MajmusSunda News – Bandung, Rabu (22/07/2026) – WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-29 dengan mengajak pembaca menjelajahi Aspiring Geopark Wallanae Bone-Soppeng-Wajo (BoSoWa) di Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana dinamika tektonik Sesar Wallanae membentuk bentang alam yang menyimpan kekayaan fosil purba, kawasan karst, danau, serta jejak panjang peradaban Bugis. Warisan geologi tersebut berpadu dengan keanekaragaman hayati, situs arkeologi, dan falsafah luhur masyarakat sebagai fondasi pengembangan pendidikan, konservasi, dan geowisata berkelanjutan.
Teman-teman, mari kita meluncur ke tatar Sulawesi Selatan: Aspiring Geopark Wallanae Bone-Soppeng-Wajo (BoSoWa). Di sini, kita merenungi kemegahan sistem struktural Sesar Wallanae yang mengangkat lapisan sedimen purba menjadi istana fosil darat prasejarah, bersanding selaras dengan sistem hidrologi paparan banjir Danau Tempe di Wajo, terbesar di Nusantara, aliansi bentang alam kompleks gunung api, kaldera, tower karst Bone, serta ketangguhan ajaran moral Sipatuo Sipatokkong. Jalinan megah ini menjadi bukti intim bagaimana takdir geologi purba direspons secara adiluhung oleh kebudayaan manusia demi mengunci kemandirian ekosistem masa depan. Keunikan toponimi Lembah Wallanae yang berakar dari bahasa Bugis kuno sebagai penanda aliran air pembebas menegaskan eksistensinya sebagai cagar bumi yang sangat pantas mendunia, memadukan kekayaan fosil gajah kerdil Pleistosen, inventarisasi delapan belas situs potensial geodiversity, keajaiban koloni kalong di pohon asam kota di Soppeng, hingga arsitektur rumah terapung nelayan tradisional.

Keunggulan abiotik (Abiotic) kawasan taman bumi ini dikontrol ketat oleh dinamika struktural jalur patahan regional aktif yang memahat bentang alam lembah secara dramatis. Pergerakan tektonik Sesar Aktif Wallanae memicu terbentuknya amblesan graben purba (Wallanae Depression) sebagai cekungan raksasa penampung material sedimen sungai bermutu tinggi. Kedaulatan fisis ini diperkuat oleh tiga domain bentang alam utama Kabupaten Bone yang membentang dari kompleks gunung api, kaldera, dan tower karst di bagian barat, gawir sesar di bagian tengah, hingga Gunung Api Kalamiseng, Cone Karst Taccipi, dan pesisir Teluk Bone di bagian timur. Sinergi tektonis lintaswilayah ini membekukan kekayaan laboratorium karst, terowongan prasejarah, serta hamparan basah dataran banjir Danau Tempe di tatar Wajo dengan kelimpahan warisan geologi yang tercatat lebih dari delapan belas situs potensial geodiversity bernilai tinggi, mulai dari labirin sungai bawah tanah Leang Uhallie, terowongan purba pelestari bekal kubur Leang Codong, situs hunian batu kapur raksasa Bola Batu, hingga jejaring lukisan cadas dinding gua purba Mallawa dan Cenrana. Di dalam sasis sedimen Formasi Walanae terkunci harta karun fosil gading gajah kerdil purba Stegodon sompoensis, babi purba raksasa bertaring tajam Celebochoerus heekereni, manifestasi geotermal Lejja, hingga muara depresi musiman terbesar di Nusantara.
Karakteristik fisik bentang alam yang hebat dan pasokan hara fosfat hidrotermal yang tinggi secara alami merawat pilar hayati (Biotic) berkasta tinggi yang teramat unik dan langka. Jantung Kota Watansoppeng menyajikan fenomena dunia berupa koloni ribuan kalong yang hidup menetap bergelantungan di tajuk pohon asam jawa raksasa berusia ratusan tahun tanpa pernah berpindah tempat. Bergeser ke zona tebing dan gua karst yang lembap, kawasan ini menjadi habitat alami kera hitam Sulawesi (Macaca maura), arthropoda gua endemik, serta burung Julang Sulawesi sebagai agen penyebar biji hutan. Kekayaan hayati dari hulu sungai mengalir menopang kesuburan kebun kakao Soppeng, cengkih Bone, serta ekosistem perikanan air tawar Danau Tempe yang menjadi habitat burung air migran internasional.
Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons kebudayaan manusia merajut warisan peradaban spiritual dan arkeologi yang sangat bernilai. Jejak lukisan cadas di gua-gua karst Bone berpadu harmonis dengan Situs Arkeologi Calio di Soppeng yang membuktikan Lembah Wallanae telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Kekayaan budaya ini diperkaya oleh Leang Uhallie, Leang Codong yang menyimpan bekal kubur dari Zaman Logam, Kompleks Gua Karst Bola Batu, lukisan cadas Mallawa dan Cenrana, hingga Situs Megalitik Titik Tengah Pulau Sulawesi di Umpungeng sebagai pusat kosmologi Bugis. Nilai-nilai luhur tersebut berpadu dengan naskah hukum pelayaran Amanagappa, tradisi tenun sutra Sengkang, serta falsafah Sipatuo Sipatokkong yang diwujudkan oleh Datu La Temmamala melalui larangan berburu koloni kalong sejak abad ke-14 demi menjaga keseimbangan ekosistem.
Oleh karena itu, pengembangan Aspiring Geopark Wallanae Bone-Soppeng-Wajo dirancang secara ksatria dengan memadukan tiga pilar konservasi, yaitu keragaman abiotik, biotik, dan kultural, serta tiga kegiatan utama berupa geowisata, edukasi, dan ekonomi sirkular sebagai strategi akselerasi taktis menuju penguatan status cagar taman bumi. Aliansi tiga tatar Bugis ini memperkuat sektor edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi melalui integrasi museum geologi dan arkeologi terpadu, pusat studi limnologi danau, serta laboratorium visual geologi prasejarah yang menampilkan replika fosil Stegodon dan babi purba tanpa merusak situs aslinya. Program pariwisata hijau dan wisata gua minat khusus dikembangkan secara terintegrasi dengan hilirisasi komoditas lokal, termasuk pengolahan ikan Bungo Bloso dan pengelolaan lestari Sidat Purba Masapi sebagai komoditas bernilai tinggi bagi masyarakat. Seluruh orkestrasi terpadu hulu-hilir berbasis pemberdayaan koperasi nelayan, pengrajin sutra, dan komunitas adat lokal ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat BoSoWa, sekaligus mengantar setiap insan untuk semakin menyadari Kuasa, Keajaiban, dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya.
#SulawesiSelatan #AspiringGeoparkWallanae #BoSoWa #Bone #Soppeng #Wajo #DanauTempe #StegodonSompoensis #SipatuoSipatokkong #WawasanKebangsaan

Judul: WISATABUMI NUSANTARA Seri-29: Dari Wallanae ke Bone via Soppeng dan Wajo: Kekayaan Fosil, Karst, Ikan Danau, dan Kultur Luhur
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












