MajmusSunda News, Jawa Barat, Selasa (27/10/2026) – Jawaban kini dapat diperoleh lebih cepat daripada waktu yang diperlukan untuk memahami sebuah pertanyaan. Mesin pencari, media sosial, dan kecerdasan buatan (*artificial intelligence* atau AI) membantu manusia menemukan informasi, menyusun analisis, bahkan merumuskan keputusan. Kelimpahan fasilitas tersebut seharusnya memperkuat kemampuan intelektual. Namun, kemudahan memperoleh jawaban tidak otomatis meningkatkan kemampuan menilai kebenarannya.
Bahaya bagi sebuah bangsa muncul ketika masyarakat semakin terbiasa menerima kesimpulan tanpa memeriksa alasan, sumber, dan bukti. Perilaku tersebut tidak hanya memengaruhi keputusan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kualitas perdebatan publik, pengawasan kekuasaan, dan kemampuan negara memperbaiki kebijakannya sendiri.
**Kemunduran daya kritis dapat menjadi ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia, demokrasi, dan tata kelola negara, sekalipun kemajuan teknologi terus berlangsung.**
## Konten Instan dan Daya Tahan Intelektual
Video pendek, tayangan receh, dan arus informasi tanpa henti menawarkan rangsangan baru setiap beberapa detik. Format singkat tentu tidak identik dengan konten buruk. Penjelasan ilmiah pun dapat disampaikan melalui video singkat yang berkualitas. Persoalan muncul ketika konsumsi pasif menjadi kebiasaan dominan, sementara kegiatan membaca mendalam, mengikuti argumentasi panjang, dan memeriksa konteks semakin tersisih.
Istilah *brain rot*, yang dipilih Oxford sebagai *Word of the Year* 2024, menggambarkan kekhawatiran terhadap konsumsi berlebihan konten dangkal. Istilah tersebut bukan diagnosis medis ataupun bukti kerusakan otak secara fisik.
Meta-analisis tahun 2025 yang mencakup 71 penelitian dengan 98.299 partisipan menemukan hubungan antara penggunaan video pendek yang lebih tinggi dan kemampuan perhatian serta pengendalian impuls yang lebih rendah. Hubungan statistik tersebut tidak membuktikan sebab-akibat, apalagi penurunan kecerdasan secara permanen.
Persoalan yang patut mendapat perhatian adalah melemahnya *daya tahan intelektual*, yakni kesediaan menjalani proses berpikir yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan konsentrasi. Masalah sosial, ekonomi, maupun politik yang kompleks tidak mungkin selalu dipahami secara utuh melalui potongan informasi singkat.
Kebiasaan mencari hiburan dan informasi instan berisiko mengurangi kesempatan melatih kemampuan tersebut, terutama ketika algoritma platform digital terus menawarkan konten baru yang lebih menarik perhatian.
## AI dan Kebiasaan Menyerahkan Penilaian
Manusia telah lama menggunakan alat untuk meringankan pekerjaan mental. Catatan membantu ingatan, kalkulator mempermudah perhitungan, dan komputer mempercepat pengolahan data. Ilmu kognitif mengenal praktik ini sebagai *cognitive offloading*, yaitu pengalihan sebagian beban mental kepada perangkat.
AI menghadirkan persoalan yang berbeda karena teknologi ini juga mampu menghasilkan penjelasan, argumentasi, dan rekomendasi yang tampak meyakinkan. Jawaban yang disusun dengan bahasa lancar belum tentu memiliki dasar informasi yang benar.
Penelitian Microsoft Research bersama Carnegie Mellon University pada 2025 terhadap 319 pekerja pengetahuan menemukan hubungan antara tingkat kepercayaan yang lebih tinggi kepada AI dan keterlibatan berpikir kritis yang lebih rendah ketika menggunakan teknologi tersebut.
Penelitian itu tidak membuktikan bahwa AI menurunkan IQ. Temuannya menunjukkan pentingnya menjaga keterlibatan manusia dalam memeriksa informasi, membandingkan alternatif, dan mengevaluasi hasil.
**AI seharusnya menjadi penguat kemampuan berpikir, bukan pengganti tanggung jawab manusia untuk berpikir.** Teknologi dapat membantu menemukan kelemahan argumentasi dan menguji konsistensi data, tetapi keputusan akhir tetap memerlukan penilaian manusia yang dapat dipertanggungjawabkan.
## Pendidikan dan Lemahnya Fondasi Penalaran
Kebiasaan berpikir kritis mulai terbentuk jauh sebelum seseorang mengenal media sosial atau AI. Pendidikan memiliki tanggung jawab untuk melatih kemampuan memahami bacaan, menyusun argumentasi, mengajukan pertanyaan, dan mengevaluasi bukti.
Sistem pembelajaran yang terlalu mengutamakan hafalan, kepatuhan, dan ketepatan jawaban akhir berisiko mengurangi kesempatan peserta didik mengembangkan kemampuan tersebut. Padahal, kualitas penalaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjawab, tetapi juga oleh kemampuan memahami mengapa suatu jawaban dapat dinyatakan benar.
Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa hanya **27% siswa Indonesia berusia 15 tahun mencapai kompetensi minimum membaca, 17% matematika, dan 37% sains**. Capaian rata-rata Indonesia secara statistik relatif sama dengan 2022, tetapi masih berada di bawah hasil 2015.
PISA bukan pengukuran langsung terhadap daya kritis seluruh masyarakat Indonesia. Meski demikian, rendahnya penguasaan kompetensi dasar tersebut menunjukkan tantangan serius bagi pengembangan kemampuan bernalar dan memahami persoalan kompleks.
Lingkungan sosial juga memiliki pengaruh. Anak yang bertanya tidak semestinya dianggap membantah guru, sebagaimana warga yang mengkritik kebijakan tidak otomatis memusuhi pemerintah.
**Budaya yang lebih menghargai kepatuhan daripada argumentasi berisiko melahirkan masyarakat yang terbiasa menerima pendapat, tetapi kurang terlatih mengujinya.**
## Ketika Kesalahan Kebijakan Sulit Dikoreksi
Daya kritis merupakan bagian dari infrastruktur intelektual sebuah negara. Kemampuannya tidak terlihat seperti jalan, jembatan, atau jaringan telekomunikasi, tetapi berperan penting dalam menentukan kualitas keputusan publik.
Penelitian Gordon Pennycook dan David Rand pada 2019 menemukan bahwa kemampuan berpikir analitis berkaitan dengan kemampuan membedakan berita benar dan berita palsu. Temuan ini memperlihatkan pentingnya penalaran dalam menghadapi disinformasi, meskipun perilaku politik masyarakat tentu dipengaruhi berbagai faktor lain.
Kualitas demokrasi dapat melemah ketika masyarakat lebih memperhatikan identitas tokoh dan kelompok pendukungnya daripada substansi kebijakan. Popularitas menggantikan evaluasi, sementara loyalitas politik digunakan untuk mengabaikan data yang tidak sesuai dengan harapan.
Dampaknya terhadap tata kelola pemerintahan tidak bisa dianggap ringan. Program yang tidak efektif dapat terus memperoleh anggaran apabila indikator keberhasilannya kabur, laporan pelaksanaannya sulit diperiksa, dan evaluasi independen tidak mendapatkan ruang.
Pemerintah membutuhkan umpan balik yang objektif untuk mengetahui apakah kebijakan benar-benar mencapai tujuan. Masyarakat pun memerlukan akses informasi agar mampu mengawasi penggunaan sumber daya publik.
**Kegagalan terbesar sebuah negara bukan semata menghasilkan kebijakan yang keliru, melainkan kehilangan kemampuan untuk mengoreksi kebijakan tersebut setelah bukti kegagalannya tersedia.**
## Memperkuat Kemampuan Mengoreksi Diri
Penguatan daya kritis membutuhkan pendekatan sistematis yang mencakup pendidikan, literasi digital, dan tata kelola pemerintahan.
Pendidikan perlu mengembangkan pembelajaran berbasis penalaran, kemampuan membaca mendalam, penyusunan argumentasi, serta evaluasi informasi. Keberhasilan program literasi tidak cukup diukur melalui jumlah peserta pelatihan, perangkat digital yang dibagikan, atau perluasan akses internet.
Indikatornya harus mencerminkan peningkatan kemampuan memahami informasi, memeriksa sumber, menguji klaim, dan mengambil kesimpulan berdasarkan bukti.
Penggunaan AI juga perlu disertai kemampuan verifikasi dan tanggung jawab intelektual. Sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pemerintah perlu membangun standar penggunaan teknologi yang tidak menghilangkan kewajiban manusia untuk mengevaluasi hasilnya.
Tata kelola pemerintahan memerlukan penguatan serupa. Setiap program publik seharusnya memiliki indikator keberhasilan yang terukur, data pelaksanaan yang dapat diperiksa, serta mekanisme evaluasi dan koreksi yang independen.
UNESCO melalui *Global Education Monitoring Report 2023* mengingatkan bahwa penggunaan teknologi pendidikan harus mengikuti kebutuhan pembelajaran dan bukti manfaatnya. Teknologi merupakan instrumen untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri.
Prinsip tersebut berlaku pula bagi pembangunan nasional. Modernisasi perangkat dan sistem harus disertai peningkatan kualitas sumber daya manusia, keterbukaan informasi, dan kemampuan mengevaluasi keputusan.
## Masa Depan Bangsa dan Keberanian Mengakui Kesalahan
Sebuah bangsa tidak mungkin terbebas dari keputusan yang keliru. Bahkan negara dengan sistem pendidikan, teknologi, dan pemerintahan yang maju tetap menghadapi persoalan kompleks yang membutuhkan perbaikan berkelanjutan.
Perbedaannya terletak pada kemampuan mengenali kesalahan, menerima kritik, menggunakan bukti, dan memperbaiki arah kebijakan.
Masyarakat yang terbiasa berpikir kritis memiliki kesempatan lebih besar untuk menilai persoalan secara rasional. Pemerintahan yang menghargai kritik memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi kegagalan sebelum dampaknya semakin luas.
**Bangsa yang menolak kritik dan mengabaikan bukti mungkin tetap terlihat sibuk membangun, tetapi berisiko mengulang kesalahan dengan biaya sosial dan ekonomi yang semakin mahal.**
Ancaman terbesar bukan sekadar masyarakat berhenti bertanya. Ancaman itu menjadi jauh lebih serius ketika negara kehilangan kemampuan mendengar jawaban yang tidak disukainya, terutama ketika jawaban tersebut menunjukkan bahwa kebijakannya sendiri perlu diperbaiki.
—
**Eep S. Maqdir**
27 Oktober 2026
## Referensi
1. OECD. (2026). *PISA 2025 Results (Volume I): Indonesia*. Organisation for Economic Co-operation and Development.
https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2025-results-volume-i-country-notes_2d4ff9ea-en/indonesia_9c880f8a-en.html
2. Nguyen, L., et al. (2025). “Feeds, feelings, and focus: A systematic review and meta-analysis examining the cognitive and mental health correlates of short-form video use.” *Psychological Bulletin*, 151(9), 1125–1146.
https://doi.org/10.1037/bul0000498
3. Lee, H.-P., et al. (2025). “The Impact of Generative AI on Critical Thinking: Self-Reported Reductions in Cognitive Effort and Confidence Effects From a Survey of Knowledge Workers.” *Proceedings of CHI 2025*.
https://doi.org/10.1145/3706598.3713778
4. Pennycook, G., & Rand, D. G. (2019). “Lazy, not biased: Susceptibility to partisan fake news is better explained by lack of reasoning than by motivated reasoning.” *Cognition*, 188, 39–50.
https://doi.org/10.1016/j.cognition.2018.06.011
5. UNESCO. (2023). *Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education—A Tool on Whose Terms?*
https://www.unesco.org/gem-report/en/publication/technology
6. Oxford University Press. (2024). “Brain rot named Oxford Word of the Year 2024.”
***
Judul: Bahaya Kemunduran Daya Kritis Sebuah Bangsa: Ketika Teknologi Semakin Cerdas, Manusia Semakin Enggan Berpikir
Penulis: Kang Eep
Editor: Raka Alvaro Triputra












