MajmusSunda News – Bandung, Selasa (04/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-45 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang pesisir Leuweung Sancang di Garut Selatan yang memadukan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan jejak sejarah peradaban Sunda. Melalui perspektif geomorfologi pantai, ekologi, dan sosiokultural, seri ini mengulas terbentuknya lanskap pesisir Sancang, pesona pantai-pantai selatan Garut, benteng hijau hutan dataran rendah, hingga nilai sejarah Rakean Sancang sebagai bagian penting dari identitas Tatar Pasundan.
1. Benteng Morfotektonik Pantai Selatan dan Fondasi Pesisir Sancang
Evolusi bentang alam pesisir Garut Selatan dibentuk oleh aktivitas tektonik yang menjadikan Leuweung Sancang sebagai salah satu kawasan geowisata paling penting di Tatar Priangan. Struktur kawasan ini dikontrol oleh proses penunjaman lempeng samudra yang mengangkat formasi batuan sedimen purba serta membentuk tebing-tebing pantai yang berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia. Rekahan batuan, endapan pasir besi, dan batu gamping di sepanjang garis pantai berperan sebagai benteng alami yang membantu meredam abrasi. Di beberapa bagian, dataran pantai yang landai menjadi tempat pengendapan material yang dibawa sungai-sungai dari pedalaman Garut sebelum bermuara ke laut. Keseluruhan proses tersebut membentuk sistem pesisir yang berfungsi sebagai pelindung ekologis sekaligus laboratorium alami bagi kajian geomorfologi pantai tropis.
2. Rangkaian Eksotisme Bahari: Dari Pasir Hitam Pameungpeuk hingga Rataan Karang Sayang Heulang
Keunggulan geologi pesisir Garut Selatan semakin terlihat melalui keberagaman bentuk pantainya. Kawasan ini membentang dari Pantai Rancabuaya dan Pantai Santolo yang dikenal dengan hamparan pasir hitam kaya mineral besi, hingga Pantai Sayang Heulang yang memiliki rataan terumbu karang (reef flat) yang tampak jelas ketika air laut surut. Tebing kapur hasil proses karstifikasi berpadu dengan endapan sedimen pantai membentuk bentang alam yang unik sekaligus berfungsi sebagai penyerap energi gelombang laut. Perpaduan antara pantai berpasir, tebing curam, dan hamparan karang menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium alam yang sangat penting untuk mempelajari dinamika pesisir selatan Pulau Jawa.

3. Sancang: Panggung Biotik Hutan Dataran Rendah, Tameng Mangrove, Flora Kaboa, dan Werejit
Di balik keindahan bentang alamnya, Leuweung Sancang merupakan salah satu kawasan hutan hujan dataran rendah yang memiliki nilai konservasi sangat tinggi. Sabuk hijau mangrove di kawasan muara berpadu dengan vegetasi khas, seperti pohon Kaboa yang hidup di kawasan karang serta pohon Werejit atau Buta-buta (Excoecaria agallocha), yang dikenal memiliki getah beracun. Keberadaan vegetasi tersebut menjadi benteng alami yang melindungi kawasan cagar alam dari gangguan manusia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Hutan Sancang juga menjadi habitat penting bagi berbagai satwa dilindungi, seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Rusa Jawa (Rusa timorensis), dan Merak Hijau (Pavo muticus). Keseluruhan ekosistem ini menunjukkan pentingnya kawasan Sancang sebagai benteng biodiversitas di pesisir selatan Jawa Barat.
4. Dimensi Sosiokultural: Rekam Sejarah Rakean Sancang dan Jejak Literasi Abad ke-7
Pada dimensi sosiokultural, kawasan Sancang menyimpan jejak sejarah yang berkaitan dengan sosok Rakean Sancang, yang dalam berbagai tradisi lisan Sunda dikenal sebagai tokoh penting pada masa awal Tarumanagara. Kisah pelayarannya hingga ke Jazirah Arab dan keterkaitannya dengan penyebaran nilai-nilai tauhid menjadi bagian dari narasi sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat. Tradisi tersebut berbeda dengan kisah Kiansantang yang berasal dari masa Kerajaan Pajajaran pada periode yang lebih kemudian. Terlepas dari berbagai pandangan sejarah yang berkembang, kawasan Sancang tetap memiliki nilai budaya yang tinggi sebagai ruang memori kolektif masyarakat Sunda. Kehormatan terhadap kawasan ini turut memperkuat upaya pelestarian alam yang diwariskan secara turun-temurun.
5. Penutup: Kompas Strategis Geowisata untuk Konservasi Pesisir Garut Selatan
Oleh karena itu, sinergi antara bentang alam pesisir, hutan dataran rendah, kawasan mangrove, serta warisan sejarah dan budaya Sancang layak dijadikan fondasi utama pembangunan geowisata berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Pengelolaan kawasan ini harus mengedepankan konservasi melalui perlindungan hutan lindung, pengendalian aktivitas wisata di zona inti cagar alam, pelestarian mangrove, serta penegakan hukum terhadap perburuan satwa dan perusakan lingkungan. Dengan memahami keterkaitan antara geologi, ekologi, dan sejarah Sancang, masyarakat dapat menjaga kelestarian benteng hijau pesisir Garut Selatan sekaligus memperkuat identitas dan kedaulatan lingkungan Tatar Pasundan bagi generasi mendatang.
#JawaBarat #LeuweungSancang #GarutSelatan #PantaiSantolo #PantaiRancabuaya #PantaiSayangHeulang #RakeanSancang #Geowisata #KonservasiPesisir #HutanSancang #WawasanKebangsaan

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-45: “Sancang sebagai Ikon dan Keindahan Pesisir Garut Selatan”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












