Wisatabumi Nusantara Seri-33: BTS, Simfoni Api Tengger–Semeru dan Tradisi Kasada

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Minggu (26/07/2026)Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-33 dengan mengajak pembaca menjelajahi kawasan Bromo–Tengger–Semeru (BTS), sebuah bentang alam vulkanik yang mempertemukan jejak evolusi gunung api purba, kekayaan geodiversitas, keanekaragaman hayati, serta tradisi sakral Yadnya Kasada yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Suku Tengger. Melalui pendekatan geowisata berbasis sains, seri ini mengulas bagaimana dinamika geologi, biodiversitas, dan warisan budaya berpadu membentuk salah satu lanskap paling spektakuler di Indonesia.

1. Garis Api dari Utara ke Selatan: Jejak Evolusi Raksasa Purba

Kisah bentang alam kawasan BTS (Bromo–Tengger–Semeru) ini adalah sebuah simfoni tektonik yang ditulis oleh api dari kedalaman bumi. Ratusan ribu tahun yang lalu, sebuah vulkano raksasa, sebut saja puncak Ngadisari atau Tengger Purba, berdiri kokoh di sisi utara yang, dalam perjalanannya, sedikitnya dua kali tumbuh memuncak dan dua kali pula runtuh besar sehingga menyisakan kaldera bersarang (nested caldera) atau kaldera di dalam kaldera. Kaldera pertama yang lebih muda, yakni Kaldera Tengger, dicirikan oleh Lautan Pasir (Segara Wedi), tiga kerucut yang tak aktif lagi berdampingan dengan kerucut yang masih aktif, yaitu Bromo. Adapun kaldera kedua yang lebih tua, yang melingkarinya, disebut Kaldera Ngadisari, ditandai pula oleh puncak-puncak dan lembahnya. Denyut vulkanisme regional kemudian bergeser searah jalur patahan utara–selatan, bermigrasi melintasi Pegunungan Jambangan, hingga akhirnya melahirkan puncak tertinggi Pulau Jawa di sisi selatan, yaitu Gunung Semeru yang terus meletupkan abu dan dihiasi enam ranu (danau). Kesemuanya menjadi panggung biotik, seperti di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sekaligus budaya tangguh Suku Tengger.

2. Anatomi Kaldera: Menyingkap Keragaman Geologi yang Kontras

Di sepanjang jalur migrasi magma ini terhampar geodiversitas yang menjadi saksi bisu dinamika bumi. Di dalam pangkuan Kaldera Tengger inilah lahir kerucut yang tak aktif lagi, yaitu Gunung Watangan, Widodaren, dan Batok, serta kompleks kerucut muda yang aktif dan unik, Bromo (2.329 mdpl). Kita dapat melihat kontras yang nyata antara Batok yang berguratan erosi air (gully erosion) secara simetris dan Bromo yang terus mengepulkan uap. Di dasar kaldera terhampar aliran lava basaltik hitam berongga yang berpadu dengan endapan angin Lautan Pasir. Lanskap ini dilingkari oleh Kaldera Ngadisari yang lebih tua, dicirikan oleh lava basaltik-andesitik dan piroklastik purba dari puncak Cemoro Lawang, Pananjakan, dan Mungal, serta lembah Sapikerep yang terbentuk saat Kerucut Ngadisari (pra-Kaldera Tengger) amblas. Di ujung selatan menjulang katup pelepas energi magma raksasa, yakni Semeru, yang meletup hampir setiap hari dan dihiasi enam ranu atau maar (danau kawah vulkanik), mulai dari lereng hingga kakinya: Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan, Ranu Tompe, dan Ranu Kuning.

Wisatabumi Nusantara
Foto: Andhika Bayu Nugraha / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

3. Oase Hijau di Tanah Gersang: Suksesi Biotik dan Adaptasi Vegetasi Pegunungan

Di balik kegarangan lanskap vulkanis dan gersangnya Segara Wedi, kawasan BTS menyimpan keanekaragaman hayati unik yang menunjukkan ketangguhan ekosistem pegunungan yang sangat dipengaruhi oleh material vulkanik Semeru dan Bromo. Di zona Lautan Pasir tumbuh tumbuhan pionir, seperti rumput teki (Carex) dan lari-lari (Spinifex). Zona subalpin dihiasi oleh hamparan abadi bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica). Sementara itu, lereng-lereng purba Pegunungan Jambangan dan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi rumah bagi tegakan pohon manisrejo, hutan cemara gunung, serta berbagai anggrek endemik. Terdapat pula fauna khas, seperti Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), yang membentuk rantai kehidupan subur di atas tumpukan material vulkanik. Untaian ranu vulkanis di kaki Semeru juga menjadi habitat flora air dari genus Salvinia, avifauna endemik dari genus Anas, hingga mamalia dari genus Muntiacus. Di ekosistem Ranu Darungan dan Ranu Tompe dijumpai Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), burung Kepodang, Srigunting, kucing hutan, Ajag (anjing hutan Jawa), serta predator puncak Pulau Jawa yang sangat dilindungi, yaitu Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).

4. Yadnya Kasada: Ritual Kosmik dan Simfoni Spiritual Suku Tengger

Dimensi geologi dan kekayaan biotik kawasan ini akhirnya bermuara pada manifestasi budaya yang luhur di kaki sang raksasa vulkanis. Bagi Suku Tengger—yang memercayai diri mereka sebagai keturunan langsung dari Roro Anteng dan Joko Seger—Gunung Bromo bukanlah ancaman bencana, melainkan sebuah ruang sakral yang hidup. Setiap tahun, pada hari ke-14 bulan Kasada dalam penanggalan tradisional, ribuan masyarakat adat berbondong-bondong menembus dinginnya Lautan Pasir menuju bibir kawah aktif untuk melaksanakan upacara Yadnya Kasada. Mereka melarung sesaji berupa hasil bumi, ternak, hingga replika bunga Edelweiss sebagai bentuk syukur atas kesuburan tanah dan pemenuhan janji suci leluhur. Menariknya, ritual ini juga memicu interaksi sosial yang unik di dalam kawah, ketika warga dari luar suku berkumpul menangkap sesaji menggunakan jaring. Tradisi ini menjadi bukti autentik bagaimana mitigasi bencana berbasis kearifan lokal bertransformasi menjadi harmoni budaya; sebuah simfoni spiritual ketika manusia tidak berusaha menaklukkan alam, melainkan menyatu dan hidup selaras dengan ritme detak jantung bumi.

5. Menyusuri Jalur Geowisata: Sebuah Epilog Harmoni Alam dan Budaya

Menjelajahi kawasan BTS bukan sekadar perjalanan visual, melainkan sebuah petualangan edukatif melintasi ruang dan waktu geologi. Jalur geowisata ideal dimulai dari bibir Kaldera Ngadisari di Cemoro Lawang untuk menyaksikan kontras lanskap purba, lalu turun mengarungi hamparan Segara Wedi yang sunyi, hingga mendaki 250 anak tangga menuju bibir kawah aktif Bromo. Sepanjang jalur ini, wisatawan dapat belajar mengenali material piroklastik, mengamati suksesi vegetasi pionir, sekaligus merasakan langsung spiritualitas Suku Tengger yang berdenyut di sekitar kaldera.

Sebagai penutup, simfoni raksasa BTS ini memberikan sebuah pesan kuat bahwa bentang alam vulkanis yang garang tidak selalu membawa kehancuran. Melalui lensa geowisata, perpaduan antara keajaiban keragaman geologi (geodiversity), ketangguhan ekosistem (biodiversity), dan keluhuran budaya (cultural diversity) di tanah Tengger–Semeru menjadi bukti nyata bahwa manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan dinamika bumi, menjaga warisan masa lalu agar tetap lestari hingga masa depan.

#GeowisataNusantara #WisatabumiNusantara #BromoTenggerSemeru #TNBTS #GunungBromo #GunungSemeru #YadnyaKasada #Geodiversity #Biodiversity #CulturalDiversity #SukuTengger #Geowisata #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #JawaTimur

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri-33: BTS, Simfoni Api Tengger–Semeru dan Tradisi Kasada

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *