Wisatabumi Nusantara Seri #59: “Kuningan, Tanah ‘Seribu Mata Air’, dan Geodiversitas yang Kumplit”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (25/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-59 dengan membedah konfigurasi keragaman geologi, hayati, hingga budaya dari Kabupaten Kuningan melalui pisau analisis geoliterasi. Diuraikan kemegahan visual Gunung Ciremai sebagai pasak ekologis dan pendahulunya bersama bukti aktivitas vulkanisnya, kelimpahan jaringan situ, ratusan mata air dengan belasan di antaranya berdebit lebih dari seribu liter per detik sehingga Kuningan menyandang gelar “Tanah Seribu Mata Air”, kontras dengan manifestasi hidrotermal vulkanik Sangkanhurip dan nonvulkanik patahan di pedalaman Kecamatan Subang, hingga kawasan karst di batas selatan; sehingga Kuningan sebenarnya memiliki geodiversitas yang kumplit. Melalui inventarisasi, antara lain, keanekaragaman hayati Taman Nasional Gunung Ciremai, kilas balik diplomasi historis Linggarjati, tinggalan kuno situs megalitikum, Kerajaan Saunggalah, serta tradisi Kawin Cai, integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat ekologis guna konservasi wilayah timur Tatar Sunda.

SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah konfigurasi keragaman geologi, hayati, hingga budaya dari Kabupaten Kuningan melalui pisau analisis geoliterasi. Diuraikan kemegahan visual Gunung Ciremai sebagai pasak ekologis dan pendahulunya bersama bukti aktivitas vulkanisnya, kelimpahan jaringan situ, ratusan mata air dengan belasan di antaranya berdebit lebih dari seribu liter per detik sehingga Kuningan menyandang gelar “Tanah Seribu Mata Air”, kontras dengan manifestasi hidrotermal vulkanik Sangkanhurip dan nonvulkanik patahan di pedalaman Kecamatan Subang, hingga kawasan karst di batas selatan; sehingga Kuningan sebenarnya memiliki geodiversitas yang kumplit. Melalui inventarisasi, antara lain, keanekaragaman hayati Taman Nasional Gunung Ciremai, kilas balik diplomasi historis Linggarjati, tinggalan kuno situs megalitikum, Kerajaan Saunggalah, serta tradisi Kawin Cai, integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat ekologis guna konservasi wilayah timur Tatar Sunda.

Wisatabumi Nusantara
Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Foto: Sfw_2503, 2018 — Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

1. Mahkota Stratovulkan Tatar Sunda, Jejak Pra-Ciremai, dan Kaldera Gegerhalang

Bentang alam Kabupaten Kuningan memancarkan kemegahan visual yang luar biasa karena dinaungi secara mutlak oleh kerucut raksasa Gunung Ciremai, stratovulkan aktif tertinggi dan tiang ekologis regional di Tatar Sunda. Dari Tatar Kuningan, kita juga sebenarnya sedang menyaksikan arsip bumi yang dahsyat melalui kenampakan dinding terjal Kaldera Gegerhalang di sisi barat laut puncak Ciremai. Struktur tapal kuda raksasa ini merupakan jejak keruntuhan katastrofik dari aktivitas vulkanisme Pra-Ciremai era Pleistosen, sebelum akhirnya suksesi magmatisme baru muncul membangun tubuh Ciremai kini. Bukti-bukti endogen dari pertumbuhan gunung api multigenerasi ini terekam jelas pada fenomena bekas lubang kepundan, kawah yang tidak jadi, flank eruption, cinder cone, dan sisa robekan kaldera di lereng sebelum puncak, seperti Gua Walet, Kawah Burung, Gunung Puteri, Gunung Cinta, dan Sukageuri; serta morfologi kawah ganda di puncaknya—yakni Kawah Barat yang berumur lebih tua dan Kawah Timur yang merekam letusan modern—serta hamparan aliran lava purba andesit porfiritik masif yang melandasi kesuburan struktur tanah di kaki undakannya.

2. Sabuk Mata Air, Deretan Situ, Dikotomi Hidrotermal, Sumber Air Asin, dan Karst

Lapisan batuan hasil letusan purba itu bermutasi menjadi spons alami raksasa yang melahirkan jaringan sabuk mata air (spring belt) melimpah di sepanjang lereng bawah, seperti mata air Cipaniis di Pesawahan. Total tak kurang dari lima ratus mata air (MA) di seluruh wilayah Kuningan, dengan 16 MA berdebit > 1.000 liter per detik seperti MA Cipaniis dan MA Cibulan; dan 145 MA berdebit antara 1 hingga 10 liter per detik. Air yang memancar konstan dan jernih itu secara alami mengisi banyak cekungan yang terbentuk karena tektonik gunung api atau depresi kaldera Ciremai atau pendahulunya, seperti Situ Cicerem, hingga membentuk deretan situ atau danau eksotis yang mengitari kaki Ciremai. Sistem panas bumi Tatar Kuningan juga menakjubkan dengan hadirnya dua jenis manifestasinya yang berbeda karakter: mata air panas Sangkanhurip yang dipengaruhi gunung api Ciremai, di utara; dan mata air panas Subang di Desa Ciniru, Kecamatan Subang di wilayah selatan, yang nonvulkanik, yang muncul akibat patahan. Keragaman geologi kawasan selatan ini kian fenomenal melalui kehadiran letupan air asin di puncak perbukitan Ciuyah, Kecamatan Ciniru, yang merupakan manifestasi vulkanisme lumpur (mud volcano); dan hadirnya perbukitan karst batu gamping Tersier yang dihiasi oleh Gua Lalay, di batas selatan.

