MajmusSunda News – Bandung, Rabu (12/08/2026) – Persiapan pendakian komunitas Jelajah Gunung Bandung dalam program Saba Gunung Bandung Edisi Agustus #1 ke Rancabali, membawa saya menelusuri arsip peta tua, dan menemukan satu lembar peta 1943 yang tercatat kosong di indeks resmi Angkatan Darat Amerika Serikat, namun ternyata tersimpan di arsip Belanda dengan kode katalog berbeda.
Bulan ini, Komunitas Jelajah Gunung Bandung akan menggelar Saba Gunung Bandung edisi pertama pada 9 Agustus 2026, menuju Gunung Bandung di perbatasan Ciwidey dan Rancabali. Sudah menjadi kebiasaan saya sebelum mendaki, menelusuri jejak historikal dan lanskap budaya kawasan yang akan dituju, termasuk membuka peta-peta lama, dari peta Belanda, AMS, hingga RBI, salah satunya untuk memverifikasi apakah nama gunung yang akan didaki masih sama atau sudah berubah.
Karena tujuan pendakian kali ini adalah Gunung Bandung wilayah selatan arah ke barat daya, tepatnya di pegunungan wilayah Ciwidey atau Rancabali, lembar peta yang paling relevan untuk ditelusuri tentu saja Ciwidey, kawasan tempat gunung itu berada. Tapi, di sinilah persoalannya, kawasan Ciwidey selama ini terbilang minim informasi kartografis.
Peta Belanda lama, seperti periode 1892–1920, kerap kurang jelas, bahkan tidak mencantumkan detail wilayah ini. Peta AMS pun sama. Saat saya coba unduh lembar Ciwidey, yang muncul justru kosong. Peta RBI (Rupabumi Indonesia) modern pun kadang tidak mencantumkan nama gunungnya sama sekali. Tapi, justru dari kebuntuan itu, penelusuran kali ini membawa saya ke sebuah potongan puzzle yang selama ini hilang.
Namun, satu hal mengganjal. Pada peta indeks resmi seluruh seri T722 yang membedakan lembar “map in stock” (kuning) dan “map not in stock” (putih), kotak bertuliskan 38/XL-B (Ciwidey) berwarna putih. Kosong. Tidak tersedia untuk diunduh.


Dari indeks itu terlihat jelas lembar Ciwidey (38/XL-B) letaknya persis bertetangga di sisi barat lembar Goenoeng Malabar (39/XL-A) yang saya unduh. Dua kawasan yang secara geografis nyaris menyatu, tapi nasib arsipnya ternyata berbeda jauh.
Potongan Puzzle di Leiden
Penasaran, saya coba menelusuri arsip digital lain. Di sinilah kejutan itu muncul. Saat indeks AMS menyatakan lembar tersebut tidak tersedia, arsip digital Leiden justru menyimpannya. Lembaran yang tidak ada itu, koleksi digital Leiden (Belanda) ternyata menyimpan lembar peta Ciwidey yang “hilang” itu. Bukan cuma tersimpan, tapi lengkap dengan cap koleksi lembaga Belanda “Land- en Volkenkunde Ned. Indië”, nomor registrasi, hingga catatan tepi peta yang khas.

Tapi, kejanggalan justru muncul di bagian tepi peta. Alih-alih tertulis “AMS T722” seperti kebanyakan lembar lain di seri yang sama, sudut kanan atas lembar ini justru berbunyi:

HIND 1090. Nomor seri yang sama sekali berbeda dari “T722” yang biasa saya temukan pada lembar-lembar lain seri Java & Madura. Apakah ini peta dari seri yang berbeda sama sekali? Atau ada penjelasan lain?
Satu Peta, Dua Nama
Jawabannya ternyata tersembunyi di baris kecil pada bagian bawah lembar peta yang sama:




