MajmusSunda News, Sabtu (08/08/2026) – Bagi yang pernah membaca mitologi Yunani, akan cukup familiar dengan kisah Odysseus dan ternak Helios. Dalam perjalanan panjangnya, Odysseus dan para awak kapalnya sampai di sebuah pulau setelah perjalanan yang melelahkan. Bekal telah habis. Di pulau itu terdapat ternak milik Helios yang sebelumnya telah diperingatkan untuk tidak mereka sentuh. Mereka mengetahui batas itu, tetapi lapar yang terlalu lama dapat membuat sesuatu yang semula jelas perlahan menjadi samar. Pada akhirnya ternak itu disembelih. Barangkali di situlah kisah itu terasa dekat dengan manusia. Arah tidak selalu hilang karena jalan tidak diketahui. Kadang kebutuhan yang terlalu kuat membuat pandangan menjadi lebih sempit dari biasanya.
Bukankah kehidupan sering bergerak dengan cara yang serupa. Banyak hal yang pada mulanya dilakukan sekadar untuk bertahan. Mencari tambahan, menerima pekerjaan yang datang, berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lain. Semuanya dapat bermula dari sesuatu yang sangat sederhana. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada keluarga yang harus dijaga, ada kehidupan yang harus terus berjalan. Dalam keadaan seperti itu, bekerja lebih banyak terasa begitu wajar. Hanya saja, sesuatu yang pada awalnya merupakan jalan keluar kadang berjalan lebih panjang daripada keadaan yang melahirkannya. Ia dapat menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan perlahan menjadi cara seseorang membaca kehidupan.
Di dunia ilmu, perubahan itu dapat berlangsung hampir tanpa suara. Ketika penghargaan terhadap pekerjaan keilmuan belum cukup menopang kehidupan, berbagai aktivitas tambahan menjadi _livelihood strategy_ Mengajar di tempat lain, mengerjakan proyek, melakukan penelitian, menjadi konsultan, mengikuti berbagai kegiatan. Tidak ada yang aneh di sana. Bahkan semuanya dapat tumbuh dari niat yang baik. Tetapi ketika berlangsung terlalu lama, cara memandang ilmu pun dapat ikut bergeser. Pengetahuan, kepakaran, penelitian, dan waktu semakin mudah dibaca dari manfaat yang dapat diberikannya. Bukan berarti kecintaan kepada ilmu telah hilang. Hanya saja, rasa kurang yang terlalu lama dapat membuat manusia semakin peka terhadap apa yang dapat diperoleh dari apa yang dimilikinya.
Dari sana goldifikasi terasa seperti sesuatu yang tumbuh perlahan. Ilmu yang semula dicari karena ingin mengetahui, memahami, dan memberi manfaat, mulai memiliki bayangan lain berupa apa yang dapat dihasilkannya secara material. Lalu ketika material bukan lagi satu-satunya yang dicari, muncul bentuk lapar yang berbeda. Ingin dikenal, diakui, disebut, dihormati. Publikasi, jabatan, penghargaan, jejaring, dan berbagai pencapaian dapat menjadi bagian dari perjalanan itu. Goldifikasi kemudian dapat beranjak menjadi glorifikasi. Ilmu tetap berjalan, aktivitas tetap bertambah, tetapi di suatu sudut yang sangat halus muncul pertanyaan lain. Bukan hanya apa yang dapat diberikan ilmu kepada kehidupan, tetapi juga sejauh mana ilmu dapat membawa nama kita.
Barangkali di sinilah kesibukan akademik yang begitu banyak belum selalu berbanding lurus dengan daya dorong pendidikan dan sains bagi kehidupan. Bukan karena orang-orang di dalamnya tidak baik. Bukan pula karena kecintaan kepada ilmu telah lenyap. Bisa jadi justru karena terlalu banyak kehidupan yang harus dijalani di luar ruang ilmu itu sendiri. Masing-masing sibuk dengan proyeknya, penelitiannya, perjalanannya, konsultasinya, dan urusannya. Semuanya bergerak. Tetapi rasa memiliki terhadap sesuatu yang lebih besar dari pekerjaan masing-masing kadang menjadi semakin tipis. Pendidikan tetap dikerjakan, penelitian tetap berjalan, gelar tetap bertambah, tetapi pendidikan sebagai ikhtiar bersama untuk mengubah kehidupan mungkin terasa semakin jauh.
Lalu waktu berjalan. Kita pelan-pelan menemukan bahwa miskin dan kaya ternyata hanya istilah yang berlaku selama kita berada di dunia. Jabatan pun demikian. Nama yang ramai disebut pada suatu masa dapat menjadi sunyi pada masa berikutnya. Apa yang dikumpulkan dengan begitu sungguh-sungguh pada akhirnya memiliki batas untuk dibawa. Barangkali manusia memang hanya sedang menempati sebentar sebuah ruang yang disebut kehidupan, sebelum ruang itu dikembalikan kepada Pemiliknya. Di tengah singkatnya waktu itu, ilmu memiliki kemungkinan yang berbeda. Ilmu yang benar dan ditempatkan pada tempat yang benar dapat berjalan lebih jauh daripada orang yang memilikinya. Ia berpindah dari pikiran kepada murid, dari murid kepada generasi berikutnya, lalu hidup dalam kehidupan yang bahkan tidak sempat mengenal siapa yang pertama kali menanamkannya. Rasulullah Muhammad SAW menyebut ilmu yang bermanfaat sebagai salah satu amal yang tetap mengalir setelah manusia meninggal. Ada keheningan yang indah dalam gagasan itu.
Maka kisah Odysseus dan ternak Helios barangkali tidak perlu berhenti sebagai cerita tentang orang-orang yang lapar. Ia dapat menjadi cermin kecil tentang manusia, tentang kebutuhan yang perlahan dapat mengubah cara melihat, tentang ilmu yang dapat didekati oleh emas dan kemasyhuran, dan tentang waktu yang ternyata tidak sepanjang yang kita kira. Dari Yunani yang jauh itu, pikiran akhirnya sampai pada sesuatu yang lebih dekat. Kita semua sedang berjalan menuju tempat yang sama. Penghidupan akan selesai, emas akan tinggal, nama akan sunyi, dan tubuh akan kembali kepada tanah. Barangkali yang masih dapat berjalan setelah kita tiada adalah sesuatu yang pernah kita tanam dengan ilmu dan itikad baik. Dan pada akhirnya, bahkan kisah yang bermula dari ternak Helios itu pun diam-diam membawa kita kembali kepada kesadaran akan Allah, bukan pada kaya atau miskin, bukan pada terkenal atau sunyi, bukan pada kebesaran atau hanya kecil, melainkan apakah kita menyadari bahwa dunia hanya sendagurau saja, bahkan sains pun hanya kejenakaan yang tersismatikakan saja.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Sains, Goldifikasi, Kelaparan dan Glorifikasi
Penulis:Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












