Majelis Musyawarah Sunda Bukan Sekadar untuk Dikenal Masyarakat

Oleh : Kang Eep

MajmusSunda News, Sabtu (13/06/2026) – Secara umum, organisasi yang tumbuh dari bawah atau bottom-up biasanya lebih kuat secara sosial. Ia tidak hanya berdiri karena keputusan beberapa orang, tetapi tumbuh karena keterlibatan, kepercayaan, pengorbanan, dan rasa memiliki dari banyak pihak.

Tokoh tentu tetap penting. Dalam banyak keadaan, tokoh bisa menjadi penggerak awal, pembuka jalan, pemberi arah, dan penguat legitimasi. Tetapi organisasi besar tidak lahir dari ketokohan semata. Organisasi yang sehat tidak cukup hanya memiliki tokoh yang kuat. Ia juga harus memiliki akar yang kuat.

Organisasi yang dibangun dari atas atau top-down biasanya lebih cepat terbentuk. Ada tokoh, ada deklarasi, ada struktur, ada nama besar, dan ada keputusan yang tampak rapi sejak awal. Kelebihannya jelas: cepat, tertib di permukaan, mudah dikendalikan, dan mudah diperlihatkan kepada publik.

Dindin S. Maolani, S.H. Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda – (Sumber: MMS)

Kelemahannya juga jelas. Organisasi seperti ini sering terlalu bergantung pada figur. Ketika figur melemah, berkonflik, tidak aktif, atau tidak lagi dipercaya, organisasi ikut melemah. Orang-orang di bawah sering merasa hanya “diajak hadir”, bukan “ikut memiliki”. Mereka hadir sebagai pendukung, tetapi belum tentu merasa menjadi bagian dari fondasi.

Organisasi yang dibangun dari bawah biasanya lebih lambat. Prosesnya lebih panjang. Perlu mendengar lebih banyak pihak. Perlu menyamakan pemahaman. Perlu merapikan perbedaan. Perlu membangun kepercayaan sedikit demi sedikit.

Proses yang panjang itu justru membuat organisasi lebih tahan. Orang-orang yang terlibat merasa ikut melahirkan, ikut menentukan, ikut berkorban, dan ikut bertanggung jawab. Dari proses seperti itu lahir ownership. Dalam organisasi sosial dan kultural seperti Majelis Musyawarah Sunda atau MMS, ownership jauh lebih penting daripada sekadar SK, jabatan, atau struktur.

Logo Majelis Musyawarah Sunda – (Sumber: MMS)

 

Gerakan yang kuat bukan dibangun oleh banyak orang yang ingin menjadi buah, tetapi oleh cukup banyak orang yang bersedia menjadi akar.

Buah itu tampak. Buah mudah dilihat. Buah sering menjadi pusat perhatian. Tetapi pohon tidak hidup karena buah. Pohon hidup karena akar.

Dalam konteks MMS, akar rumput tidak boleh dimaknai hanya sebagai banyaknya dukungan sosial, banyaknya tokoh yang hadir, atau banyaknya stakeholder yang menyatakan setuju. Akar harus dimaknai lebih dalam sebagai kesediaan ikut menyangga. Menyangga dengan pikiran, tenaga, jaringan, fasilitas, legitimasi, dan juga dana.

Setidaknya ada tiga jenis akar yang perlu dibangun oleh MMS.
1. *Akar sosial*
Akar sosial berarti banyak pihak merasa bahwa MMS adalah ruang bersama, bukan milik satu kelompok, satu lingkaran, atau satu figur tertentu. Masyarakat Sunda, komunitas, lembaga, akademisi, saudagar, budayawan, pemuda, perempuan, profesional, dan tokoh daerah perlu merasa bahwa MMS adalah tempat bersama untuk memikirkan masa depan Sunda.

2. *Akar moral dan kultural*
Akar moral dan kultural berarti MMS dipercaya karena membawa nilai, bukan sekadar membawa agenda. MMS harus berdiri di atas papagon, etika, kehormatan, dan tanggung jawab kultural. Orang mendukung MMS bukan karena berharap proyek, jabatan, atau panggung, tetapi karena percaya bahwa MMS sedang menjaga martabat dan masa depan Sunda.

3. *Akar material atau finansial*
Akar material atau finansial sering sensitif untuk dibicarakan, tetapi tidak boleh dihindari. Organisasi yang sehat tidak cukup hanya memiliki simpatisan. Simpatisan bisa membuat acara ramai. Akar penyokong dana membuat organisasi bisa bekerja sepanjang waktu. Tanpa dukungan material yang tertib, gerakan mudah bergantung pada belas kasihan sesaat, sponsor sesaat, atau kemurahan hati figur tertentu.

Dari sini terlihat perbedaan antara organisasi yang sehat dan organisasi yang rapuh. Organisasi yang hanya punya simpatisan bisa ramai saat acara. Organisasi yang punya akar penyokong dana bisa bekerja sepanjang waktu.

Akar rumput dalam MMS sebaiknya dimaknai bukan hanya sebagai basis dukungan, tetapi sebagai basis pengorbanan. Yang dicari bukan sebanyak-banyaknya orang yang ingin menikmati buah, tetapi sebanyak-banyaknya orang yang siap menjadi akar.

Akar tidak bisa diperoleh hanya dengan pengumuman. Akar tidak tumbuh hanya karena deklarasi. Akar tidak lahir hanya karena undangan hadir. Akar tumbuh lewat konsolidasi yang sabar, bertahap, dan menyentuh para pihak secara langsung.

Akar tidak dicari dengan cara mobilisasi, tetapi dibentuk melalui konsolidasi.

Mobilisasi hanya mengumpulkan orang agar hadir. Konsolidasi membangun orang agar percaya. Mobilisasi menghasilkan keramaian. Konsolidasi menghasilkan tanggung jawab. Mobilisasi sering selesai ketika acara selesai. Konsolidasi justru bekerja sebelum acara, saat acara, dan setelah acara.

MMS tidak boleh hanya mencari buah berupa acara besar, panggung besar, atau pengakuan besar. MMS harus lebih dulu menumbuhkan akar melalui konsolidasi para pihak. Dari akar sosial, akar moral-kultural, dan akar material-finansial itulah gerakan Sunda bisa tumbuh kuat.

Tanpa konsolidasi, dukungan hanya menjadi tepuk tangan. Dengan konsolidasi, dukungan berubah menjadi tanggung jawab.

Publikasi di media massa tetap penting. Publikasi membuat MMS dikenal. Publikasi membuka pintu. Publikasi membantu masyarakat mengetahui bahwa ada ruang musyawarah Sunda yang sedang berpikir, bergerak, dan bekerja.

Tetapi dikenal saja tidak cukup.

Yang ingin dibangun bukan sekadar “orang tahu MMS”. Yang ingin dibangun adalah orang percaya kepada MMS, merasa menjadi bagian dari MMS, lalu bersedia ikut menyangga MMS.

MMS harus tumbuh menjadi rumah besar urang Sunda. Rumah tempat urang Sunda berkumpul, berteduh, bermusyawarah, dan merasa memiliki tempat kembali. Bukan hanya rumah yang besar namanya, bukan hanya rumah yang sering disebut di media, tetapi rumah yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh urang Sunda.

Rumah besar itu harus memberi rasa. Urang Sunda perlu merasa bahwa ada ruang yang mendengar kegelisahannya, membaca persoalannya, memperjuangkan nasibnya, dan melindungi martabatnya. MMS tidak boleh berhenti sebagai nama yang dikenal. MMS harus menjadi kehadiran yang dirasakan.

MMS harus menjadi hamparan bagi urang Sunda berpijak. Hamparan yang langgeng, teduh, dan dapat dipercaya. Tempat nilai dijaga, pikiran dihimpun, kekuatan dikonsolidasikan, dan ikhtiar bersama dijalankan. Dengan cara itu, MMS bukan hanya dikenal oleh masyarakat, tetapi dirasakan sebagai ruang perlindungan, perjuangan, dan pengharapan bersama.

Konsolidasi adalah kerja utama. Bukan hanya silaturahmi. Bukan hanya mengabarkan kegiatan. Konsolidasi adalah proses membangun kepercayaan, menyamakan pemahaman, dan mengubah dukungan menjadi tanggung jawab.

Ada beberapa fungsi penting konsolidasi bagi MMS.
1. *Membangun kepercayaan*
Para pihak perlu memahami bahwa MMS memiliki niat baik, arah yang jelas, dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan. Kepercayaan tidak cukup dibangun dengan kata-kata. Ia harus dibuktikan dengan sikap, keputusan, cara kerja, dan konsistensi.

2. *Menyamakan persepsi dan pemahaman*
Banyak orang bisa sama-sama mencintai Sunda, tetapi belum tentu memahami MMS dengan cara yang sama. Ada yang melihat MMS sebagai organisasi massa. Ada yang melihatnya sebagai forum tokoh. Ada yang melihatnya sebagai gerakan budaya. Ada yang mungkin curiga bahwa MMS punya agenda politik tertentu. Konsolidasi diperlukan untuk menjelaskan posisi, batas, fungsi, dan arah MMS secara jernih.

3. *Mengubah simpati menjadi komitmen*
Simpati itu mudah. Orang bisa berkata mendukung. Orang bisa memuji. Orang bisa hadir sesekali. Komitmen lebih dalam daripada simpati. Komitmen berarti siap ikut bekerja, ikut berpikir, ikut membuka jaringan, ikut menanggung biaya, dan ikut menjaga gerakan.

4. *Membentuk rasa memiliki*
Orang tidak akan menjadi akar kalau hanya dijadikan penonton. Orang tidak akan menyangga kalau hanya diminta hadir. Rasa memiliki tumbuh ketika orang dilibatkan secara bermartabat, didengar pendapatnya, diberi ruang kontribusi, dan melihat bahwa dukungannya benar-benar berarti.

5. *Menentukan bentuk dukungan*
Tidak semua pihak harus mendukung dengan cara yang sama. Ada yang kuat dalam pikiran. Ada yang kuat dalam jaringan. Ada yang kuat dalam legitimasi. Ada yang kuat dalam fasilitas. Ada yang kuat dalam komunikasi. Ada yang kuat dalam dana. Konsolidasi harus mampu memetakan bentuk dukungan itu secara realistis dan tertib.

Konsolidasi saja belum cukup. Agar layak dipercaya dan disangga, MMS harus mampu menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya ruang bicara, tetapi juga ruang kerja. Bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga tempat mengelola tanggung jawab.

Ada beberapa hal yang harus mampu dibangun oleh MMS.
1. *Program yang nyata*
Gerakan tidak boleh berhenti pada wacana. Harus ada agenda yang bisa dikerjakan, diukur, dilaporkan, dan dirasakan manfaatnya. Program yang nyata membuat publikasi tidak kosong, dan konsolidasi tidak berhenti sebagai percakapan.

2. *Akuntabilitas*
Kalau ingin disokong bersama, MMS harus berani melaporkan kerja bersama. Bukan hanya melaporkan keberhasilan, tetapi juga melaporkan proses, kendala, kebutuhan, dan penggunaan sumber daya. Akuntabilitas menjadi syarat agar sokongan tidak berubah menjadi kecurigaan.

3. *Tata kelola yang tertib*
Siapa mengambil keputusan, siapa menjalankan program, siapa bicara atas nama MMS, bagaimana dana dikelola, bagaimana laporan dibuat, dan bagaimana kewenangan dibatasi, semuanya harus jelas. Gerakan yang ingin disangga banyak pihak tidak boleh dikelola secara kabur.

4. *Kaderisasi dan regenerasi*
Gerakan yang hanya bertumpu pada tokoh akan rapuh. Tokoh penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber hidup organisasi. MMS harus menyiapkan orang-orang baru yang memahami nilai, mampu bekerja, mau belajar, dan siap melanjutkan tanggung jawab.

Persoalan utama MMS bukan sekadar bagaimana agar MMS dikenal masyarakat. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana agar MMS dipercaya, dirasakan sebagai milik bersama, disangga bersama, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh urang Sunda.

Dikenal itu penting, tetapi belum cukup.
Dipercaya lebih penting.
Dimiliki lebih dalam.
Disangga lebih nyata.
Dirasakan manfaatnya lebih menentukan.

Majelis Musyawarah Sunda tidak boleh hanya menjadi nama yang diketahui. MMS harus menjadi gerakan yang dipercaya. MMS harus menjadi ruang yang dirasakan sebagai milik bersama. Lebih dari itu, MMS harus menjadi rumah besar urang Sunda: tempat berkumpul, tempat berteduh, tempat berpijak, dan tempat bersama-sama memperjuangkan masa depan Sunda.

Sebab pada akhirnya, gerakan yang kuat bukan gerakan yang paling ramai buahnya, tetapi gerakan yang paling sehat akarnya. Rumah besar yang langgeng bukan rumah yang hanya megah tampak luarnya, tetapi rumah yang benar-benar membuat penghuninya merasa terlindungi, memiliki tempat berpijak, dan punya harapan untuk diperjuangkan.

Versi ini sudah lebih aman dari frasa templat. Saya juga menyelaraskan bagian “tiga akar” agar tidak melebar tiba-tiba menjadi empat akar, dan merapikan bagian rumah besar supaya tidak terlalu patah-patah.

Catatan akhir pekan: agar MMS dipercaya, dirasakan sebagai milik bersama, dan disangga bersama.

Arcamanik, 13 Juni 2026
Salam, Kang Eep

***

Judul: Majelis Musyawarah Sunda Bukan Sekadar untuk Dikenal Masyarakat
Penulis: Kang Eep
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *