MajmusSunda News – Bandung, Selasa (01/09/2026) – Di bawah langit Nusantara yang digenggam oleh tangan Tuhan, pada tanggal Tujuh Belas, Bulan Delapan, Tahun Seribu Sembilan Ratus Empat Puluh Lima (17-8-1945), terucap suatu kalimat, “Kemerdekaan Indonesia”. Bukan sekadar kata-kata, melainkan suatu hati dan gema jiwa ribuan leluhur yang telah melebur raga dan rasa demi satu tujuan utama, yaitu kembali kepada kebebasan sejati dan kedaulatan yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Kini tahun 2026, matahari kembali berputar mengelilingi bumi sebanyak delapan puluh satu kali (81) sejak detik kemerdekaan itu digemakan. Angka delapan puluh satu (81) bukanlah bilangan biasa, angka 81 adalah bisikan semesta yang mengajak kita manusia untuk merancang, memahami makna tersembunyi di balik angka-angka yang disusun oleh takdir semesta.
Angka delapan (8) memiliki makna kelimpahan yang menyembah. Angka 8 dalam hikayat makna leluhur memiliki makna kelimpahan, keseimbangan, kekuatan yang berdasarkan kasih sayang dari alam semesta.

Angka delapan (8) merujuk pada arah mata angin, delapan penjuru mata angin yang dijaga oleh kekuatan langit dan bumi (Putih dan Hitam). Angka delapan (8) melambangkan kemakmuran yang bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Kelimpahan memiliki tujuan untuk dibagikan dan merupakan seruan untuk berbagi, untuk menyeimbangkan, untuk lebih memuliakan pemberian Sang Pencipta, artinya harus menerapkan keadilan di muka bumi ini.
Delapan puluh satu (81) bangsa ini berdiri, delapan puluh satu (81) kita merasakan limpahan rahmat dari alam semesta dari angin, api, air, tanah, laut yang luas, gunung dan angkasa yang memberi kehidupan menjadi pendamping keseharian hidup manusia. Tanpa air semua yang hidup tidak mampu bertahan, tanpa tanah tidak ada tempat kita berpijak dan tanam tumbuh, gunung yang menjulang dengan hutan yang air di dalamnya, berbagai pohon dan satwa menjadi pendamping hidup dan ekosistem yang berfungsi mendukung kehidupan semua makhluk.
Delapan puluh satu (81) mengajarkan kita setelah semua kelimpahan, kita kembali pada satu, yaitu kembali pada yang dasar yang sejati. Kemerdekaan adalah kuasa yang berasal dari Tuhan, dan kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Kemerdekaan ini bukan sekadar merdeka, tetapi penuh perjuangan tetes darah dan keringat para pejuang kemerdekaan.
Delapan puluh satu sama dengan sembilan bila ditambahkan 81 = 8 + 1 = 9, 9 × 9 merupakan dua kali sempurna, artinya angka 9 dikalikan dengan 9 (9 × 9 = 81). Angka 9 adalah angka kesempurnaan dalam ilmu kebijaksanaan leluhur.

Dalam filosofi budaya Sunda angka 9 disebut “Salapan” yang merupakan puncak kesempurnaan dan nilai tertinggi. Seperti 9 bulan manusia dikandung ibu yang memiliki filosofi proses tumbuh kembang janin sampai siap untuk dilahirkan berumur 9 bulan. Dalam ajaran Sunda ada ajaran “Salapan laku utama” yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, hormat, gotong royong, hormat pada orang tua, cinta alam, eling kepada Tuhan. Dalam ajaran Sunda angka 9 merupakan kekuatan spiritual, upacara 9 hari setelah meninggal dengan mempersiapkan sesajen 9 macam. Angka 9 disebut “Salingka” artinya melingkupi, ada istilah “sembilan penjuru mata angin”.
Penetapan angka 9 di kehidupan orang Sunda seperti upacara “Salapan Bulan” yaitu selamatan kehamilan 7 sampai 9 bulan untuk memohon keselamatan ibu dan anak agar anak dilahirkan dengan lancar, sehat dan sempurna lahirnya dan batinnya, upacara nasi tumpeng dengan jumlah 9 untuk syukuran besar.
