Bangsa yang Terbebas Impor Beras

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (03/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Bangsa yang Terbebas Impor Beras ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Penetapan beras sebagai komoditas politis dan strategis, bukanlah tanpa alasan. Pemerintah tahu persis, beras merupakan kebutuhan pokok sebagian besar warga bangsa. Beras inilah yang menyambungkan nyawa kehidupan masyarakat dari hari ke harinya. Itu sebabnya, beras harus selalu tersedia sepanjang waktu. Tidak boleh sedetik pun bangsa ini kehilangan beras.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Posisi beras dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat selama ini, memang belum mampu terbebas dari impor. Sekalipun sudah berulangkali bangsa ini meraih predikat swasembada beras, namum secara formal, baru pada tahun 2025, Pemerintah berani mengumumkan dengan pasti bahwa sejak saat itu Indonesia bakal menyetop impor beras untuk selamanya.

Pertanyaan kritisnya adalah apakah benar bangsa kita akan menghentikan impor beras sejak tahun lalu ? Apakah Pemerintah telah memiliki jurus ampuh, agar kita tidak mengulang kembali pengalaman masa lalu, dimana setelah mengumumkan pencapaian swasembada beras, maka dalam bulan-bulan berikutnya, lagi-lagi Pemerintah membuka kembali kran impor beras ?

Pemerintahan Presiden Prabowo tentu ingin tampil beda dengan pemerintahan sebelumnya. Presiden ingin agar swasembada beras yang diraih, tidak lagi bersifat swasembada beras “on trend”, namun sudah sepatutnya dirancang dan diarahkan menjadi swasembada beras berkelanjutan. Tidak lagi bersifat swasembada beras kadang-kadang.

Mewujudkan suasana swasembada beras berkelanjutan dan tidak lagi “on trend”, bukanlah hal yang cukup mudah untuk dicapai. Hal ini sama susahnya, kalau bangsa ini ingin membebaskan petani gurem dan petani buruh dari jeratan kemiskinan yang tak berujung pangkal. Tidak juga semudah kita memberi acungan jempol atas prestasi seseorang yang dicapainya.
Skenario mewujudkan swasembada beras yang berkelanjutan butuh strategi dan kebijakan khusus yang disiapkan sedemikian rupa, sehingga secara teknokratif dan pengalaman yang ada, dapat dipertanggungjawabkan. Kita ingin supaya Pemerintah merumuskan Grand Desain Pencapaian Swasembada Beras Berkelanjuran, lengkap dengan Roadmapnya.

Menyiapkan grand design (desain induk) pencapaian swasembada beras berkelanjutan memerlukan pendekatan sistemik dari hulu hingga hilir. Dokumen strategis ini harus mampu menjaga produksi nasional tetap tinggi sekaligus ramah lingkungan dalam jangka panjang. Berikut adalah langkah-langkah terstruktur dalam menyusun grand design tersebut:

Yang utama, perlunya pemetaan potensi dan audit lahan (Hulu). Menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk mencegah alih fungsi lahan menjadi perumahan atau industri. Selain itu, memetakan kondisi unsur hara tanah secara digital di setiap wilayah guna menentukan dosis pupuk yang tepat. Juga memanfaatkan lahan rawa, pasang surut, dan tadah hujan melalui teknologi adaptif.

Selanjutnya, peningkatan produktivitas berbasis teknologi (On-Farm). Pemuliaan Benih Unggul dengan mengembangkan varietas padi yang tahan kekeringan, tahan banjir (padi amfibi), dan tahan terhadap hama penyakit baru. Kemudian, membangun waduk dan sistem irigasi pintar (smart irrigation) berbasis IoT untuk menghemat penggunaan air. Dan menyediakan alat mesin pertanian (alsintan) modern, seperti drone penebar pupuk dan combine harvester, untuk menekan angka kehilangan hasil (losses).

Kemudian, pembenahan kelembagaan dan kesejahteraan petani. Mengonsolidasikan lahan-lahan kecil milik petani ke dalam satu manajemen korporasi (seperti koperasi besar) agar efisien.** Regenerasi Petani:** Mengintegrasikan program smart farming untuk menarik minat generasi muda (petani milenial). Lalu, memperluas cakupan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk melindungi petani dari risiko gagal panen akibat perubahan iklim.

Penting juga efisiensi pascapanen dan tata niaga (Hilir). Meningkatkan teknologi penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) kecil di desa-desa agar kualitas beras meningkat dan rendemennya tinggi. Membangun pusat penyimpanan (silo) modern yang dilengkapi pengontrol suhu untuk memperpanjang masa simpan beras cadangan. Dan Memanfaatkan big data untuk memantau stok, distribusi, dan pergerakan harga beras secara real-time antarwilayah.

Akhirnya penting diingatkan swasembada beras berkelanjutan artinya kemampuan suatu negara/daerah untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negerinya sendiri, tanpa impor, tapi dengan cara yang bisa terus dijaga jangka panjang. Kata kuncinya ada 2 hal yaitu pertama swasembada beras. Artinya, produksi beras nasional ≥ kebutuhan konsumsi nasional. Jadi tidak tergantung impor beras dari negara lain. Tujuannya untuk ketahanan pangan dan harga yang lebih stabil.
Kedua, berkelanjutan. Produksinya tidak mengorbankan masa depan. Jadi bukan “genjot hasil sekarang tapi tanah rusak nanti”.

Ada 3 pilar penopang nya yakni
lingkungan. Tanah tidak rusak karena pupuk kimia berlebihan. Air irigasi dipakai efisien, tidak boros. Mengurangi emisi dari pembakaran jerami dan penggunaan pestisida. Juga menjaga keanekaragaman varietas padi lokal supaya tidak punah

Selanjutnya, ekonomi: Petani dapat untung layak, bukan rugi tiap musim tanam. Biaya produksi ditekan dengan teknologi tepat guna: benih unggul, mekanisasi, digitalisasi. Rantai pasok dari sawah ke konsumen dipangkas supaya harga tidak anjlok di petani & tidak mahal di konsumen

Terakhir pilar sosial yaitu regenerasi petani muda tetap ada. Lahan sawah tidak terus alih fungsi jadi perumahan/pabrik. Dan sistemnya inklusif: petani kecil juga kebagian akses pupuk, benih, dan pasar

Sekarang, apa bedanya dengan “swasembada biasa” ? Swasembada biasa fokusnya: “pokoknya cukup beras tahun ini”. Swasembada berkelanjutan ditambah pertanyaan: “tahun depan, 10 tahun lagi, dan 30 tahun lagi tanahnya masih subur tidak ? Petaninya masih mau nanam tidak ? Jawaban itulah faktor penentu utamanya. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI)

***

Judul: Bangsa yang Terbebas Impor Beras
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *