Soldadu Diosol-osol dan Diadu-adu: 81 Tahun TNI Tentang Tentara, Negara dan Kesetiaan

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Senin (05/10/2026) – Kalau kita mendengar mars prajurit Siliwangi maka ada kalimat yang unik, soldadu! Diosol-osol dan diadu-adu. Kalimat yang terdengar jenaka, namun sarat makna. Soldadu adalah manusia yang ditempa menjadi prajurit. Ia siap digerakkan ke mana negara membutuhkan, menghadapi bahaya, bahkan mempertaruhkan hidupnya. Ia diosol-osol dan dapat diadu-adu ketika kepentingan perang atau kekuasaan membutuhkan kekuatan bersenjata. Di balik kelucuan ungkapan itu tersimpan pertanyaan serius, yang terasa relevan kita renungkan pada 81 tahun TNI. Untuk siapa tentara berdiri, dan kepada siapa sesungguhnya kesetiaannya diberikan?

Tentara lahir bersama kebutuhan manusia mempertahankan kehidupan bersama. Dari pasukan zaman kuno, legiun Romawi, kesatria abad pertengahan hingga tentara nasional negara modern, keberadaannya selalu berkaitan dengan ancaman dan pertahanan. Dalam negara modern, tentara menjadi institusi yang terorganisasi, memiliki disiplin, hierarki, doktrin, hukum, dan rantai komando. Ia bukan sekadar orang yang pandai berperang, melainkan instrumen negara yang diberi kewenangan menggunakan kekuatan secara terorganisasi dalam batas hukum. Di situlah kemuliaan sekaligus bahayanya. Tentara diperlukan untuk mempertahankan rakyat dan kedaulatan, tetapi kekuatan yang sama dapat menjadi ancaman ketika keluar dari kendali hukum dan konstitusi.

Hubungan tentara dengan masyarakat dan politik karena itu selalu menjadi persoalan penting. Sejarah dunia mengenal tentara yang menjadi penjaga negara, tetapi juga mengenal kudeta, junta, perang saudara, dan rezim militer ketika kekuatan bersenjata memasuki ruang politik terlalu jauh. Negara membutuhkan tentara yang kuat, tetapi negara demokratis juga membutuhkan tentara yang tunduk kepada supremasi sipil, hukum, dan konstitusi. Maka refleksi pada HUT TNI ke-81 bukan untuk mengecilkan peran tentara. Justru sebaliknya, ini bagian dari upaya menjaga kehormatan dan kepercayaan yang diberikan rakyat kepada TNI.

Indonesia memiliki pengalaman yang khas. Tentara Indonesia tumbuh bersama perjuangan kemerdekaan, bergerilya bersama rakyat, makan dari dapur rakyat, dan menghadapi risiko bersama rakyat. Dari pengalaman itu lahir gagasan tentara rakyat dan pertahanan keamanan rakyat semesta. Kita juga pernah mengalami masa ketika ABRI memiliki ruang sosial-politik yang sangat luas melalui Dwifungsi ABRI. Reformasi kemudian membawa perubahan penting dengan menempatkan TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan dalam kerangka demokrasi dan supremasi sipil. Perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah bangsa sekaligus pembelajaran tentang bagaimana kekuatan militer harus ditempatkan secara tepat dalam kehidupan negara.

Di usia 81 tahun, kita patut memberikan apresiasi kepada TNI. Ancaman terhadap negara kini tidak hanya berupa perang konvensional, tetapi juga terorisme, siber, konflik perbatasan, perang informasi, bencana, dan perubahan geopolitik. TNI dituntut semakin profesional, menguasai teknologi, tangguh secara mental, sekaligus tetap dekat dengan rakyat. Namun apresiasi tidak berarti meniadakan kritik. Institusi dengan mandat sebesar TNI justru membutuhkan kontrol publik yang sehat. Profesionalisme harus terus diperkuat, kesejahteraan prajurit diperhatikan, penggunaan kekuatan berada dalam koridor hukum, dan setiap perluasan peran memiliki dasar konstitusional serta alasan kepentingan nasional yang jelas.

Pada titik ini saya kembali teringat kalimat dalam mars Siliwangi itu, diosol-osol dan diadu-adu. Prajurit memang harus siap diperintah, tetapi jangan sampai menjadi alat bagi kepentingan siapa pun. Tentara boleh kuat, tetapi kekuatannya harus berada di bawah negara. Ia boleh memahami arah politik bangsa, tetapi loyalitas politik praktisnya tidak boleh berpindah kepada pribadi, kelompok, partai, atau kepentingan kekuasaan tertentu. Ia adalah tentara rakyat karena sumber kekuatannya berasal dari rakyat, tetapi ia adalah tentara negara. Karena itu, loyalitas tertingginya harus kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, konstitusi, dan hukum.

Delapan puluh satu tahun TNI adalah perjalanan panjang yang patut dihormati sekaligus direnungkan. Bangsa ini membutuhkan tentara yang gagah di medan latihan, tetapi juga gagah menjaga batas antara kepentingan negara dan kepentingan penguasa, antara loyalitas institusional dan loyalitas pribadi. Soldadu boleh diosol-osol oleh perintah yang sah, tetapi jangan sampai diadu-adu oleh kepentingan yang memecah bangsa. Semoga TNI semakin kuat tanpa kehilangan kerendahan hati, semakin profesional tanpa menjauh dari rakyat, semakin modern tanpa kehilangan jati diri, dan semakin kokoh sebagai tentara rakyat yang loyalitas tertingginya hanya kepada negara.

*Dirgahayu TNI ke-81.*

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Soldadu Diosol-osol dan Diadu-adu: 81 Tahun TNI Tentang Tentara, Negaram dan Kesetiaan
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *