MajmusSunda News, Minggu (07/06/2026) – Artikel Berjudul “Evolutionary Personality Terpadu dalam Level of Thinking” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.
*Level Of Thinking* adalah kemampuan seseorang ( individu ) memproses fikiran atau *MIND dalam pengambilan keputusan* berdasarkan Beliefs system yang telah tertanam dalam diri seseorang, tidak ditentukan oleh Academic level, status sosial, maupun kapasitas *Psikologis*.
Sedangkan Beliefs System ( *Core Beliefs*) adalah keyakinan inti yang dibangun dari nilai nilai ( Values ) lingkungan kehidupan , *needs, desires, goals*, yang terbentuk melalui interaksi seseorang dengan orang tua, lingkungan kehidupan dan Dunianya, diyakini secara absolute serta *Rigid* ( kaku ), dan sulit diubah, bersifat positif dan negatif.

Sedangkan *Conditional beliefs* adalah keyakinan keyakinan yang dipakai sebagai strategy kompensasi, terhadap Core Belief , agar dapat memenuhi nilai nilai , needs, desires, goals dalam dunia nyata , dengan membangun asumsi , aturan, dan Sikap ( Attitude ).
Kesemuanya berkaitan dengan *Neuroscience*, dimana Cognitive Neuroscience sebagai dasar ilmu yang berperan dalam pembentuka Perilaku. Neuroscience merupakan peran timbal balik, antara Cortex *( bagian Prefrontal )* dan Limbic *( bagian Hypocampus dan Amigdala )*.yang membentuk perilaku, dimana Limbic Region memproduksi emosi dan Prefrontal Cortex mengevaluasi nilai dan Kapasitas emosi.
*Personality* merupakan konfigurasi total dari karakteristik seseorang yang melingkupi pelbagai persfective atau Traits ( Interpersonal, Cognitif, Psychodinamic, Biological ), terhubung dengan *Domain Evolutionary Principles*, terutama pada :
*1.Existence*: pleasure – pain polarity, dimana tugas pertama dari organisme adalah Survival. Keberadaan di lingkungannya dengan orientasi pada *life enhancement* dan *Life preservation*, yang pada level keberfungsian manusia membentuk polaritas pleasure pain.
*2. Adaption*: Active – Pasif Polarity. yakni keberadaan organisme dalam lingkungannya yang merujuk pada proses homeostatis untuk bertahan dalam ekosistem yang terbuka, dengan orientasi mengakomodasi ( pasif ) atau memodifikasi ataupun Intervensi ( aktif ).
*3. Replication* : Self – Oher polarity. Untuk berevolusi maka setiap organisme harus bereproduksi, dimana *Reproductif Style* yang pada dasarnya merupakan mekanisme Sosiobiological, yang dipakai setiap Gender untuk memaksimalkan Representasi mereka dilingkungannya.
*4. Abstracktion*: Thinking – feeling. Berhubungan dengan kompetensi yang mendukung mannusia melakukan perencanaan dan pengambilan Keputusan-* Intelectual reasoning
*Intelectual reasoning & affective Resonance*. yang berujung pada *Personality* ( Kepribadian ) berevolusi karena faktor eksistensial, adaptational, replication, dan abstractional Manusia *( khususnya manusia modern )* membangun MODEL BERFIKIR untuk menghadapi dan mengatasi faktor faktor : Existential Orientation, Normal prototype, Abnormal prototype, Adaptation Style, sehingga mengembangkan Temperamen & Karakter.
Itu bisa dikategorikan Proses Kognitif dari Learning, yang bersifat dari Explicit ke Implicit , menjadi Tacit, diperlukan Reinforcement, terukur dalam *Psychological Capacity*( Psychological Development to Maturity ): Environmental Stimulus, Stimulus Nutriment, Stimulus Impoverishment, Stimulus Enrichment.
Environmental Stimulus : Pendewasaan kapasitas Psikologis tidak hanya ditentukan oleh proses genetica, tetapi juga tergantung dari Stimulus lingkungan ( Environmental ), yaitu :
a.Stimulus Nutriment : jumlah dari pengalaman lingkungan, mengaktifkan proses kimiawi yang diperlukan untuk mendewasakan pertumbuhan Neuronal.
b.Stimulus Impoverishment : menghasilkan defisiensi pertumbuhan neuronal , dan keberfungsian Psikologis yang berhubungan dengannya.
c.Stimulus Enrichment : sama merusaknya dengan Stimulus Impoverishment , dengan cara memproduksi perkembangan berlebihan secara pathologis atau ketidak seimbangan.
*Penyimpangan Pertumbuhan* pada level Sensory Attachement : bila anak mengalami Stimulus Impoverishment, maka kapasitas sensory ditandai dengan berkurangnya Sensitivitas dalam Interpersonal – pasif adaptability, sedangkan Stimulus Enrichment menghasilkan *Hypersensitivies, active adaptability*, Stimulus seeking behaviour, serta Abnormal Interpersonal dependency.
Pada tingkat *Sensory motor Autonomi*, bila tidak ada Stimulus Pertumbuhan pada tingkat ini, maka Anak akan mengalami : Defisiensi pads ketrampilan untuk berperilaku secara otonomi, lemah dalam aktivitas Exploratory dan Competetive, berkarakter pemalu dan Submissive. Sedangkan *Enrichment* berlebihan pada kapasitas Sensorimotor akan berakibat : Self Expression yang tidak terkontrol, Narcisism, dan Social Irresponsibility ( anti Social Behaviour ).
*Understimulation* pada tingkat *Pubertal Gender Identity*, dan *Intracortical Inisiative akibatnya* : kehilangan identitas dan kurang percaya diri, tidak mampu mengambil keputusan dalam hidup, tidak efisien dalam menyalurkan Energy, kapasitas dan Impulse ( dorongan hati ). *Excessive Stimulation* dalam bentuk *Over Training* dan *Overguidance* dapat berakibat : kehilangan beberapa fungsi Psikologikal, seperti : Spontanitas, fleksibilitas dan kreativitas.
*Generic theory & model of Level of Thinking*: a. Cognitive neuroscience – the theory of mind.
b. The fifth discipline – learning organization.
c. Cognitive Psychology of perception & attitude.
d. Job Characteristic model.
e. Socio technical system model.
f. Reengineering model.
*Generic Theory* ini terurai dalam Stupa Level Of Thinking, yang terbagi dalam 5 ( lima ) tingkatan , antara lain :
1.*Awareness* ( paling mendasar ) disebut Linear Thinking, atau Brain Stem. ( mental capacity & Cognitive progress ).
2 *Information* ( lapis ke empat ) disebut Lateral Thinking & Limbic.
3.*Knowledge* ( lapisan ke tiga ) disebut Critical Thinking. ( problem solving / Limbic & Cortex ).
4. *Innovation* ( lapisan kedua ) disebut Creative Thinking. ( limbic & Prefrontal cortex ).
5. *Whisdom* ( lapisan kesatu/paling atas ) disebut Meta Thinking. ( Decision Making, Limbic & Prefrontal Cortex ).
Prefrontal Cortex = Otak depan yang dipakai untuk berfikir *( Strategy)*.
***
Judul: Evolutionary Personality Terpadu dalam Level of Thinking
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












