MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (29/08/2026) – Dari jalur pendakian Tampomas, Sanghyang Taraje mungkin hanya tampak sebagai sebuah nama di antara banyak nama yang melekat pada gunung ini. Namun, Sanghyang Taraje tidak serta-merta hadir sebagai sebuah situs. Ia lebih dulu hadir sebagai bagian dari perjalanan, sesuatu yang mungkin saja terlewat jika kita terlalu sibuk menghitung tanjakan dan mengejar puncak.
Ketika kita mulai berjalan menembus jalurnya, Gunung Tampomas perlahan membuka lapisan-lapisan lain dari dirinya. Ada mata air, pepohonan tua, jalan yang pernah dilalui manusia, nama-nama tempat, dan peninggalan bersejarah yang menjadi penghubung antara kehidupan hari ini dengan masa yang telah lama berlalu.
Di antara bentang alam Gunung Tampomas, terdapat sebuah tempat yang dikenal sebagai Sanghyang Taraje. Namanya terdengar seperti sesuatu yang berasal dari dunia yang jauh. Namun, tempat ini bukan semata-mata nama dalam cerita masyarakat. Sanghyang Taraje menyimpan peninggalan arkeologis yang memperlihatkan jejak tradisi megalitik di kawasan Gunung Tampomas. Tempat ini pernah diteliti dan hasilnya kemudian diterbitkan dalam Berkala Arkeologi dengan judul Sanghyang Taraje, Tinggalan Tradisi Megalitik di Gunung Tampomas.

Istilah megalitik membawa kita pada suatu masa ketika batu bukan hanya bagian dari alam, tetapi dapat ditempatkan, disusun, dan digunakan sebagai bagian dari aktivitas manusia. Batu menjadi medium yang relatif tahan terhadap waktu. Ketika bangunan dari bahan lain telah hilang, batu sering kali menjadi bagian yang masih dapat ditemukan oleh generasi berikutnya. Itulah yang membuat tinggalan seperti Sanghyang Taraje menarik.
Ia tidak hadir sebagai bangunan yang masih utuh sebagaimana bangunan yang baru saja ditinggalkan. Selama waktu yang panjang itu, hutan tumbuh dan berganti, tanah berubah, dan manusia datang silih berganti. Dan berbagai bagian dari bangunan masa lalu mungkin telah berubah atau tidak lagi ditemukan dalam keadaan semula. Namun, sebagian jejak tetap bertahan.
Dalam penelitian tersebut dicatat sejumlah unsur tinggalan, antara lain arca menhir, batu tatapakan atau umpak, batu ajeg, dan batu kasur. Benda-benda itu menjadi bagian penting dalam memahami karakter situs Sanghyang Taraje sebagai tinggalan tradisi megalitik.
Tinggalan itu bukan berdiri sendiri sebagai batu-batu yang tersebar. Penelitian Koestoro menggambarkan Sanghyang Taraje sebagai bangunan berundak dengan tiga teras atau halaman, yang bagian-bagiannya dihubungkan oleh anak tangga batu. Saat melihatnya langsung, susunan itu memang masih dapat dikenali, meskipun sebagian telah menyatu dengan tanah dan lingkungan di sekitarnya. Perbedaan ketinggian antar bagiannya membuat saya lebih mudah membayangkan bagaimana tempat ini dahulu disusun sebagai sebuah ruang, bukan sekadar tempat berkumpulnya batu-batu.
Bagi mata yang terbiasa melihat gunung sebagai tempat pendakian, benda-benda tersebut mungkin tampak sederhana. Sebuah batu tetaplah batu. Ia tidak bergerak, tidak berbicara, dan tidak memberikan penjelasan mengenai siapa yang pernah menggunakannya. Tetapi justru karena itulah arkeologi menjadi penting. Ia mencoba membaca sesuatu yang telah kehilangan suara.
Sebuah batu yang berdiri mungkin pernah ditempatkan dengan sengaja. Sebuah tatapakan mungkin pernah menjadi bagian dari suatu struktur. Sebuah bentuk yang menyerupai manusia mungkin menyimpan fungsi dan makna tertentu bagi masyarakat yang membuatnya. Hari ini kita hanya melihat hasil akhirnya. Yang tidak terlihat adalah tangan-tangan yang pernah memindahkan batu itu, orang-orang yang menentukan tempatnya, serta gagasan yang membuat mereka merasa perlu meninggalkan tanda di kawasan tersebut. Di situlah jarak waktu menjadi terasa. Kita berdiri di tempat yang sama, tetapi tidak hidup dalam dunia yang sama dengan mereka.
Batu, Ruang, dan Manusia Masa Lalu
Sanghyang Taraje menarik bukan hanya karena adanya benda-benda batu, tetapi juga karena letaknya di lingkungan Gunung Tampomas. Sebuah tinggalan budaya tidak pernah sepenuhnya dapat dipisahkan dari tempat di mana ia berada. Gunung, lereng, lembah, sumber air, dan vegetasi di sekitarnya merupakan bagian dari ruang yang membentuk kehidupan manusia.
Karena itu, memahami Sanghyang Taraje berarti mencoba memahami hubungan antara tinggalan tersebut dengan lanskap Tampomas. Gunung bukan sekadar latar belakang. Ia adalah bagian dari cerita. Ketika manusia masa lalu memilih suatu tempat untuk mendirikan atau menempatkan sesuatu, pilihan itu berlangsung dalam ruang tertentu. Ketinggian, bentuk permukaan tanah, akses menuju lokasi, keberadaan air, serta kondisi lingkungan dapat menjadi bagian dari pengalaman manusia terhadap tempat tersebut.
Kita mungkin tidak lagi dapat mengetahui seluruh alasan di balik pemilihan lokasi Sanghyang Taraje. Namun, keberadaan tinggalan itu sendiri menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki arti bagi manusia. Dan arti sebuah tempat sering kali jauh lebih panjang daripada benda yang ditinggalkan di atasnya.
Mengapa Disebut Sanghyang Taraje?
Nama tempat juga merupakan bagian dari ingatan. Dalam bahasa Sunda, tarajé berarti tangga. Nama tersebut memberikan gambaran yang menarik ketika ditempatkan dalam konteks kawasan yang memiliki struktur atau bagian-bagian yang mengarah ke tempat yang lebih tinggi.
Namun, nama tidak selalu dapat digunakan sebagai bukti tunggal untuk menjelaskan fungsi sebuah situs. Nama tempat dapat berubah, diwariskan, ditafsirkan ulang, atau mendapatkan makna baru dalam perjalanan waktu. Karena itu, menarik untuk mempertemukan nama, tinggalan arkeologis, dan lingkungan tanpa buru-buru menyimpulkan bahwa ketiganya selalu memiliki satu cerita yang sama. Justru di situlah kehati-hatian menjadi penting.
Sanghyang Taraje dapat dilihat sebagai ruang tempat beberapa lapisan ingatan bertemu; lapisan material yang ditinggalkan oleh manusia masa lalu, lapisan penelitian arkeologi yang mencoba membacanya, dan lapisan cerita masyarakat yang terus hidup sampai sekarang. Ketiganya tidak harus selalu identik. Namun, dari ketiganya kita dapat melihat bahwa Sanghyang Taraje bukanlah ruang yang kosong dari ingatan.
Batu yang Menjadi Saksi
Ada sesuatu yang menggetarkan dari tinggalan batu di gunung. Batu tidak seperti manusia yang bisa mewariskan cerita melalui percakapan. Ia hanya diam di tempatnya. Tetapi, diam itu justru membuatnya bertahan lebih lama. Generasi berganti. Kisah tentang kerajaan, tokoh, dan orang-orang yang pernah melewati kawasan ini perlahan berubah menjadi ingatan. Jalan berubah, bahasa berkembang, cara manusia memandang dunia pun tidak selalu sama. Sementara sebuah batu dapat tetap berada di sana.
Awalnya saya tidak melihat sesuatu yang istimewa. Batu-batu itu tampak seperti bagian dari lanskap. Tetapi setelah mengetahui bahwa beberapa di antaranya merupakan tinggalan tradisi megalitik, cara memandangnya berubah. Batu yang tadi dilewati begitu saja tiba-tiba terasa memiliki usia.
Ketika berdiri di hadapan tinggalan semacam itu, saya hanya melihat apa yang masih tersisa. Saya tidak melihat tangan yang pernah menatanya atau kehidupan yang berlangsung di sekitarnya. Tetapi, dari jejak yang sederhana itu, akhirnya kita mengetahui bahwa kawasan ini pernah didatangi dan digunakan oleh manusia pada masa yang jauh berbeda dari sekarang.
Mungkin itulah sebabnya tinggalan megalitik terasa seperti pintu kecil menuju masa lalu. Ia tidak membuka seluruh cerita, tetapi memberikan cukup petunjuk untuk membuat kita bertanya. Sebelum kita berjalan di jalur gunung dengan perlengkapan modern, pernah ada manusia lain yang lebih dahulu berada di kawasan ini. Mereka meninggalkan sesuatu. Bukan tulisan panjang. Bukan buku. Hanya batu. Dan mungkin, justru batu itulah yang menjadi catatan paling panjang umurnya.
Tampomas sebagai Ruang Ingatan
Sanghyang Taraje membuat cara saya melihat Gunung Tampomas menjadi sedikit berbeda. Gunung ini tidak lagi hanya tampak sebagai tujuan pendakian. Di dalam tubuhnya terdapat lapisan sejarah yang membuat perjalanan ke puncak terasa seperti perjalanan melewati waktu. Kita memulai dari masa kini; berjalan melalui jalur yang digunakan manusia sekarang, membawa perlengkapan sendiri, berhenti ketika lelah, kemudian melanjutkan perjalanan.
Namun, di tengah perjalanan, kita menemukan sesuatu yang berasal dari masa yang jauh lebih tua. Sekejap, masa kini dan masa lalu seperti bertumpuk di tempat yang sama. Kaki kita berdiri di tanah yang sama dengan yang pernah dipijak manusia lain. Mata kita melihat batu yang mungkin telah dilihat oleh generasi yang tak lagi dapat kita kenali. Dan untuk beberapa saat, gunung tidak terasa sebagai tempat yang sedang kita datangi. Ia terasa sebagai tempat yang telah menunggu jauh sebelum kita datang.
Membaca Masa Lalu dengan Hati-hati
Namun, peninggalan arkeologis juga mengajarkan satu hal penting: tidak semua cerita yang berkembang mengenai suatu tempat dapat langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Ada penelitian, ada temuan material, dan ada penafsiran ilmiah. Ada pula tradisi lisan dan cerita masyarakat. Masing-masing memiliki tempatnya sendiri. Karena itu, ketika berbicara tentang Sanghyang Taraje, kita tidak perlu memaksakan semua cerita menjadi satu kesimpulan. Justru menarik untuk membiarkan berbagai lapisan tersebut berdiri berdampingan.
Arkeologi berbicara melalui benda dan konteksnya. Tradisi berbicara melalui ingatan masyarakat. Sementara perjalanan memberi kita kesempatan untuk melihat tempat itu dengan mata sendiri. Ketiganya dapat saling melengkapi tanpa harus saling menggantikan. Dan mungkin, dengan cara seperti itulah sebuah gunung dapat dipahami secara lebih utuh.
Pulang dari Sanghyang Taraje
Pada akhirnya, perjalanan menuju Sanghyang Taraje bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat di Gunung Tampomas. Ia adalah perjalanan untuk menyadari bahwa sebuah lanskap memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada usia manusia yang sedang melintasinya. Kita datang membawa waktu kita sendiri. Namun, gunung telah memiliki waktunya jauh sebelum kita lahir.
Batu-batu di Sanghyang Taraje mengingatkan hal itu dengan cara yang sederhana. Mereka tidak meminta untuk dikagumi. Mereka hanya tetap berada di sana, menyimpan bagian kecil dari kehidupan manusia yang pernah berlangsung di Tampomas. Dan mungkin tugas kita hari ini bukan untuk memaksa batu-batu itu menceritakan seluruh kejadian di masa lalu. Cukup dengan menjaga agar mereka tetap berada di tempatnya.
Sebab selama tinggalan itu masih bertahan, generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk bertanya. Siapa yang pernah datang? Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka yakini? Dan mengapa mereka memilih gunung ini? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak seluruhnya akan menemukan jawaban. Tetapi justru karena belum semuanya terjawab, perjalanan ke Tampomas menjadi menarik.
Kita datang sebagai pendaki. Kita pulang sebagai pembaca. Membaca gunung melalui jalurnya, membaca masa lalu melalui batunya, dan membaca hubungan manusia dengan alam melalui jejak yang masih tersisa. Sanghyang Taraje pada akhirnya bukan sekadar tempat yang berada di ketinggian. Ia adalah pengingat bahwa sebuah gunung dapat menjadi arsip. Hanya saja, arsip itu tidak ditulis di atas kertas. Ia ditulis oleh waktu, dengan batu sebagai salah satu hurufnya.
Judul: Sanghyang Taraje: Jejak Masa Lalu di Ketinggian Tampomas
Penulis: Hayati Mayang Arum
Editor: Parkah












