa dari kehidupan. Kini tubuh mulai memberi tanda bahwa sesuatu yang dahulu dapat dijalani dengan ringan, perlahan membutuhkan jeda. Bukan berarti tubuh berhenti menjadi sahabat, justru ia seperti sedang berbicara lebih jujur, bahwa ada batas yang dahulu belum kita kenal.
Ikhtiar pun dilakukan. Kadang cukup mampir ke warung jamu di pinggir jalan, mencari sesuatu yang barangkali dapat membuat badan terasa lebih enak. Ketika keluhan tidak juga reda, langkah pun berlanjut ke tempat yang lebih serius, memeriksakan diri kepada dokter, bahkan sampai ke rumah sakit bila diperlukan. Semua itu bagian dari ikhtiar. Makan lebih teratur, beristirahat, bergerak, menjaga pikiran, dan memeriksakan kesehatan tetap penting. Tubuh adalah amanah yang layak dirawat. Tetapi ikhtiar tidak berarti kita dapat menawar seluruh ketentuan kehidupan. Kita dapat menjaga kesehatan, tetapi tidak menghentikan usia. Kita dapat memperpanjang kebugaran, tetapi tidak mengembalikan tubuh seperti ketika berumur dua puluh. Ada wilayah kehidupan yang berada dalam ikhtiar kita, dan ada wilayah yang mengajarkan keterbatasan.
Di antara ikhtiar dan keterbatasan itu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Kita ingin tetap tenang, tetapi tidak selalu bisa. Ada hari ketika badan terasa kurang nyaman lalu pikiran ikut bertanya-tanya. Saya kira itu bagian dari menjadi manusia. Tidak semua kekhawatiran harus dianggap sebagai kelemahan. Ada kekhawatiran yang justru membuat seseorang lebih menjaga diri, menghargai kesehatan, lebih dekat dengan keluarga, dan lebih berhati-hati menggunakan waktu.
Pada usia seperti ini, menerima perubahan tubuh bukan berarti menyerah. Pasrah dan berserah diri bukanlah hal yang sama. Kita menjaga tubuh karena ia titipan, berobat ketika sakit, dan memperbaiki kebiasaan yang kurang baik. Tetapi setelah semua yang dapat dilakukan dikerjakan, masih ada bagian kehidupan yang harus diterima dengan lapang.
Bertambahnya umur bukan hanya tentang berkurangnya masa depan dunia, tetapi juga bertambahnya kesempatan memperbaiki apa yang dahulu keliru. Masih ada waktu untuk meminta maaf, menyelesaikan tanggung jawab, membahagiakan orang yang kita cintai, memperbanyak kebaikan, dan mengurangi hal-hal yang tidak perlu dibawa terlalu jauh. Kesadaran bahwa perjalanan dunia memiliki batas pun tidak harus membuat hati gelisah. Ia justru membuat kita lebih menghargai hari yang masih diberikan, karena setiap hari adalah kesempatan yang tidak datang dua kali.
Maka ketika pagi datang bersama badan yang greges, pegal yang sedikit lebih lama, tenaga yang cepat berkurang, atau emosi yang sesekali sulit dikendalikan, saya mencoba melihatnya dengan lebih tenang. Tubuh sedang menua, dan menua adalah bagian dari kehidupan. Ia perlu dirawat, diikhtiarkan, sekaligus diterima. Di balik semua perubahan itu ada kesadaran yang semakin sulit diabaikan, bahwa perjalanan ini memang memiliki batas. Bukan ingin segera sampai, hanya tahu bahwa setiap hamba akan tiba pada waktunya. Maka yang lebih penting adalah menikmati hari-hari yang masih diberikan, menjaga tubuh yang masih dipercayakan, memperbaiki yang masih dapat diperbaiki, dan menjalani kehidupan dengan lebih ringan dengan rasa syukur.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Greges: Ketika Usia Mulai Berbicara
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












