MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (03/09/2026) – Pada hari Ahad tanggal 30 Agustus 2026, Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) menerima kunjungan seorang seniman lukis asal Tokyo Jepang bernama Natsumi Dorothy Ito. Kedatangan Natsumi Dorothy Ito ke markas YBVS tersebut, didampingi oleh Mufid Sururi yang merupakan seorang seniman musik dan sekaligus aktifis pelestarian dan pengembangan pohon saeh (Broussonetia papyrifera) asal Bandung.
Adapun pohon saeh itu sendiri merupakan pohon yang memiliki manfaat pada masa silam sebagai bahan baku dalam pembuatan daluang (kertas). Bagian yang digunakannya dari pohon saeh tersebut, adalah kulit batang pohonnya yang kemudian disayat dan diambil dari seluruh diameter lingkarannya dengan panjang tertentu sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya bagian kulit batang pohon tersebut, dipipihkan secara bertahap dan hati-hati dengan menggunakan alat bantu berupa palu kayu.
Pada tahun 2026 ini, Natsumi Dorothy Ito sedang melakukan kegiatan residensi seni di bawah mentoring yang dilakukan Mufid Sururi. Kegiatan residensi yang dilakukan Natsumi Dorothy Ito di tempat workshop Mufid Sururi tersebut, merupakan kali kedua setelah sebelumnya pada tahun 2025 juga sempat dilakiukannya.
Seperti halnya kegiatan pelestarian dan pengembangan tumbuhan tarum di Tatar Sunda yang dilakukan oleh Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) melalui unit khusus Pataruman – Indigo Experimental Station, demikian juga dengan kegiatan pelestarian dan pengembangan pohon saeh yang dilakukan oleh Mufid Sururi. Sebenarnya memiliki nasib yang sama, yakni tumbuhan dan pohonnya sempat terancam punah dan budaya pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat Sunda terhadap tumbuhan dan pohon tersebut, juga nyaris terputus dan kemusnah kesinambungannya.
Khusus dalam kegiatan residensi kedua tersebut, Mufid Sururi mencoba menstimulasi proses kreatif kekaryaan Natsumi Dorothy Ito dengan mempertemukan pohon saeh dan daluang yang dihasilkannya dengan tumbuhan tarum khususnya dari jenis tarum areuy (Marsdenia tinctoria) dan zat pewarna biru alami (nila) yang dihasilkannya. Apalagi merurut keterangan Mufid Sururi, bahwa daluang yang dihasilkan dari pohon saeh tersebut, juga digunakan juga sebagai bahan pakaian dan berbagai jenis pelengkap pakaian sebagaimana yang dicatatkan dalam naskah Sunda Kuno Sanghiyang Swawarcinta abad ke-16, yakni “Daluwang kulit ning kayu, upakara[ng] ning busana, cangcut baju pangadua, tipulung sampit bahiri” (Daluwang kulit kayu, perlengkapan pakaian, cawat, baju, celana, ikat kepala, selempang, bahiri).

Kedatangan Mufid Sururi dan Natsumi Dorothy Ito disambut oleh Chye Retty Isnendes (Pembina YBVS), Gelar Taufiq Kusumawardhana (Ketua YBVS), Deni Ramdani (Direktur Pataruman), Lalitya Dwi Rachma (pengurus Pataruman), dan Nugraha Budi Ramdani (pengurus Pataruman). Dalam kesempatan tersebut, Mufid Sururi memberikan pohon saeh kepada Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) yang diterima secara langsung oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana (Ketua YBVS) sebagai tanda persahabatan, semangat pelestarian dan idealisme kreatif dalam bidang seni dan kebudayaan.
Adapun Chye Retty Isnendes (Pembina YBVS) memberikan gambaran adanya kedekatan hubungan kebudayaan antara Jepang dan Indonesia, seperti halnya dengan apa yang sedang ditelitinya pada kali ini. Yakni adanya pengaruh langgam puisi khas Jepang “Haiku” terhadap perkembangan puisi Sunda modern. Selain itu Chye Retty Isnendes yang merupakan guru besar Universitas Pendidikan Indonesia dengan kepakaran pada bidang Antropologi Sastra menjelaskan terkait dengan warna biru dalam lintasan sejarah kebudayaan Sunda, mulai dari sudut pandang tradisi lisan (folklore) hingga naskah Sunda Kuno Bujangga Manik abad ke-15 sebagaimana yang terekam dalam kalimat “Neuleum Nyuar Nyangkuduan”. Adapun neuleum artinya mewarnai benang, kain, pakaian supaya biru dengan menggunakan zat pewarna biru alami dari bahan baku tumbuhan nila yang bersinonim dengan tarum.
Demikian juga dengan Deni Ramdani (Direktur Pataruman) yang menyatakan harapannya agar suatu hari nanti kegiatan Pataruman – Indigo Experimental Station yang berfokus pada revitalisasi budaya tarum areuy (Marsdenia tinctoria) dan tarum siki (Indigofera tinctoria) bisa terhubung dengan para praktisi indigo di Jepang yang berfokus pada tarum jenis Tade-ai (Persicaria tinctoria/Polygonum tinctorium) dan Ryukyu-ai (Strobilanthes cusia) yang mana aspek kebudayaannya bisa dinilai berkesinambungan, mampu memelihara basis tradisionalnmya, dan berhasil dalam memadupadankannya dengan corak modernitas.

Setelah menyelesaikan perbincangan, Natsumi Dorothy Ito diberikan pengalaman oleh tim Pataruman Indigo Experimental Station secara langsung dengan memetik daun tarum areuy dari pekaranga, melakukan pencelupan daluang melalui teknik pencelupan secara langsung dari daun segar yang telah dicuci dengan tambahan garam sebagai alternatif, dan kapur sebagai alternatif lainnya. Adapun teknik pencelupan yang dilakukan melalui teknik pencelupan tidak langsung melalui zat pewarna biru alami dalam bentuk pasta, cake, powder tidak dilakukan. Namun demikian prinsip dasar dalam menghasilkan zat pewarna dari daun segar yang hijau hingga menjadi pasta yang biru diajarkan dalam simulasi skala percobaan kecil yang membuatnya terkesan.

Pataruman – Indigo Experimental Station masih terus bebenah dan meningkatkan kemampuannya melalui pencapaian Research and Development. Tahapan-tahapan yang perlu dicapai masih banyak dan panjang, karena pada prinsipnya merupakan gerakan revitalisasi dan reinvensi terhadap kebudaaan dan praktik seni tekstil kuno yang sempat terputus dan mengalami mati suri selama 100 tahun. Meskipun demikian, tahapan-tahapan yang telah dimiliki oleh Pataruman – Indigo Experimental Station terlepas dari kekurangannya berhasil diapresiasi oleh Mufid Sururi sesama aktifis seni dan kebudayaan di Bandung dan Natsumi Dorothy Ito yang akan membawa pengalaman residensinya kepada tahap eksebisi dan diseminasi di Tokyo pada bulan Oktober mendatang. (Gelar Taufiq Kusumawardhana)












