MajmusSunda News – Bandung, Selasa (04/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-41 dengan mengajak pembaca menelusuri bentang alam Gunung Galunggung yang menjadi perpaduan antara warisan geologi, keanekaragaman hayati, sejarah peradaban Sunda, serta ketangguhan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Melalui perspektif vulkanologi, geomorfologi, ekologi, dan sosiokultural, seri ini mengulas evolusi kaldera tapal kuda Galunggung, fenomena Bukit Sepuluh Ribu, suksesi vegetasi vulkanik, warisan Mandala Galunggung, hingga lahirnya sistem mitigasi modern yang memperkuat ketahanan kawasan Priangan Timur.
1. Sasis Tektonik Busur Magmatik Sunda dan Evolusi Kaldera Tapal Kuda Galunggung
Bangunan bentang alam mahadahsyat di Tatar Pasundan bagian timur berdiri kokoh di atas sasis aktivitas geodinamika Busur Magmatik Sunda Aktif pada koridor kawasan Geowisata Aspiring Geopark Galunggung. Struktur geologi makro kawasan ini dikontrol oleh zona penunjaman lempeng aktif di bawah samudra yang menyuplai magma andesitis-basaltis secara intensif melintasi lintasan zaman. Puncak evolusi abiotik dari dinamika endogen ini terekam monumental pada sosok Gunung Galunggung yang dicirikan oleh morfologi kawah runtuhan berbentuk tapal kuda raksasa yang terbuka ke arah tenggara. Struktur kaldera terbuka tersebut merupakan saksi bisu letusan katastrofik purba berupa longsoran tubuh gunung api (volcanic debris avalanche) berskala raksasa yang merombak arsitektur geomorfologi regional dan melahirkan bentang alam khas Tasikmalaya. Penjelajahan menuju bibir kaldera ini menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pangripta Jagat Raya yang menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium kebumian bertaraf internasional.
2. Ten Thousand Hills, Toponimi Galunggung–Tasikmalaya, dan Urgensi Konservasi
Keunggulan abiotik kawasan Galunggung semakin menonjol melalui fenomena Ten Thousand Hills atau Bukit Sepuluh Ribu, yakni hamparan bukit-bukit kecil (hummocky terrain) hasil runtuhan katastrofik Gunung Galunggung purba sekitar empat ribu tahun silam. Pada masa pendataan kolonial oleh Esser sekitar tahun 1925, kawasan ini masih memiliki sekitar tiga ribu bukit sinder, sedangkan hasil penelitian terkini Universitas Siliwangi menunjukkan jumlahnya kini hanya tersisa sekitar dua ratus bukit akibat aktivitas penambangan pasir dan batu yang tidak terkendali. Pelestarian bentang alam tersebut memiliki nilai penting karena berkaitan erat dengan sejarah geologi sekaligus asal-usul toponimi Galunggung dan Tasikmalaya. Dalam salah satu penuturan lokal, nama Galunggung berasal dari kata galenggeng, yaitu bunyi menggelegar yang menandai aktivitas gunung api. Sementara itu, nama Tasikmalaya merekam lanskap purba berupa kolam-kolam air (tasik) yang tersebar di antara hamparan pasir vulkanik. Identitas tersebut menjadikan Galunggung dan Tasikmalaya sebagai satu kesatuan sejarah alam dan budaya yang patut dijaga.

3. Suksesi Primer Vegetasi Kaldera, Pisang Ranggap, dan Bunga Tanjung
Karakteristik tanah regosol dan andosol muda hasil letusan vulkanik menjadikan kawasan Galunggung sebagai laboratorium alami suksesi primer yang sangat penting di Tatar Sunda. Sabuk hijau hutan lindung berfungsi sebagai benteng ekologis yang menjaga stabilitas lereng, mengurangi erosi, serta mempertahankan keseimbangan hidrologi daerah hulu. Kekayaan flora kawasan ini ditandai oleh keberadaan Pisang Ranggap (Musa troglodytarum) yang memiliki tandan buah tegak menghadap ke atas, Bunga Tanjung (Mimusops elengi), anggrek gunung, serta berbagai vegetasi khas pegunungan vulkanik. Habitat tersebut juga menjadi tempat hidup beragam satwa liar, termasuk Ayam Hutan (Gallus gallus), yang hidup berdampingan dengan hutan bambu, aren, dan vegetasi perintis lainnya. Seluruh ekosistem ini membuktikan bahwa daya pulih hayati merupakan fondasi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pascaerupsi.
4. Mandala Purba, Amanah Galunggung, Ikon Erupsi 1982–1983, dan Peradaban Mitigasi Modern
Pada dimensi sosiokultural, kawasan Galunggung memiliki nilai sejarah yang melampaui fungsi geologinya. Sejak sekitar abad ke-7 hingga ke-8, kawasan lereng Galunggung dikenal sebagai Mandala atau Kebikuan, yakni pusat pendidikan spiritual tempat para resi dan biksu melahirkan naskah legendaris Amanah Galunggung atau Kabuyutan Galunggung. Warisan tersebut mengajarkan pentingnya menjaga tanah pusaka dan kelestarian alam bagi generasi penerus. Nilai-nilai tersebut diperkuat oleh keberadaan Prasasti Geger Hanjuang bertahun 1111 Masehi yang menjadi bukti sejarah Kerajaan Sunda. Pada era modern, letusan Gunung Galunggung tahun 1982–1983 menjadi tonggak penting dalam sejarah mitigasi bencana Indonesia. Keberhasilan koordinasi antara pemerintah, para ahli kebencanaan, dan masyarakat mampu menekan korban jiwa seminimal mungkin. Dampak global letusan ini turut mendorong penguatan sistem keselamatan penerbangan akibat abu vulkanik, mempercepat pengembangan jaringan pengamatan gunung api di Indonesia, serta melahirkan rekayasa teknik berupa terowongan drainase kawah sebagai upaya mengendalikan potensi bahaya lahar. Pengalaman tersebut menjadi fondasi berkembangnya konsep mitigasi bencana berbasis masyarakat yang kini menjadi salah satu nilai penting dalam pengembangan Geopark Galunggung.
5. Penutup: Kompas Strategis Geowisata untuk Akselerasi Ekonomi Sirkular Priangan Timur
Oleh karena itu, sinergi antara keunggulan geologi, keanekaragaman hayati, sejarah, dan budaya Galunggung layak dijadikan fondasi utama pembangunan geowisata berkelanjutan menuju Geopark Nasional hingga UNESCO Global Geopark. Pengembangan kawasan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan daya tarik wisata, tetapi juga memperkuat konservasi Bukit Sepuluh Ribu, mitigasi bencana berbasis masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi rakyat melalui koperasi geoguide, pertanian organik lahan vulkanik, industri kerajinan bambu, pengolahan aren, hingga pengembangan produk kreatif berbasis kekayaan alam Tasikmalaya. Dengan demikian, Amanah Galunggung tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga menjadi pedoman pembangunan berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
#JawaBarat #GunungGalunggung #AspiringGeoparkGalunggung #TenThousandHills #MandalaGalunggung #AmanahGalunggung #Tasikmalaya #ErupsiGalunggung1982 #PrasastiGegerHanjuang #MitigasiBencana #Geowisata #WawasanKebangsaan

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-41: “Galunggung: Dari Mandala, Cagar Bumi Dunia, ke Mitigasi Berbasis Masyarakat”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












