Perjalanan dan Kasih Sayang

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Minggu (09/08/2026) – Beberapa waktu belakangan ini, saya sering ditemani _driver_ untuk perjalanan-perjalanan darat. Saya selalu memilih duduk di sampingnya, baik ketika hanya kami berdua maupun ketika ada kawan lain yang ikut menemani. Dari tempat itu kami berbincang ringan, tentang keluarga, masa kanak-kanak, atau apa saja yang melintas selama perjalanan. Saya selalu menyempatkan makan bersama, bisa di restoran atau warung tenda, sesuai keadaan, di mana kami bisa menikmati kenyamanan bersama. Semula semua itu terasa sebagai bagian biasa dari perjalanan. Tetapi semakin sering berjalan bersama, terasa ada sesuatu yang tumbuh sebagai pembelajaran dari perjalanan dan percakapan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat ada jarak antara seorang _driver_ dengan orang yang dibawanya. Seolah-olah kendaraan sekaligus membawa sebuah hirarki. Hal semacam ini dapat dijumpai di kalangan birokrasi, politisi, pebisnis, pejabat, profesional, tokoh masyarakat, bahkan juga akademisi. Tentu ada protokoler dan situasi tertentu yang membuat jarak itu diperlukan. Tetapi bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya tetap memiliki ruang untuk dipilih.

Ada candaan seorang jenderal TNI yang belakangan menjadi teman diskusi, bahwa _driver_ adalah intelijen terhebat dan kalau tidak baik-baik kepadanya, piring terbang akan menyambut di rumah. Kelakar itu terasa seperti pengingat. Seorang _driver_ menyaksikan cukup banyak hal sepanjang perjalanan, sehingga apa yang terjadi di dalam kendaraan dapat menjadi cerita yang mengangkat atau menjatuhkan seseorang.

Tidak ada alasan membuat perjalanan terasa berat hanya karena seseorang menjalankan pekerjaan yang berbeda. Seorang _driver_ juga dapat mengantuk, lapar, lelah, salah mengambil jalan, bahkan sesekali tidak tahu arah. Semua itu manusiawi. Orang yang duduk di belakang pun tidak selalu lebih tahu jalan, lebih kuat menahan kantuk, atau lebih mampu membaca keadaan. Peran dan tanggung jawab boleh berbeda, tetapi kemanusiaan tetap sama. Perjalanan yang panjang sering kali membuat hal sederhana itu semakin terasa.

Pada titik itu saya jadi teringat dan membayangkan perjalanan hijrah Rasulullah dan Abu Bakar. Perjalanan mereka penuh risiko dan ketidakpastian, tetapi di dalamnya ada persahabatan yang begitu dalam. Abu Bakar tidak sekadar berada di sisi Rasulullah ﷺ karena sebuah peran, sebagaimana Rasulullah tidak melihat Abu Bakar hanya sebagai orang yang kebetulan ikut dalam perjalanan. Ada kepercayaan dan kasih sayang yang membuat perjalanan berat itu tidak harus ditanggung seorang diri. Dari sana terasa bahwa safar bukan hanya perjalanan tubuh. Manusia dapat berpindah tempat, sementara hatinya menempuh perjalanan menuju sesuatu yang lebih dalam. Yang penting bukan hanya ke mana sampai, tetapi dengan siapa berjalan dan apa yang tumbuh di sepanjang jalan.

Jika perjalanan atau safar ini ditarik ke dunia pendidikan, guru dan murid sesungguhnya sedang berjalan menuju sesuatu yang belum sepenuhnya mereka ketahui. Guru membawa pengalaman, murid membawa kemungkinan. Peran dan tanggung jawab mereka berbeda, tetapi keduanya dapat saling menemukan. Ada saatnya murid melihat sesuatu yang luput dari pandangan gurunya. Barangkali ilmu tumbuh paling subur ketika orang yang lebih dahulu berjalan tidak merasa harus selalu berada di depan.

Persahabatan pun demikian. Ia tidak selalu lahir dari perjalanan yang jauh, tetapi dari kesediaan untuk tetap menemani. Percakapan ringan, makan bersama, tawa dan bahkan keheningan dapat menjadi bagian dari kenangan yang panjang. Kasih sayang sering tidak datang dengan suara besar. Ia tumbuh dari kebersamaan yang sederhana, lalu suatu hari kita sadar bahwa seseorang yang dahulu hanya menemani perjalanan telah ikut menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Kehidupan sendiri adalah safar yang panjang. Kita datang dari satu keadaan menuju keadaan lain, kehilangan sebagian yang kita genggam, lalu menemukan makna baru di sepanjang jalan. Tidak semua orang berjalan bersama sampai akhir, tetapi setiap perjumpaan meninggalkan sesuatu. Mungkin pada akhirnya yang paling berharga bukan seberapa jauh kita telah berjalan, melainkan siapa yang membuat perjalanan itu terasa layak dikenang. Dan barangkali di situlah kasih sayang bekerja, membuat jalan yang panjang terasa lebih ringan karena kita tidak menjalaninya seorang diri.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Perjalanan dan Kasih Sayang
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *