MajmusSunda News, Minggu (26/07/2026) – Dari satu sudut mushola saya mengamati seorang ustadz muda sedang memberi tausiyah tentang pentingnya belajar pada anak-anak yang sedang mengaji. Dari melihat dan mendengar itu lantas ada pertanyaan yang barangkali kita jawab dengan gelar, jabatan, publikasi, indeks sitasi, atau deretan angka yang tersusun rapi di dalam sistem akademik. “Apa sebenarnya guru itu?”
Saya pernah membaca sebuah kisah tentang sebuah koin kecil yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Nilainya tidak seberapa. Barangkali pernah jatuh di jalan, terselip di saku, atau hampir dilupakan di atas sebuah meja. Namun pada suatu hari, ia berada di tangan seseorang yang sedang sangat membutuhkannya. Bukan untuk membeli sesuatu yang mewah. Mungkin hanya untuk membeli makanan, membayar ongkos perjalanan, atau melanjutkan langkah menuju tempat seseorang sedang menuntut ilmu.
Di sana, sebuah koin kecil dapat menjadi lebih panjang daripada ukurannya. Ia dapat menjadi ongkos menuju sekolah, bagian dari uang makan seorang anak, atau pelengkap biaya buku. Pendidikan sering kali berjalan dengan cara demikian. Tidak selalu ditopang oleh sesuatu yang besar. Kadang ia terus bergerak karena banyak hal kecil yang datang pada waktunya.
Barangkali koin itu tidak pernah tahu bahwa ia sedang ikut menemani seseorang dalam _tholabul ilmi_. Ia hanya berpindah, dari satu tangan ke tangan lain, dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Namun di antara perpindahannya, mungkin ada seorang anak yang tetap dapat berangkat, seorang pelajar yang tetap dapat duduk di ruang belajar, atau seseorang yang tidak perlu menghentikan langkahnya hanya karena hari itu isi sakunya terlalu sedikit.
Barangkali demikian pula kebaikan. Ada yang kita lakukan dengan sederhana, lalu kita lupakan. Ada uang yang pernah kita berikan, waktu yang pernah kita luangkan, atau pertolongan yang saat itu terasa kecil. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan, sementara sesuatu yang kita lepaskan terus berjalan di luar pengetahuan kita.
Hingga pada suatu hari, ketika kehidupan membawa kita sendiri ke sebuah tempat yang sulit, ketika isi saku tidak cukup dan jalan terasa lebih panjang daripada biasanya, seseorang datang membawa sesuatu yang tidak banyak. Mungkin hanya sedikit uang, sebuah tumpangan, atau kalimat yang membuat langkah tidak jadi berhenti. Namun entah mengapa, sesuatu yang kecil itu tiba pada saat yang tepat.
_Tholabul ilmi_ tidak selalu berjalan di jalan yang lapang. Ada yang menempuhnya dengan bekal sederhana, perjalanan panjang, dan banyak kebutuhan yang harus disisihkan. Kadang sebuah koin menjadi bagian kecil dari perjalanan itu. Tidak tercatat dalam ijazah, tidak terlihat dalam gelar, tetapi pernah hadir pada suatu pagi ketika seseorang hampir tidak dapat berangkat, lalu sebuah koin membuat langkahnya tetap berlanjut.
Maka koin itu terus berjalan. Tidak membawa cerita tentang siapa yang pernah memegangnya. Namun mungkin, di antara perpindahannya, ada buku yang akhirnya terbeli, ada perut yang sedikit terisi, dan ada perjalanan ilmu yang tidak terputus. Dan pada suatu hari yang jauh, seseorang yang pernah ditolong oleh koin kecil itu mungkin akan melakukan hal yang sama kepada kehidupan lain. Bukan dengan koin yang sama, tentu saja, melainkan dengan kebaikan yang pernah membuatnya mampu terus berjalan.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Sebuah Koin dan Tholabul Ilmi
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












