WISATABUMI NUSANTARA #Seri-43: “Bandung Raya: Letusan Dahsyat, Danau Purba, Sesar Lembang, dan Perkembangan Megapolitan”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (04/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-43 dengan mengajak pembaca menelusuri sejarah kebumian Bandung Raya yang terbentuk melalui rangkaian letusan gunung api purba, pembentukan Danau Bandung Purba, aktivitas Sesar Lembang, hingga berkembang menjadi kawasan megapolitan terbesar di Tatar Sunda. Melalui perspektif vulkanologi, geomorfologi, hidrologi, ekologi, dan sosiokultural, seri ini mengulas evolusi Gunung Sunda Purba, dinamika Cekungan Bandung, tantangan krisis air, serta warisan budaya dan ilmu pengetahuan yang menjadikan Bandung sebagai salah satu laboratorium kebumian terpenting di Indonesia.

1. Warisan Gunung Sunda Purba dan Kelahiran Cekungan Bandung Raya

Pesona bentang alam bagian tengah Tatar Sunda dipahat oleh rangkaian peristiwa geologi dahsyat sejak sekitar 500 ribu tahun yang lalu. Pada masa tersebut berdiri Gunung Jayagiri yang kemudian berkembang menjadi Gunung Sunda Purba dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter. Letusan besar sekitar 102 ribu tahun lalu menghasilkan endapan abu vulkanik, batu apung, breksi vulkanik, dan ignimbrit yang kini dapat dijumpai di berbagai kawasan, seperti Gunung Putri Lembang, lereng Gunung Manglayang, hingga kawasan THR Ir. H. Djuanda. Runtuhnya tubuh Gunung Sunda Purba membentuk kaldera raksasa yang kemudian melahirkan Gunung Tangkuban Parahu serta membendung aliran Sungai Citarum Purba sehingga terbentuk Danau Bandung Purba yang membentang luas di Cekungan Bandung. Setelah bendungan alami tersebut jebol, dasar danau berubah menjadi dataran subur yang kemudian berkembang menjadi kawasan metropolitan Bandung Raya. Bentang alam purba ini menjadi pengingat akan Kuasa dan Keagungan Sang Pangripta Jagat Raya dalam membentuk ruang kehidupan manusia.

2. Teori Baru Pengeringan Danau Purba, Lava Pahoehoe, dan Jejak Magmatisme Tua

Sejarah Cekungan Bandung memasuki fase penting ketika Danau Bandung Purba terbagi menjadi dua bagian, yakni sektor timur dan barat, yang dipisahkan oleh perbukitan dari Lagadar hingga Jompong. Berdasarkan hasil penelitian T. Bachtiar, proses pengeringan danau berlangsung bertahap melalui kawasan Curug Jompong untuk sektor timur dan sekitar Cirahong untuk sektor barat, bukan melalui Sanghyang Tikoro sebagaimana teori yang berkembang sebelumnya. Endapan lempung Formasi Kosambi yang tersisa kini menjadi lapisan utama di sebagian besar wilayah Kota Bandung. Di sisi lain, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu meninggalkan fenomena unik berupa lava pahoehoe di kawasan Batu Karembong yang merupakan salah satu contoh langka lava bertali di wilayah tropis. Berbagai singkapan lava di Curug Dago, Curug Maribaya, Batu Templek, Batunyusun, Batukuda, hingga obsidian Nagreg menjadi bukti panjangnya sejarah magmatisme yang telah berlangsung sejak satu hingga dua juta tahun silam.

3. Krisis Air Perkotaan dan Sabuk Hijau Penjaga Hidrologi

Kesuburan tanah vulkanik yang menyelimuti lereng-lereng Bandung Raya menjadikan kawasan ini sebagai daerah resapan air yang sangat penting bagi kehidupan metropolitan. Namun, pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan telah menyebabkan kawasan Bandung menghadapi ancaman krisis air yang semakin serius. Hutan lindung di utara dan selatan Citarum kini memegang peranan penting sebagai benteng ekologis yang menjaga ketersediaan air tanah sekaligus melindungi lereng dari ancaman longsor. Kawasan Gunung Tangkuban Parahu juga menjadi laboratorium alami suksesi primer yang ditumbuhi vegetasi khas seperti Cantigi (Vaccinium varingiaefolium), Manisrejo, bambu lokal, dan berbagai jenis paku-pakuan. Ekosistem tersebut menjadi habitat satwa liar, antara lain Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Surili (Presbytis comata), dan Owa Jawa (Hylobates moloch). Oleh karena itu, pelestarian Kawasan Bandung Utara beserta pembangunan sumur resapan dan sistem Rain Water Harvesting menjadi langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di masa depan.

Wisatabumi Nusantara
Foto: Lokamaya/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

4. Geomitologi Sangkuriang, Toponimi Bandung, Sesar Lembang, dan Warisan Ilmu Pengetahuan

Pada dimensi sosiokultural, Legenda Sangkuriang merupakan salah satu geomitologi Nusantara yang diyakini merekam memori kolektif mengenai terbentuknya Danau Bandung Purba. Kisah tersebut memiliki kemiripan yang menarik dengan hasil penelitian geologi modern sehingga turut diabadikan oleh Van Bemmelen dalam The Geology of Indonesia. Nama Bandung sendiri diyakini berkaitan dengan bentang alam danau purba dan dua bukit yang saling berhadapan. Di era modern, keberadaan Sesar Lembang menjadi perhatian penting karena aktivitas tektoniknya masih berlangsung dan berpotensi menjadi sumber gempa bumi di masa mendatang. Selain kekayaan geologi, Bandung Raya juga memiliki warisan budaya berupa Benjang, Helaran, Kecapi Suling, Pencak Silat, serta berbagai seni kontemporer. Kawasan ini turut menyimpan jejak sejarah melalui Museum Geologi, Perpustakaan Pusat Survei Geologi, Institut Teknologi Bandung, Observatorium Bosscha, Gua Belanda, Gua Jepang, hingga Prasasti Raja Siam di Curug Dago. Keseluruhan warisan tersebut menjadikan Bandung Raya sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan, budaya, dan penelitian kebumian yang memiliki nilai strategis di tingkat nasional maupun internasional.

5. Penutup: Kompas Strategis Geowisata untuk Ketahanan Masa Depan Bandung Raya

Oleh karena itu, sejarah geologi Bandung Raya harus menjadi landasan utama dalam setiap perencanaan pembangunan kawasan metropolitan. Karakteristik lapisan lempung bekas Danau Bandung Purba, keberadaan Sesar Lembang, serta tantangan krisis air memerlukan pendekatan Geologi Lingkungan yang terpadu. Penghijauan kembali Kawasan Bandung Utara sebagai kawasan tangkapan air, pengembangan sistem Rain Water Harvesting, pengelolaan limbah peternakan melalui konsep Waste to Agriculture, serta optimalisasi jaringan air permukaan menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini. Di sisi lain, pengembangan Geowisata maupun Geopark Bandung Raya perlu diarahkan untuk memperkuat konservasi lingkungan, pendidikan kebumian, riset ilmiah, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami perjalanan panjang terbentuknya Bandung Raya, masyarakat tidak hanya menjaga warisan geologi dan budaya, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan megapolitan yang tangguh, berkelanjutan, dan berwawasan kebangsaan.

#JawaBarat #BandungRaya #GunungSundaPurba #DanauBandungPurba #CekunganBandung #SesarLembang #GunungTangkubanParahu #Geowisata #GeoparkBandungRaya #KawasanBandungUtara #THRDjuanda #ObservatoriumBosscha #MuseumGeologi #WawasanKebangsaan

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-43: “Bandung Raya: Letusan Dahsyat, Danau Purba, Sesar Lembang, dan Perkembangan Megapolitan”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *