MajmusSunda News – Bandung, Minggu (12/07/2026) – WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-11 dengan mengajak pembaca menjelajahi Meratus UNESCO Global Geopark di Provinsi Kalimantan Selatan. Geopark pertama di Pulau Kalimantan yang telah memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) ini menyajikan perpaduan luar biasa antara sejarah pengangkatan dasar samudra purba, kekayaan biodiversitas hutan hujan tropis Borneo, serta warisan budaya masyarakat Dayak Meratus yang terus lestari. Melalui empat koridor geowisata resminya, Meratus menghadirkan ruang pembelajaran kebumian yang menghubungkan ilmu pengetahuan, konservasi alam, dan kearifan budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Teman-teman, mari kita terbang melintasi garis khatulistiwa menuju Pulau Kalimantan: Meratus UNESCO Global Geopark! Kita patut bangga, taman bumi pertama di Kalimantan ini kini telah resmi menyandang status dunia sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) dengan mengusung tema agung “Jiwanya Borneo”. Keberhasilan ini bukan sekadar perayaan atas keindahan lanskap hijau khatulistiwa, melainkan sebuah sasis pembuka gerbang literasi kebumian yang menyandingkan penemuan ilmiah internasional dengan kemegahan tata sosial-kultural masyarakat adat. Penjelajahan melintasi empat rute geowisata resmi di rahim Meratus menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang memahat serpihan kerak samudra purba menjadi benteng perlindungan kehidupan. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik Nusantara harus sukses ditransformasikan menjadi kompas ketahanan nasional yang menyejahterakan ekonomi masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.
Keunggulan abiotik (abiotic) objek cagar bumi di Kalimantan Selatan ini dikunci rapat oleh statusnya yang unik. Ia bukanlah barisan gunung api aktif, melainkan kompleks ofiolit terlengkap di dunia. Struktur geologi yang mendominasi kawasan ini merupakan lantai samudra purba berupa kerak batuan ultrabasa berumur ratusan juta tahun dari Masa Mesozoikum yang terangkat ke permukaan bumi akibat tabrakan lempeng kolosal pada masa lalu, di mana tekanan tektonik mahadahsyatnya melahirkan endapan intan legendaris Cempaka. Proses pelarutan kimiawi air hujan terhadap sabuk batu gamping purba turut membentuk topografi eksokarst yang ikonik, mengunci sistem lorong gua horizontal eksotis di Gua Prasejarah Liang Bangkai, menyingkap ornamen stalaktit-stalagmit magis di Gua Batu Hapu, serta mengalirkan hidrologi jernih labirin karst Sungai Bawah Tanah Tabalong di Gua Liang Tapah. Di sepanjang koridor rute geowisata, keunikan abiotik ini tersaji dramatis melalui manifes mata air panas bumi nonvulkanik Tanuhi Loksado akibat sirkulasi air dalam (deep circulation) yang menembus rekahan patahan terdalam, singkapan eksotis marmer yang berdampingan dengan air terjun indah di Geosite Bajuin, lapisan sedimen tebal di Geosite Bukit Timah, hingga lantai sungai batuan langka di koridor hijau Aranio dekat Riam Kanan.

Karakteristik fisik batuan purba dan hidrologi yang melimpah tersebut otomatis merawat pilar hayati (biotic) kasta tertinggi yang menjadi paru-paru hayati bagi biodiversitas Borneo. Hutan hujan tropis Meratus tumbuh tegak mendominasi lanskap sebagai rumah bagi raksasa rimba Pohon Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri), jenis kayu besi endemik Kalimantan yang secara alami antipahat dan anti-lapuk. Rahim ekologinya menjadi benteng pertahanan terakhir bagi megafauna langka Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) serta media tumbuh subur bagi varietas langka yang dilindungi, Anggrek Hitam. Di sepanjang tepian sungai, hidrodinamika air dijaga ketat oleh sabuk hijau ekosistem hutan bambu raksasa alami yang warga lokal sebut Paring, di mana sistem perakarannya yang rapat bertindak sebagai benteng alami penghalau arus deras sekaligus penahan erosi tebing. Sementara itu, di kedalaman gelap abadi Gua Liang Bangkai, jutaan kelelawar hidup memproduksi pupuk organik guano penyubur tanah yang menyokong rantai makanan bagi fauna spesifik kelompok Troglophile, seperti jangkrik antena panjang dan laba-laba tanpa pigmen, bersanding dengan misteri stygofauna ikan air bawah tanah transparan di Liang Tapah, serta cagar konservasi rawa Pulau Curiak yang melindungi kera hidung panjang endemik Kalimantan (Bekantan) di bawah sabuk hijau hutan hujan Riam Kanan.
Pada panggung sejarah sosiokultural (cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik fisik geosfer dan kekayaan biosfer menjadi identitas budaya yang luhur, kedaulatan pangan, hingga mahakarya transportasi bahari. Jejak hunian manusia purba rumpun Austronesia kuno terekam utuh di lorong Gua Liang Bangkai melalui tinggalan alat serpih rijang, wadah tembikar, serta seni cadas (rock art) berupa sketsa stensil tangan merah, berkelindan dengan mitologi rakyat pengunci moral seperti hikayat kutukan durhaka di Gua Batu Hapu serta legenda Bukit Batu Laki dan Bini. Ketangguhan agraris dirawat ksatria oleh Suku Dayak Meratus melalui tradisi pertanian lahan kering bernama Manugal, yang hasil panen padi pusakanya dirayakan secara sakral dalam ritual adat Aruh Ganal di Balai Adat yang suci. Berkah melimpahnya hutan bambu direspons secara jenius melalui petualangan bahari Balanting Paring (wisata berakit bambu tradisional Loksado) membelah jeram deras Sungai Amandit tanpa tali plastik yang kini bertransformasi menjadi ekowisata minat khusus internasional, bersanding selaras dengan visual menawan Puncak Matang Keladan yang dijuluki Raja Ampat-nya Kalimantan Selatan, aktivitas ratusan tahun pusat kebudayaan bahari Pasar Terapung Lok Baintan, seni pahat perahu Jukung tradisional di Pulau Sewangi, hingga galeri kain adat Sasirangan di Museum Wasaka.
Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara sasis pengangkatan ofiolit kerak samudra purba, keunikan ekosistem hutan bambu Paring, dan kedaulatan tradisi hukum adat Suku Dayak Meratus wajib diposisikan murni sebagai kompas fondasi utama dari gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Langkah pengungkapan laboratorium tektonik dunia dan pengembangan pariwisata berbasis ekonomi sirkular warga ini dirancang ksatria bukan sekadar untuk industri hiburan semata, melainkan wajib menjadi katalisator penggerak jiwa nasionalisme dalam mengunci kedaulatan sumber daya alam Indonesia di jantung Kalimantan. Status mentereng UNESCO Global Geopark ini harus diletakkan sebagai tameng hukum internasional yang mengunci mati perluasan izin tambang batu bara komersial yang destruktif demi melindungi paru-paru bumi Nusantara. Memahami kedalaman peradaban dari goresan oker merah gua prasejarah hingga ketegasan menjaga kelestarian hutan adat merupakan cara paling radikal untuk merawat ingatan kolektif kebangsaan; menegaskan bahwa masa depan tanah, air, dan martabat hijau Borneo wajib dijaga kemandiriannya demi kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia seutuhnya.
#WisatabumiNusantara #MeratusUNESCOGlobalGeopark #MeratusGeopark #KalimantanSelatan #Loksado #BalantingParing #OfiolitMeratus #GuaLiangBangkai #PasarTerapungLokBaintan #DayakMeratus #GeowisataIndonesia #KonservasiAlam #JiwanyaBorneo #WawasanKebangsaan #KetahananNasional

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-11: Serpihan Samudra Purba, Paring Loksado, dan Detak Jantung Borneo
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