3. Spons Pelindung Keanekaragaman Hayati dan Jejak Satwa Keluhuran

Kelimpahan pasokan air dari rahim bumi pegunungan ini menjadi fondasi utama bagi suburnya keanekaragaman hayati yang dilindungi secara ketat di bawah naungan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Di dalam rimbunnya hutan hujan tropis bertanah andosol ini, keanekaragaman itu diwakili oleh eksistensi umbi Gadung dan Kemuning (Kamuning) sebagai flora identitas resmi dan flora ikon budaya daerah, serta kemurnian vegetasi endemik penahan erosi sejenis Saninten dan Pasang yang melindungi lantai hutan. Di pedesaan, Kuningan juga banyak ditanam ubi, beras ketan, dan jambu air. Ekosistem hutan yang masih terjaga bertindak sebagai benteng perlindungan aman bagi satwa pelindung hulu, mulai dari kesiapsiagaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Elang Jawa, hingga pengakuan ketangguhan ras Kuda Kuningan atau Kuda Windu yang melegenda sebagai maskot resmi keluhuran sejarah kabupaten. Sementara pada air jernih kolam-kolam pemandian dikeramatkan, plasma nutfah Tatar Sunda dirawat secara sakral melalui pelestarian ikan kancra bodas (Tor douronensis) yang dijuluki sebagai “ikan dewa”, membuktikan bahwa kestabilan air dan perlindungan hukum hayati ikonik berjalan seiring di tanah timur Priangan itu.

4. Interaksi Geoarkeologi Cipari, Kedigdayaan Saunggalah, hingga Memori Linggarjati

Jalinan antara keindahan bentang alam vulkanik ini berbanding lurus dengan heritabilitas budaya yang membentang dari fajar prasejarah hingga memori kemerdekaan nasional. Di dataran Cigugur, jejak kemanusiaan awal terekam pada Situs Purbakala Cipari lewat tinggalan peti kubur batu andesit. Pada era klasik Tatar Sunda pertama ada Kerajaan Saunggalah purba pimpinan Rakeyan Darmasiksa di pedalaman Kadugede. Jalinan memori ini bergerak maju menembus koridor waktu menuju lereng timur, pada kokohnya Gedung Perundingan Linggarjati yang merekam diplomasi kedaulatan Indonesia, lalu bersinkronisasi secara spiritual melalui ritme tradisi Kawin Cai di Babakanmulya serta lahirnya corak Batik Kamuning sebagai produk sandang mahakarya budaya lokal setempat. Kepatuhan budaya ini bermutasi menjadi daya tarik geowisata modern yang adaptif, memicu denyut ekonomi kerakyatan berbasis rekreasi kolam mata air alami Cibulan, keindahan Telaga Remis, Telaga Nilem, dan Situ Cicerem, hingga lanskap rekayasa hidrologi bendungan dan embung buatan manusia pada Waduk Darma serta Situ Linggarjati yang bersanding serasi di kaki jalur pendakian menuju puncak Ciremai. Di sisi kuliner, Kuningan juga terkenal dengan pangan lokal berupa keunikan cita rasa manis-asam hidangan peuyeum ketan tradisional berbungkus daun jambu air.

5. Epilog: Seruan Konservasi melalui Geowisata

Pada akhirnya, pelacakan geowisata dan geoliterasi dari sumber air raksasa Ciremai hingga jejak peradaban luhur di sekelilingnya menegaskan satu maklumat penting bahwa kedaulatan lingkungan atau konservasi kawasan hulu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Rangkaian warisan Bumi dari arsip batu prasejarah Cipari, legasi Kerajaan Saunggalah, memori nasional Linggarjati, hingga nasihat spiritual ritual Kawin Cai sejatinya adalah satu kesatuan pengakuan sosiologis bahwa keselamatan sebuah peradaban sangat bergantung pada kelestarian bentang alamnya sendiri. Membiarkan sabuk mata air Ciremai dikupas habis demi industri ekstraktif komersial, atau membiarkan letupan lumpur purba dan hidrotermal di wilayah selatan rusak akibat keserakahan tata ruang, adalah bentuk kecerobohan modern yang sedang menantang datangnya krisis air tawar masif yang siap merubuhkan pilar-pilar keselamatan peradaban masa depan. Menegakkan daulat hukum tata ruang kawasan lindung di bumi Kuningan adalah manifesto nyata untuk memastikan kelestarian ruang hidup masa depan, swasembada pangan swadaya, serta tegaknya kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi tantangan zaman.

#WisatabumiNusantara #GeoliterasiKritis #OmanAbdurahman #KuninganCiremai #GunungCiremai #TamanNasionalGunungCiremai #MataAirCipaniis #IkanDewaTorDouronensis #SitusCipariMegalitikum #KerajaanSaunggalahKuningan #PerjanjianLinggarjati #UpacaraKawinCai #BatikKamuningKuningan #MudVolcanoCiuyah #TelagaRemisAmblesan #SituCiceremVulkanoTektonik #TelagaNilem #WadukDarmaKuningan #TanahSeribuMataAir

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #59: “Kuningan, Tanah ‘Seribu Mata Air’, dan Geodiversitas yang Kumplit”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *