MajmusSunda News – Bandung, Minggu (12/07/2026) – WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-14 dengan mengajak pembaca menjelajahi Merangin Jambi UNESCO Global Geopark, kawasan yang menyimpan salah satu rekam jejak hutan purba tertua di dunia. Melalui warisan fosil flora berusia sekitar 300 juta tahun, bentang alam vulkanik, serta kekayaan budaya masyarakat lokal, kawasan ini menjadi laboratorium alam yang memperlihatkan keterkaitan antara sejarah bumi, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan berbasis konservasi.
Teman-teman, pernah membayangkan bagaimana wujud hutan di bumi sebelum dinosaurus pertama lahir? Kapsul waktu itu nyata dan tersimpan rapi di Merangin Jambi UNESCO Global Geopark! Kawasan eksotis di jantung Sumatra ini menyuguhkan ruang kontemplasi mendalam tentang bagaimana kekuatan fisik masa lampau mampu membekukan potret ekosistem purba melintasi ratusan juta tahun, sekaligus menjadi ruang transisi yang mendikte arah sains, keanekaragaman hayati, hingga produk kebudayaan manusia. Penjelajahan ke rahim Merangin menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang memahat sasis batuan vulkanik-sedimen kuno menjadi benteng perlindungan kehidupan yang mahamegah. Kehadiran formasi cagar bumi lintas zaman ini bertindak sebagai sasis pembuka gerbang literasi yang menyandingkan penemuan ilmiah paleontologi dunia dengan kemegahan tata sosial-kultural masyarakat adat. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik Nusantara yang menyimpan jejak katastrofe pra-dinosaurus harus sukses ditransformasikan menjadi kompas ketahanan nasional yang menyejahterakan ekonomi masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.
Keunggulan abiotik (abiotic) objek cagar bumi di Tatar Jambi ini dikunci rapat oleh catatan amukan katastrofe piroklastik kolosal Zaman Permian sekitar 300 juta tahun lalu yang menerjang dahsyat wilayah Sumatra bagian barat. Sapuan awan panas pekat masa lalu tersebut secara sempurna mengawetkan seluruh sasis ekosistem hutan rawa purba melalui proses silisifikasi batuan yang mengubah material organik menjadi Fosil Flora Jambi tertua dan terlengkap di dunia. Di sepanjang tebing sungai, pohon-pohon membatu kokoh dalam posisi tegak berdiri asli (in situ) dengan detail sempurna guratan impresi fosil daun pakis purba Macralethopteris serta cetakan fisik flora jenis Cordaites yang terekam rapi tanpa cacat, bersanding kontras dengan jejak Geosite Formasi Laut Purba Mengkarang pembawa bukti fosil fauna laut dangkal Brachiopoda kuno. Anatomi bumi ini kian dramatis karena dipotong oleh Depresi Vulkanik Koridor Sesar Besar Sumatra yang memicu manifestasi semburan panas bumi alami Geyser Grao Sakti, tampungan air tekto-vulkanik Danau Kerinci yang megah, serta pahatan tebing batu vulkanik Air Terjun Telun Berasap yang melahirkan kabut asap air abadi.

Karakteristik fisik formasi batuan purba yang subur serta kelembapan tinggi dari patahan aktif tersebut otomatis merawat pilar hayati (biotic) kasta tertinggi sebagai fondasi utama bagi lebatnya vegetasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Sabuk hijau pegunungan ini menjelma menjadi benteng pertahanan terakhir bagi suaka fauna karismatik Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang terancam punah, serta menjadi rumah aman bagi mamalia malam Kukang (Nycticebus coucang) dan oasis bagi keanekaragaman spesies anggrek hutan liar. Di koridor-koridor basah TNKS yang terlindung, tumbuh subur fosil hidup flora purba raksasa Pakis Gajah (Angiopteris evecta) dan menjadi rumah perlindungan bagi amfibi langka Katak Pohon Kerinci (Rhacophorus catamitus). Sementara itu, kegelapan interior Gua Tiangko bertindak sebagai suaka bagi koloni kelelawar plafon penghasil hara organik guano penyubur tanah yang menyokong rantai makanan bagi fauna biospeleologi unik, yaitu jangkrik gua berantena panjang kelompok troglophile yang peka terhadap getaran fisik, serta biota gua lainnya yang unik.
Pada panggung sejarah sosiokultural (cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik fisik geosfer dan kekhasan ekosistem biosfer menjadi olahraga petualangan bereputasi internasional, arsitektur genius antigempa, hingga kedaulatan hukum adat. Berkah keunikan batu bumi direspons secara adaptif melalui wisata ekstrem arung jeram (rafting) Sungai Merangin, di mana wisatawan ditantang mengarungi jeram kelas dunia sambil menyentuh langsung fosil pohon membatu di dinding tebing. Perut bumi Gua Tiangko merekam jejak cagar hunian prasejarah manusia purba rumpun Melayu awal lewat penemuan perkakas alat serpih batu obsidian, berkelindan erat dengan bukti niaga emas kuno abad ke-7 pada Prasasti Karang Brahi peninggalan Sriwijaya. Ketangguhan rekayasa mekanika sipil kuno diwujudkan melalui arsitektur Rumah Tuo Rantau Panjang yang mampu bertahan tegak selama 700 tahun tanpa paku besi dalam menghadapi gempa Sesar Sumatra, berpadu selaras dengan kearifan lokal anyaman bambu sirkular tradisional serta sandi konservasi hidrologi melalui hukum adat Air Lubuk Larangan yang melarang penangkapan ikan di zona sungai sakral secara ketat.
Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara sasis katastrofe letusan gunung api Zaman Permian 300 juta tahun lalu, keunikan ekosistem hutan hujan tropis TNKS, dan kedaulatan tradisi hukum adat Lubuk Larangan wajib diposisikan sebagai kompas fondasi utama dari gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Langkah pengungkapan laboratorium paleontologi dunia, penataan eduwisata olahraga air, dan manajemen pelestarian lingkungan berbasis komunitas ini dirancang ksatria bukan sekadar untuk pariwisata komersial semata, melainkan wajib menjadi katalisator penggerak jiwa nasionalisme dalam mengunci kedaulatan pusaka kebumian tanah air di mata internasional. Status UNESCO Global Geopark (UGGp) harus diletakkan sebagai tameng hukum internasional yang mampu memperkuat upaya pencegahan perluasan penambangan emas tanpa izin (PETI) yang merusak kelestarian lingkungan. Memahami kedalaman peradaban, mulai dari jejak guratan daun pakis purba hingga ketegasan hukum adat cagar sungai, merupakan cara paling radikal untuk merawat persatuan bangsa; menegaskan bahwa masa depan tanah, air, dan martabat hijau Nusantara wajib dijaga kemandiriannya demi kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia seutuhnya.
#WisatabumiNusantara #MeranginJambiUGGp #FosilFloraJambi #ZamanPermian #ArungJeramMerangin #RumahTuoRantauPanjang #SesarSumatra #HarimauSumatra #GeowisataIndonesia #UNESCOGlobalGeopark #Jambi #Paleontologi #KonservasiAlam #WawasanKebangsaan

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-14: “Menyusuri Kapsul Waktu Fosil Hutan Purba 300 Juta Tahun di Merangin”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












