MajmusSunda News, Rabu (03/06/2026) – Artikel Berjudul “Meraih Harapan Adhyatnika Kajanapria dan Paramarta, Dalam Implementasi Pancasila” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.
Lebih dari 81 tahun Merdeka, Indonesia ternyata masih jauh dari yang dicita citakan, rakyat bermimpi Indonesia yang berdaulat, bermartabat setara dengan Bangsa lain, dan ikut menjaga ketenteraman Dunia, *Semakin jauh dari kenyataan*, Indonesia yang Adil, Makmur, Sejahtera dan berdiri diatas kekuatan senditi masih menjadi harapan.

Kita saat ini masih dipergunjingkan dan terkenal sebagai Bangsa Korup, miskin, bodoh, ketergantungan terhadap Bangsa Asing, dan sekedar menjadi sasaran pasar, dilecehkan , marak dengan kekerasan, konflik, anomali dan ironi. Berbagai lembaga baru telah dibentuk, sehingga banyak elemen masyarakat dapat ikut mengambil dan mengoreksi keputusan politik dan hukum. Tapi dalam kenyataannya, lagi lagi perubahan yang dilakukan *Para Elit* Bangsa ini belum mampu mengangkat Bangsa ini dari Keterpurukan, yang disebabkan oleh krisis multi dimensi Para Elit itu sendiri, berlangsungnya perebutan kepentingan jangka pendek yang semata mata untuk kepentingan golongannya sendiri.
Para elit bertarung dengan sengitnya, antara fihak yang berposisi untuk mempertahankan, dengan fihak yang ingin merebut kekuasaan, sekalipun dengan praktek money politic , mobilisasi massa, buzzer, Sengkuni Sengkuni, Togog togog sebagai media dan alat senjatanya. Masalah masalah masyarakat seperti *KEMISKINAN RAKYAT*, tidak pernah ditangani dengan baik dan benar, jauh dari nilai *Persatuan dan Keadilan*. Sebaliknya kalangan elit baru hanya keasyikan menata kehidupan dan kepentingan mereka sendiri, seperti pembagian jabatan, Kendaraan, fasilitas hidup, menaikkan gaji, dan pemenuhan fasilitas lainnya.
Nukilan pokok pokok fikiran tersebut, terefleksi dalam pertemuan dengan Thema *MEREVOLUSIKAN PANCASILA DEMI PERSATUAN DAN KEADILAN*, dalam Peringatan Hari Pancasila tahun 2026, Senin 1 Juni 2026, di GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT, jln. Perintis Kemerdekaan Kota Bandung, dengan Pidato Kebangsaan *Prof.Yudi Latief.Ph.D*, dan penanggap *Prof.Dr.Indra Perwira.SH.MH, Dr.Rahmat Hidayat Djati, Alamsyah Saragih*, yang diselenggarakan oleh MMS ( Majelis Musyawarah Sunda ).
Juga sambutan dari Dr.H.Bucky Wikagu.MSi.( Ketua DPRD Jabar ),.serta Drs.H.Numan Abdulhakim. ( Exponen 77.78. serta mantan Wagub Jabar, anggota DPR.RI.). Semua berharap Pancasila jangan hanya dihafal tapi tidak dinalar, *tapi* harus *Ditafsir, difahami serta dihayati, diteliti dan diuraikan untuk Diamalkan*, sehingga tidak hanya jadi pajangan belaka atau symbool hampa.
Sudah sangat waktunya *PANCASILA* diwujudkan melalui perbuatan dalam kehidupan sehari hari, mulai dari diri Individu, Keluarga, masyarakat, Birokrat, Politikus, serta tingkat Pimpinan Berbangsa dan Bernegara. *Jika diibaratkan PANCASILA* adalah sebuah sumur tempat *SUMBER MATA AIR JIWA* bagi Bangsa Indonesia ini, bawalah air dari dalam sumur itu, keatas permukaan untuk dibagikan sebagai minuman yang segar bagi jiwa jiwa yang sangat *Dahaga dan Haus akan Persatuan, Keadilan, Kemakmuran dan Kesejahteraan*.
Pancasila adalah JIWA TERANG BENDERANG yang bisa menerangi jalan kehidupan Bangsa kita ini, dengan dimulai dari Attitude, Personality, Taqwa dari para Pemimpin Negara.Rakyat berharap, sekarang tujuan Negara harus *kembali* pada keseluruhan semangat, arah dan gerak pembangunan dilaksanakan dari semua Sila dalam PANCASILA secara serasi dan sebagai *Kesatuan dan Keadilan* yang utuh dan terpadu, dengan harapan pertumbuhan Ekonomi yang cukup tinggi, serta stabilitas Nasional yang sehat dan dinamis, agar pengembangan Sumberdaya Insani ditujukan untuk mewujudkan manusia dan masyarakat yang berbudi luhur, tangguh, cerdas dan terampil, tidak menghasilkan manusia manusia pengkhianat dan menyengsarakan rakyat.
*Pendidikan Tinggi, Pendidikan Dasar dan Menengah*, harus berdasarkan PANCASILA, jangan gonta ganti Kurikullum yang diadopsi dari Negara lain, yang berbeda Culture Valuenya serta peradabannya. Kurikullum berdasar pada *Pancasila*, untuk meningkatkan Kualitas Generasi Muda Indonesia, yang beriman, beragama, bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berintegritas, Disiplin, tangguh, mandiri, *Singer, Wanter, Binekas*, serta Sehat jasmani dan Rokhani, memperdalam rasa cinta pada Tanah air, memperkuat rasa Kebangsaan serta kesetiakawanan sosial, jujur dan Ksatria, penuh pengabdian.
Titik tolaknya perlu dikembangkan pranata pranata sosial yang dapat memperkuat proses pemantapan kekuatan Pancasila.
***
Judul: Meraih Harapan Adhyatnika Kajanapria dan Paramarta, Dalam Implementasi Pancasila
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