Kalimat itu membuka semuanya. Lembar Ciwidey ini pada dasarnya adalah cetakan ulang dari plat AMS 1943 yang sama, hanya saja dicetak ulang oleh lembaga lain, yaitu Survey of India, di bawah payung Geographical Section, General Staff, India, dengan nomor katalog mereka sendiri. HIND 1090. Bukan seri baru, melainkan jalur penerbitan yang berbeda untuk peta yang sama persis.
Rupanya begini ceritanya. Sumber datanya satu, peta topografi Topografische Dienst Hindia Belanda, sebagian berasal dari survei tahun 1925. Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda dan Sekutu butuh peta untuk operasi militer, War Office Inggris di London mengadaptasinya lebih dulu dengan kode GSGS 4202. Army Map Service di Washington kemudian mencetak ulang peta itu untuk kebutuhan front Pasifik, dengan label tambahan T722. Sementara itu, Survey of India, lembaga pemetaan yang berbasis di Dehradun dan melayani komando Sekutu di Asia Tenggara, juga mencetak ulang peta yang sama untuk kebutuhannya sendiri, dengan kode HIND.
Kedua jalur ini berjalan sendiri-sendiri dan tidak selalu sinkron. Untuk sebagian lembar seperti Goenoeng Malabar (39/XL-A), AMS Washington sempat menerbitkan hingga edisi kedua pada 1944. Tapi, untuk sebagian lembar lain, seperti Ciwidey (38/XL-B), pembaruannya justru berhenti di jalur Amerika dan berlanjut lewat jalur India, yang menerbitkannya kembali sebagai “edisi pertama HIND” pada 1945, meski isinya tetap cetakan lama 1943.
Karena koleksi digital UT Austin dibangun dari arsip cetakan AMS, lembar yang jalur pembaruannya “dialihkan” ke Survey of India otomatis tidak ada dalam koleksi mereka. Sebaliknya, lembaga Belanda seperti Leiden yang mewarisi arsip peta jalur Eropa dan Persemakmuran Inggris justru menyimpannya.
Peta yang Bertahan, Lembaga yang Berganti Nama
Namun, jika lembar peta ini bisa bertahan lintas negara dan lintas dekade, tidak demikian dengan lembaga yang menerbitkannya. Army Map Service, yang mencetak ratusan juta peta topografi sepanjang Perang Dunia II, tidak lagi berdiri dengan nama itu. Lembaga ini berganti nama beberapa kali, U.S. Army Topographic Command (1968), Defense Mapping Agency (1972), National Imagery and Mapping Agency (1996), hingga akhirnya menjadi National Geospatial-Intelligence Agency (NGA), lembaga intelijen geospasial AS yang masih beroperasi sampai sekarang, meski fungsinya kini jauh bergeser ke citra satelit dan intelijen digital.
Survey of India justru masih bertahan dengan nama aslinya hingga kini, lembaga pemetaan nasional India yang berdiri sejak 1767, salah satu badan survei tertua di dunia. Hanya saja, sejak Kebijakan Peta Nasional India tahun 2005 diberlakukan, mereka telah menghentikan produksi peta topografi cetak skala besar seperti dulu dan beralih ke data geospasial digital.
Lebih dari Sekadar Kertas Tua
Temuan kecil ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar, jejak kartografi Perang Dunia II di Bandung Raya tidak berhenti di satu arsip. Ia tersebar di banyak negara, mengikuti jalur logistik dan komando militer yang rumit pada masanya, dari Washington, London, hingga Dehradun. Satu lembar peta yang tampak “hilang” di satu tempat bukan berarti benar-benar hilang, ia mungkin hanya menunggu ditemukan di rak arsip negara lain, dengan nama katalog yang berbeda.
Dan justru dari sinilah persiapan Saba Gunung Bandung kali ini terasa lebih bermakna. Yang semula sekadar rutinitas mengecek nama gunung sebelum mendaki, berujung pada penemuan satu lembar peta dengan dua identitas katalog, T722 dari Washington dan HIND 1090 dari Dehradun, untuk kawasan yang akan didaki komunitas Jelajah Gunung Bandung.
Ketika langkah menuju Gunung Bandung diambil pada 9 Agustus nanti, langkah itu juga menapaki kembali kawasan yang pernah dipetakan ulang lewat dua jalur penerbitan berbeda di masa perang, sebuah pengingat bahwa gunung yang kita daki hari ini selalu punya lapisan sejarah yang lebih dalam dari yang terlihat di peta modern.
Bagi siapa pun yang tertarik menelusuri sejarah kartografi Gunung Bandung dan sekitarnya, catatan ini adalah pengingat bahwa arsip-arsip digital dari berbagai negara justru saling melengkapi, dan kadang yang hilang bukanlah petanya, melainkan pengetahuan kita tentang ke mana harus mencarinya.
Sumber gambar & referensi arsip:
- Java & Madura 1:50,000, Series T722/HIND 1090, Sheet 38/XL-B, Digital Collections, Universiteit Leiden.
- Java & Madura 1:50,000, Series T722, Sheet 39/XL-A (Goenoeng Malabar), Perry-Castañeda Library Map Collection, University of Texas at Austin.
- Army Map Service & National Geospatial-Intelligence Agency, nga.mil/history.
- Survey of India, surveyofindia.gov.in.
Judul: Peta yang “Menghilang”: Menyiapkan Saba Gunung Bandung, Menemukan Rahasia Kartografi Perang Dunia II
Penulis: Rinaikelana
Editor: Parkah












