GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-60: “Nalar Purba dan Batas Memori Visual: Anatomi Geomythology Legenda Sangkuriang”

Oleh: Oman Abdurahman

Legenda Sangkuriang

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah secara mendalam batas parameter, metodologi penskalaan waktu manusia, dan resolusi teoretis atas anomali kronologi dalam subdisiplin mitologi geologi Legenda Sangkuriang melalui kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan paradoks benturan usia batuan tua Bukittunggul dengan kerucut muda Tangkubanparahu, analisis cara pandang pertama mengenai penyatuan dua fragmen epik geologi yang terpisah oleh pujangga abad kelima belas, cara pandang kedua berbasis teori penskalaan waktu visual manusia prasejarah yang mengaitkan bentang alam statis dengan menara api dinamis, jembatan dekonstruksi hermeneutika yang mendudukkan kelemahan mitos sebagai sifat dasar ingatan komunal purba, hingga epilog kebangsaan berupa manifesto pemanfaatan kecerdasan literasi budaya demi kejayaan kedaulatan sains lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Paradoks Garis Waktu Batuan: Benturan Kronostratigrafi Mitos dan Anomali Geokronologi di Rahim Lembang

Mengevaluasi kesebangunan antara tradisi tutur lokal Tatar Pasundan dan rekaman fisik Bumi menuntut ketajaman nalar kritis untuk berani menatap celah anomali kronologi yang sangat nyata. Secara geokronologi Kuarter, sains batuan menunjukkan adanya benturan waktu yang ekstrem dalam alur cerita rekayasa perahu Sangkuriang. Fakta lapangan menunjukkan bahwa Gunung Bukittunggul di poros timur dan Gunung Burangrang di poros barat adalah menara api yang usianya sangat tua karena telah membeku sejak ratusan ribu tahun lalu. Keduanya berdiri kontras dengan kerucut aktif Gunung Tangkubanparahu yang baru lahir belakangan di dasar lantai kaldera purba. Paradoks sains ini memicu pertanyaan teoretis yang sangat mendasar: bagaimana mungkin proyek perakitan bahtera dalam satu malam mampu menyatukan material sasis batuan purba yang terpaut waktu ratusan milenium dengan kelahiran menara api termuda menjadi satu alur cerita linier yang logis tanpa terjebak dalam bias dongeng absurd yang cacat logika kebumian?

2. Resolusi Cara Pandang Pertama: Asimilasi Dua Fragmen Epik Geologi Terpisah dalam Sastra Kuno Abad Kelima Belas

Kebuntuan kronologi tersebut diurai melalui cara pandang pertama, yang mendudukkan teks Legenda Sangkuriang sebagai produk asimilasi dua fragmen epik geologi dari zaman yang berbeda. Melalui pisau analisis filologi, budayawan kuno seperti resi kelana Bujanggamanik pada abad kelima belas disinyalir mengumpulkan ingatan-ingatan visual dari kompartemen waktu yang terpisah, lalu merajutnya ke dalam satu kesatuan alur cerita demi estetika sastra tingkat tinggi. Fragmen pertama merekam keberadaan spasial tubuh pejal Bukittunggul dan Burangrang yang secara visual telah tumpul dan tererosi kuat, laksana sisa potongan kayu purba. Sementara itu, fragmen kedua merekam bencana kataklismik jangka pendek berskala besar berupa pembendungan sungai, lahirnya danau raksasa, hingga munculnya kubah lava baru di tengah kepundan. Penyatuan dua fragmen purba yang terpisah ratusan ribu tahun ini menunjukkan bagaimana teks lokal dapat dipahami sebagai media interkoneksi sejarah Bumi yang merangkum beragam informasi alam ke dalam satu naskah sastra yang terstruktur rapi.

3. Resolusi Cara Pandang Kedua: Teori Penskalaan Waktu Manusia Berbasis Asosiasi Visual Lanskap Statis dan Dinamis

Kajian mitologi geologi (geomythology) menjadi semakin menarik ketika anomali tersebut dibedah melalui cara pandang kedua, yaitu teori penskalaan waktu manusia (human time-scaling) berbasis prioritas ingatan visual prasejarah. Bagi komunitas manusia purba yang mendiami tepian Danau Bandung belasan ribu tahun lalu, Gunung Bukittunggul dan Gunung Burangrang dapat dipandang sebagai benteng alam statis raksasa yang keadaannya relatif konstan sejak era leluhur terdahulu. Ketika aktivitas magmatik dinamis melahirkan kerucut baru Tangkubanparahu dan mengubah rupa Bumi yang terlihat oleh mereka dalam hitungan hari, nalar intuitif prasejarah secara kreatif membangun hubungan sebab-akibat sosiologis. Dalam kesadaran spasial manusia purba, menara aktif yang baru tumbuh dan menyerupai perahu tertelungkup itu secara visual diasosiasikan sebagai hasil bentukan atau sisa amukan material yang ditarik dari jajaran gunung-gunung raksasa yang telah berdiri statis di sekeliling mangkuk kaldera.

4. Dekonstruksi Hermeneutika Memori Kuno: Batasan Sifat Dasar Ingatan Komunal dan Kekuatan Enkripsi Data Alam

Melalui perpaduan dua sudut pandang teoretis tersebut, hal yang selama ini dianggap sebagai kelemahan atau cacat logika dalam cerita rakyat dapat didekonstruksi sebagai bagian dari sifat dasar mekanisme kerja memori kolektif purba. Ingatan manusia prasejarah yang diwariskan melalui tradisi lisan berantai selama puluhan ribu tahun tidak akan mampu menyimpan angka tahun absolut secara matematis, melainkan mengunci ingatan tentang perubahan rupa Bumi berdasarkan prioritas visual yang dramatis. Kelemahan mitos yang mencampuradukkan garis waktu batuan dapat dipahami sebagai dampak keterbatasan sistem penanggalan kuno. Namun, kekuatan petunjuk geografisnya tetap dapat dikaji sebagai rekaman dinamika tektono-vulkanik. Hal ini menegaskan nilai literasi lokal bahwa cerita rakyat Sunda bukan sekadar fiksi fantasi tanpa arah, melainkan laboratorium semiotika alam yang berpotensi mengawetkan ingatan tentang bencana geologi berskala besar melalui simbol-simbol budaya yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakatnya.

5. Epilog Geowisata: Manifesto Kecerdasan Literasi Budaya, Gerakan Sains Warga, dan Daulat Lingkungan NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menembus labirin nalar purba dan batas memori visual Legenda Sangkuriang membawa kita pada kesimpulan etis mengenai pentingnya memperjuangkan kecerdasan literasi budaya berbasis sains. Khazanah mitologi geologi Tatar Pasundan ini perlu diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memicu gerakan sains warga, mengajarkan masyarakat hilir Cekungan Bandung masa kini agar mampu membaca isyarat alam dan memahami risiko kebencanaan melalui warisan cerita leluhur secara bijaksana. Melindungi integritas cagar geologi, mulai dari poros Bukittunggul di timur hingga benteng Burangrang di barat, dari ancaman alih fungsi lahan komersial yang tidak terkendali merupakan tindakan bela negara intelektual. Mengintegrasikan penafsiran hermeneutika sastra lingkungan dengan parameter mitigasi kegempaan Badan Geologi merupakan wujud nyata perlindungan ruang hidup. Mari jaga warisan pemikiran luhur dan ketegasan moral hukum adat demi menegakkan kedaulatan ilmu pengetahuan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah perubahan zaman!

#GeowisataNusantara #SeriBS-60 #NalarPurbaGeomythology #BatasMemoriVisual #FragmenEpikGeologi #BujanggamanikAbad15 #TeoriPenskalaanWaktu #LanskapStatisDinamika #GunungBukittunggulTua #GunungBurangrangBergerigi #EvolusiGunungSunda #GunungTangkubanparahuMuda #DanauBandungPurba #BelaNegaraIntelektual #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-60: “Nalar Purba dan Batas Memori Visual: Anatomi Geomythology Legenda Sangkuriang”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *