MajmusSunda News, Jum’at (28/08/2026) – Artikel Berjudul “Nilai Human Capital Entrepreneurship, Energy yang Dibutuhkan Pengelola Koperasi di Indonesia” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.
Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan Sandang – Pangan dan Pendidikan di Tanah Air kita yang Kaya ini , maka sebenarnya kita sendiri yang TOLOL, kita sendiri yang Maha Tolol. ( Presiden Soekarno, pada Konferensi Colombo Plan, Jogyakarta 1953 ).

Pernyataan Bung Karno diatas tadi, sengaja kami kutip untuk mengingatkan kita semua, bahwa kekayaan ekonomi dan Sumberdaya alam yang dimiliki sebuah Negara, dapat memberi manfaat bagi *Rakyat Bangsa* itu sendiri, dengan cara mengelola, memanfaatkan serta memelihara Sumber kekayaannya. Tujuh puluh tiga tahun, setelah pernyataan Diatas, dikemukakan oleh Presiden pertama RI, ternyata Indonesia masih agak terengah engah, mencapai tingkat swasembada dalam bidang pangan , seperti : beras, gula, kedelai, buah buahhan, daging, bawang merah, bawang putih, gula, garam dll, yang seharusnya mampu untuk dipercayakan kepada *Koperasi* yang terbina dan terakreditasi, agar bisa menjadi mesin penggerak pertumbuhan *Ekonomi Rakyat* dan *Ekonomi Bangsa*.
Bapak Koperasi Pembangunan Indonesia, Dr.Moch.Hatta (alm), pernah mengemukakan bahwa Organisasi *Koperasi* bukan semata mata Lembaga atau Organisasi Ekonomi yang bernilai Sosisl, tetapi juga merupakan wahana pendidikan, artian mendidik *Pengurus dan anggotanya* untuk menjadi Individu yang memiliki tanggung jawab sosial , kebersamaan memecahkan upaya kesejahteraan para anggotanya dan masyarakat. Dalam istilahnya adalah *Berdiri sendiri* ( Qiyamuhu bi nafsihi ), artinya dalam pemahaman lebih umum adalah *Mandiri atas diri Pribadinya*. Azas gotong royong yang melandasi koperasi, sudah memberi isyarat jelas, dalam Koperasi yang utama adalah Demokrasi, tidak memberikan peluang bagi Individu Individu yang mementingkan *Keuntungan Pribadi atau Kelompoknya*, dan harus dikelola secara *Profesional* bukan *Amatiran* sakarep dewek.*( kumaha Aing wae )*.
Dampaknya adalah akan timbul sikap Individualistis Anggota dan Pengurus ( apalagi kalau Pengurus titipan yang bawa *Surat atau Katabelece Sakti*), kurang percaya diri, rasa malas, tidak mampu merealisasi program, perasaan saling curiga, tidak ada waktu dsb.
Untuk itulah kenapa Pengurus Koperasi, kalau mau berhasil dikelola Profesional, harus punya *Kompetensi* :
1.Keahlian pribadi ( Personal Credibility ).
2.Kemampuan mengelola Organisasi dan manusia. ( Human Resources Mastery ).
3.Kemampuan Pemahaman Sistem Bisnis.( Business Mastery ).
4.Kemampuan kelola Perubahan.( Charge Mastery ).
Kemampuan tersebut bisa diaplikasikan oleh Para Pengurus, bila memahami dan menguasai Nilai Human Capital *Entrepreneurship*, menurut Kemal Surianegara seorang Entrepreneur, adalah yang memiliki jiwa Patriot, keberanian dan sifat sifat utama seorang Ksatrya. Disamping itu berarti Manusia Idealis Profesional Patriot seutuhnya, bukan sekedar individu amatiran , opportunis sebutuhnya, yang lebih banyak mementingkan diri sendiri dan hasil semata. Sehingga akan terwujud Koperasi Unggulan, yang mampu meningkatkan diri sebagai Lembaga Ekonomi rakyat yang tangguh, serta dinamis dan stabil, mampu menjadi tulang punggung perekonomian di wilayah kerjanya, apalagi kalau dilandasi *Kemampuan Pemahaman Nilai Human Capital Entrepreneurship*, maka tidak mustahil Koperasi dapat menjadi *Lembaga Ekonomi Rakyat* yang tangguh di tiap wilayah dan Nasional, sebagaimana diimpikan sebagian besar masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga kini.
Menurut John Arief Masly, nilai Human Capital Entrepreneurship itu, dalam aplikasinya menjadi tonggak kekuatan Manajemen, yakni *Key Succes Factors in Entrepreneurship*, antara lain :
1.Persiapan Mental ( Mental Preparation ).
2.Integritas.( Integrity ).
3.Bekerja keras – produktif.( Hard Working – productivity ).
4.Latar belakang Pendidikan.( Education Background ).
5.Pengetahuan Bisnis ( Business Knowledge ).
6.Memanage Manusia/ Orang.( Managing People ).
7.Tetap fokus.( Stay focus ).
8.Manajemen Resiko.( Risk Management ).
9.Jalinan Kerjasama.( Networking Partnership ).
10.Pelatihan .( Training / Coaching ).
*Dari Nilai* tersebut, Para Pengurus dan anggota, bisa memikirkan Kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu Koperasi, termasuk Pedoman Mutu, Prosedur Mutu, juga Rencana Mutu ( Quality Plan ), akan mengerucut kepada hal terkait : *Identitas Koperasi*( Idealisme, Profesionalisme, Patriotisme ), *Kapasitas Koperasi* ( Yakin, Rajin dan Disiplin ), serta *Kualitas Koperasi*.( Etika, Logika dan Estetika ). Kemampuan kemampuan ini dibutuhkan, oleh Lembaga Koperasi, untuk bisa mengantisipasi Turbulensi lingkungan usaha, seperti hal :
a. Ketidak pastian ( Uncertainty ).
b. Kebaharuan. ( Novelity ).
c. Keragaman.( Diversity ).
d. Kesementaraan ( Transiency ).
e. Ketidak berlanjutan. ( Discontinues ).
Tetapi juga yang harus diperhatikan, agar Koperasi tumbuh dan berkembang sesuai harapan, adalah mutlak dibutuhkannya Pengawasan yang Mutlak/ Auditor.*( Build In Control )*, pengawasan efektif Sistem Pengendalian Intern. Bisa First Party Audit, Internal Audit, atau External Audit. Tapi secara rutin bisa dilakukan oleh Badan Pengawas dan Pengurus, dengan langkah langkah : *Preventif Action, Corrective Action, Correction Action*, Dalam rangka itulah mutlak diperlukan pedoman Akuntansi Indonesia, serta pedoman prosedur yang akan dipakai untuk pegangan.
=====00000=====
***
Judul: Nilai Human Capital Entrepreneurship, Energy yang Dibutuhkan Pengelola Koperasi di Indonesia
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