Angka 9 merujuk pada tempat seperti candi, keraton, situs keramat yang anak tangga berjumlah sembilan dapat kita lihat pada peninggalan candi-candi berikut ini:
- Candi Borobudur memiliki 9 tingkatan bangunan, 6 teras persegi dan 3 pelataran yang melingkar yang melambangkan 9 tingkatan alam yaitu 9 penjuru mata angin, yang memiliki makna menuju puncak atau nirwana. Simbol 8 di Candi Borobudur dengan jumlah arca Buddha 504 dengan kelipatan 8 yaitu 63 × 8, stupa-stupa dan elemen bangunan menggunakan kelipatan angka 8 secara berulang dan memiliki makna melambangkan 8 penjuru mata angin dan 8 jalan mulia dalam ajaran Buddha. Kesatuan angka 8 + 9 dalam filosofi Candi 8 adalah 8 penjuru angin (alam fisik), 9 adalah alam sempurna (pusat kesucian) yang bermakna bersatu 8 arah dunia + 1 pusat = 9 yang disebut kosmik.
- Candi Gedung Songo yang berada di Semarang, Jawa Tengah, yang terdiri dari 9 kompleks Candi yang terbesar di lereng Gunung Ungaran, yang melambangkan tahap pencucian diri menuju kesempurnaan.
- Candi Penataran (Candi Naga), Blitar, Jawa Timur, terdapat relief Nawa Dewata/Nawa Songo yaitu dewa penjuru mata angin, dengan tubuh naga melingkari Candi, naga ditandu oleh 9 dewa yang melambangkan arah kosmik (8 penjuru + 1 pusat).
- Candi Prambanan di daerah Sleman, Jogjakarta. Kompleks utama dikelilingi 224 Candi Perwara yang disusun dalam 4 baris yang membangun 9 lapis Mandala Siwa yang mengikuti konsep Nawa Sangga, 8 dewa penjuru + Siwa di tengah.
Pada hari Minggu, tanggal 9 Agustus 2026, penulis melakukan perjalanan spiritual ke Jawa Timur karena menghadiri Kongres Budaya di Kota Malang, namun alam semesta mengiring untuk melakukan perjalanan spiritual di kota Blitar, Tulungagung. Penulis bersama saudara yang ada di Blitar melakukan perjalanan napak tilas ke Candi Panataran Blitar. Penulis masuki dari area depan Candi sampai Candi induk. Terdapat Candi Naga yang relief Candi dililit oleh pahatan naga di setiap sisi candi. Makna lilitan itu naga melindungi dari segala penjuru.
Candi Panataran dibangun oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari 1286 Masehi. Naga yang ada pada Candi sebagai lambang Surya Sangkala. Naga adalah simbol pengikat, simbol harmoni dan kesatuan lahir batin, naga simbol air, kesuburan, kekayaan Bumi, kekuatan spiritual. Naga yang melilit Cando simbol menyelimuti, melindungi, menyatukan kekuatan duniawi dan Ilahi dan bentuk melingkari tanpa putus merupakan simbol keseimbangan siklus hidup yang tidak putus dan juga simbol sebab dan akibat. Naga membangun energi kundalini yang merupakan energi kekuatan batin yang terbangkitkan dan menyatu dengan Yang Maha Esa. Naga yang melingkar di Candi Naga merupakan keseimbangan kosmik dunia atas dan bawah menyatu, perlindungan menyeluruh 9 arah penjaga Bumi, kesuburan dan kelimpahan, naga penjaga air dan tanah.
Perhatian besar dan serius bagi kita semua, terutama para pemimpin dan wakil rakyat, para pengusaha tambang, pemanfaatan hutan di Indonesia ini agar dapat berhati-hati dalam mengambil hasil bumi ini. Janganlah serakah sampai merusak alam karena akibat sangat fatal, apalagi pemanfaatan untuk kepentingan sekelompok dan tidak adil dan merata. Ini akan membuat keseimbangan 9 dewa naga akan terganggu yang berakibat kerusakan alam, alam rusak maka keseimbangan bumi akan terganggu.
Filosofi Naga adalah sebagai penjaga alam semesta yang berfungsi sebagai simbol keseimbangan kosmik. Naga Sanga atau 9 dewa yang disebut “Nawa Dewa” atau “Nawa Sanga”, yaitu 9 penjuru angin untuk menjaga bumi dari kehancuran. Filosofinya Bumi dilindungi kekuatan penjaga 8 arah + 1 pusat (Siwa). Naga melingkari Bumi itu bulat/berputar tidak berujung dan perlindungan semesta menyatu. Makna bulat angka 8 arah atau pusat terganggu maka ini yang membuat bumi kehilangan keseimbangan maka akan terjadi bencana berupa gempa bumi, gunung meletus, air meluap, atau air kering dan tanah terbelah sehingga kehidupan makhluk juga akan terganggu. Pentingnya kita menjaga semesta beserta makhluknya. Jika gunung-gunung dirusak, mata air dirusak, tanah digundul, ini akan merusak perputaran bumi yang sesuai ritme waktu dan arah.
Dalam pitutur Sunda angka 9 merupakan angka peringatan “Salapan Tetenggerna Kahuripan” artinya angka 9 puncaknya kehidupan yang memiliki nasihat jika sudah ada di puncak ingat jangan sombong, jika sombong akan kembali pada angka ke-1 yaitu simbol Gusti. Bagaimana kita kaya raya, cantik dan ganteng, jabatan tinggi, kehormatan tinggi jika sombong maka akan datang waktu kehancuran, hukum alam bekerja secara alami dan pasti.
Angka 8 secara etimologi Sunda adalah “Sepuluh dikurangan dua”. Dalam bahasa Sunda angka 8 disebut “Walu”, maknanya secara filosofis dalam budaya Sunda dan tradisi Sunda 8 arah keseluruhan jagat yaitu 8 penjuru yang dijaga kekuatan semesta. Delapan arah penjuru yang merupakan kekuatan alam yang akan menyelimuti seluruh sisi dunia. Satu sebagai tengah (pusat), bermakna asal mula, dan penyatuan segala arah yang merupakan simbol kesatuan, keseimbangan, dan Yang Maha Esa.
Angka 8 memiliki makna secara filosofi menurut kalender Sunda, angka 8 disebut “Dewa Tahun”, dalam siklus 8 tahun yaitu windu Sunda, tahun ke-8 disebut “Hutang”. Tahun Hurang, tahun yang dianggap penuh berkah, kemakmuran, dan kedekatan dengan kekuatan langit. Tahun Hurang secara makna filosofis merupakan keseimbangan lahir dan batin. Angka 8 dalam makna perhitungan Kalender Sunda melambangkan keseimbangan ganda yaitu 4 penjuru + 4 penjuru = 8 penjuru, artinya kesatuan yang utuh yang melambangkan manusia kembali untuk menyeimbangkan kebutuhan dunia dan rohani. Dalam penggalan Sunda kuno (Candarasangkala) dijelaskan dengan bahasa kuno. Dalam naskah Siksa Kandang Keresian (1518) yaitu:
“Hana dalapan arah angin dalapan kekuatan nu ngaja alan dunya”.
Artinya:
“Hanya delapan arah mata angin delapan yang menjaga alam dunia”
“Naga wali ngelambangkeun dalapan kekuatan nu teu pegat-pegat, sabab naga teh simbol kekuatan nu terus ngalir”.
Artinya:
“Naga bernilai delapan melambangkan delapan kekuatan yang tidak terputus, karena naga adalah simbol kekuatan yang terus mengalir”.
Nawa Dikpalaga/Nawasanga/Nawagraha adalah 9 arah yang menjadi pelindung dan penuntun hidup menuju keseimbangan lahir batin berupa 9 wali atau disebut guru sejati. Newa Sanga juga merupakan pedoman penentuan waktu, membuat bangunan suci, meletakkan bangunan suci sampai menentukan dan menetapkan urusan kenegaraan.
Angka 81 Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 merupakan angka sakral, dan sangat selaras dengan ajaran leluhur Sunda, bila kita ambil hikmah angka 81 merupakan angka kesempurnaan dan keseimbangan artinya setiap manusia dapat memastikan makna bahwa kemerdekaan yang ke-81 akan mencapai kesempurnaan apabila individu manusia atau rakyat, pemimpin sama-sama memiliki kesadaran akan sejarah perjuangan mewujudkan kemerdekaan tidak sekadar asal-asalan menentukan kemerdekaan dan kedaulatan penuh perhitungan dan waktu sebagai penentu. Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 adalah peringatan keras bagi pemimpin yang tidak dapat menjalankan simbol angka 8 dan 1 yang berjumlah 9 akan kehilangan keseimbangan diri, jika keseimbangan diri hilang maka akan terbentuk karakter perusak, serakah dan tidak memiliki sifat adil dan ini akan membuat siklus alam kesejatian akan terganggu, tinggal menunggu hukum alam yang bertindak tegas dan pasti.
Angka 8 menurut filosofi ilmu Jawa 8 adalah “Wolu” atau “Asta”, yang memiliki makna utama kemakmuran, kelimpahan, keseimbangan, putaran jagat, putaran tanpa ujung. Bentuk angka 8 melambangkan siklus tidak terputus, seperti simbol tidak terhingga. Hidup kehidupan putaran jagat berupa putaran waktu, nasib, rezeki, semua berjalan dalam putaran keseimbangan. Hidup itu berputar dan merupakan siklus putaran alam, seperti roda berputar ke atas dan ke bawah, ke samping, ke kanan dan ke kiri artinya kadang di atas dan di bawah.
Dalam pemahaman kuno angka 8 disimbolkan dengan naga yang bermakna kekuatan yang tidak berkesudahan, perlindungan dan kebijaksanaan. Oleh karena itulah alasan mengapa pada zaman kerajaan (klasik) banyak menggunakan ornamen naga yang diletakkan pada candi-candi dan terbukti sampai zaman masih dapat kita jumpai seperti penjelasan penulis yang membuktikan melalui perjalanan nyata dan spiritual menuju Candi Panataran.

Cerita naga hanya sekadar legenda menurut zaman saat ini, tetapi merupakan kekuatan kehidupan alam semesta yang zaman ini cerita itu hanya menjadi ejekan kata-kata musyrik, legenda, dan tidak sesuai dengan agama, tetapi pada zaman kuno oleh leluhur kita menjadi pandangan, kepercayaan dan ilmu dalam memaknai kehidupan dan simbol kekuatan alam. Kita diwajibkan dalam agama mempercayai yang gaib, tetapi saat kita bercerita makna sejati dari leluhur kita, kita menolak dan disebut dongeng kuno yang tidak berarti padahal tanpa kekuatan 8 penjuru angin dan perlindungan 9 naga alam dunia ini akan hancur. Tapi kenyataan ada yang menggunakan nama 9 naga, tapi apakah benar menjadi pelindung, memakmurkan, penjaga, keseimbangan dan berkeadilan? Simbol arah 8 penjuru dunia yang disangga oleh sembilan dewa adalah untuk keseimbangan dunia. Namun penulis memaknai 8 penjuru mata angin adalah 8 kekuatan ilahi dengan yang harus dimiliki oleh kita manusia dan 9 Nawa Sanga/9 dewa harus ada pada diri kita bahwa kita manusia harus menjadi penjaga dan penyeimbang dunia agar kehidupan terjaga dan damai sejahtera.
Manusia harus memaknai angka 8 penjuru mata angin dan angka 9 sebagai pedoman untuk diterapkan pada diri manusia itu sendiri sebagai penjaga keseimbangan diri (Bumi alit) dan keseimbangan dunia (Bumi ageng), dalam naskah Kuno Sunda Sanghyang Siksakandang Keresian disebut “Sanghyang Suku”:
- Makna Utara sebagai arah kebijaksanaan dan penjaga kehidupan artinya arah tempat cahaya kebenaran bersinar tetap dengan penuh pengertian yang luas, pandangan yang lurus dan penuh rasa kasih sayang yang tidak pernah lelah menjaga segala makhluk, supaya tumbuh, hidup dan berjalan menuju tujuan yang baik. Utara sebagai pengingat bahwa segala yang lahir, tumbuh dan tinggal di dunia ini harus terpelihara, dihormati, dan dijaga agar tidak punah, tidak rusak dan tetap memberikan keselarasan (Dewa Wisnu/Hitam). Dalam naskah Siksa Kandang Keresian terdapat kutipan “Utara, lor kahanan Hyang Wisnu hideung rupannya”. Hitam bukan gelap tetapi gambaran samudra yang dalam, hitam sumber lahir, hitam adalah kekal dan kestabilan.
- Makna Timur Laut sebagai arah pertumbuhan dan kekuatan suci. Timur Laut kekuatan yang datang dari Yang Maha Suci, tumbuh tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan, tegak lurus ke arah terang dan makin lama makin mampu menopang, melindungi, serta manfaat bagi sekeliling. Pengusaha Timur Laut (Dewa Hyang Sambhu Iswara) memiliki sifat menyatukan, membangun, membersihkan, meningkatkan jiwa agar sadar pada asalnya, memisahkan siapa yang sejati dari yang sekadar tampilan. Timur simbol putih, putih adalah cahaya suci, cahaya awal.
- Makna Timur sebagai arah keseimbangan dan penjaga arah, artinya pusat awak yang lurus sebelum terbagi terang dan gelap, panas dan dingin. Timur arah terbitnya cahaya dan titik mulanya lurus dan adil, menyinari semua makhluk sama rata. Warna putih menandakan kesucian, kejernihan dan keseimbangan dalam menjaga keutuhan. Timur penjaga Hyang Iswara sebagai penjaga gerbang. Timur memastikan hari dimulai benar, benih bertunas murni, dan segala arah lain tetap seimbang karena berpijak pada terang yang murni.
- Makna Tenggara sebagai arah kekuatan dan semangat. Tenggara arah antara Timur dan Selatan dengan warna merah muda yang bersifat kekuatan ramah, kemakmuran, dan semangat membangun. Tenggara adalah pertemuan cahaya pagi dan panas kehidupan. Tenggara meliputi semangat tidak mengenal menyerah serta kekuatan yang membangun. Tenggara dijaga oleh Hyang Masheswara/Hyang Agni yang bertugas memastikan kondisi baik bukan sekadar impian tetapi tumbuh kekuatan, makin makmur, berubah dan bermanfaat luas bagi orang lain. Hubungan antara Tenggara dan Timur, jika Timur membuka pintu gerbang sedangkan Tenggara melangkah masuk membuka tenaga dan semangat penuh dan menjadi kenyataan yang kekal dan berguna. Senjata Tenggara adalah Dupa yang berfungsi menghangatkan, naik ke langit dan menyebar daya kehidupan wangi di segala penjuru.
- Makna Selatan sebagai arah perlindungan dan keadilan. Kutipan dalam naskah Sanghyang Siksakandang Keresian “Daksina yaketa kidul tempatna Hyang Brahama, Bereum nyatana” artinya “Selatan tempatnya Dewa Brahma, merah warnanya”. Pusaka Brahma adalah “Gada” yang melambangkan kekuatan yang menegakkan kebenaran dan melindungi yang lemah. Pasangan Hyang Brahama adalah Dewi Saraswati yaitu Dewi Pengetahuan, Kebijaksanaan dan keadilan. Warna merah adalah darah yang artinya semua makhluk asalnya sama dan darah adalah simbol keadilan. Selatan berdiri sebagai benteng pelindung menjaga agar tidak ada yang dirugikan. Pasangan arah selatan sama dengan tengah dan penghakiman lurus, melengkapi Timur tumbuh, Utara pandangan jauh, Barat menyimpan hasilnya dan Tengah menyatukan semuanya.
- Makna Barat Daya sebagai arah stabilitas arti secara harfiah Barat Daya arah matahari terbenam, masa beralih, tempat alam mulai tenang, kegiatan berhenti. Secara rohani dan budaya, Barat Daya adalah penjaga keseimbangan, unsur penopang bumi dan air, sifatnya menetap, melindungi, menyimpan, mengikat kebersamaan. Stabilitas bermakna ketenangan, berdiri pada akar yang jelas, tahu ke mana arah angin. Barat Daya (Dewa Sangkara/Siwa Masheswara sebagai penjaga kehidupan dan keseimbangan).
- Makna arah Barat sebagai arah introspeksi dan menjaga kedamaian. Penjaga Hyang Mahadewa, warna kuning. Barat dijaga oleh Hyang Mahadewa artinya tempat hari selesai, cahaya meredup dan hati berpaling ke dalam, dan melihat diri pada cermin yaitu introspeksi, memandang diri jujur, memilah perjalanan, menyimpan hikmat, lalu menata ulang supaya tetap seimbang, damai, cukup dan tenang. Barat menjaga ketenangan dan kedamaian yang tidak mudah goyah. Warna kuning adalah warna terbenamnya cahaya.
- Makna arah Barat Laut sebagai arah intuisi artinya Barat Laut sudut antara Utara dan Barat, arah yang menghubungkan langit-langit antara batin ke arah sumber cahaya jernih batin dan pengetahuan terdalam. Makna rohani tempat bersemayam daya rasa, wawasan batin, bisikan petunjuk yang berhubung pada diri sejati dan pengetahuan leluhur yaitu intuisi. Intuisi mendengar suara yang tidak bersuara, mengetahui belum terlihat, merasakan jalan yang belum terbuka, seperti bintang Polaris tetap terlihat meski awan berarak. Sifat bintang Polaris tidak bergerak, patuh pada arah, tidak berubah, konsisten pada tentang hukum alam dan petunjuk alam.
- Madya posisi Tengah adalah tempat semua menyatu. Dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Keresian dalam kutipan “Purwaning Isora putih, Daksinaning Brahma merah, Pasimaning Mahadewa Kuning, Utara Wisnu Hitam, Madyaning Siwa aneka warna”. Tengah Sang Hyang tunggal yang satu, sumber dan penutup segala-galanya, semua arah bertemu, kembali satu awal yang sama, yang menyempurnakan. Tengah adalah akar, sumber, wadah dan tujuan ke lima arah sekaligus. Dari tengah segala arah bermula, kepada tengah segalanya pulang bersatu, itulah makna hidup yang sesungguhnya, mengenal keragaman luar tapi semuanya satu di dalam, seperti konsep Bhinneka Tunggal Ika.
Angka satu (1) adalah Esa di ujung angka 8, berdiri kokoh 1 maknanya kembali pada yang satu. Segala sesuatu bermula dari angka 1 dan kembali pada yang satu dan kepada satukah segala sesuatu kembali. Kesatuanlah yang menyatukan dan membuat persatuan dalam beragam “Bhinneka Tunggal Ika” seperti beribu-ribu buih air yang menjadi satu ke samudra, seperti beragam warna yang menyatu dalam pelangi. Angka 81 mengajarkan kita setelah kita kembali pada satu, kembali pada dasar sejati.
Usia Republik Indonesia 81, marilah kita tidak hanya merayakan ulang tahun kemerdekaan, tidak hanya merayakan angka dan tahun tetapi mari kita merayakan makna dan memahami makna yang tersembunyi dari balik angka itu. Kemerdekaan adalah titipan dan amanah. Persatuan, kesatuan dan menyatu yang sering kita dengar dalam kehidupan berbangsa kita, adalah rencana Sang Pencipta agar kita saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan saling memisahkan. Kita manusia dituntut percaya pada yang gaib, tetapi saat kita bercerita makna ajaran leluhur tanah air kita sendiri merasa asing, bahkan kita antipati, kita mengagungkan nilai ajaran yang bukan dari tanah air kita sedangkan yang dari tanah air kita, dari leluhur kita, yang pernah diyakini oleh kakek nenek kita terbuang bahkan dianggap musyrik dan sirik.
Mengapa dalam ajaran budaya Sunda sangat penting dipahami oleh manusia, karena Nawa Sanga adalah ajaran ilmu alam lahir dan batin yang harus ada dalam diri yang merupakan ajaran mengenal diri dan Tuhan. Dalam naskah Sunda kuno Siksa Kandang Keresian disebutkan adanya kutipan:
“Namanya Panca Byapara. Sanghyang Pertiwi (tanah), Air, Cahaya, Angin dan Angkasa. Ujar sang Budiman manusia besar; itu semua milik kita (ada pada diri kita). Yang diibaratkan tanah yaitu kulit, yang diibaratkan air yaitu darah dan lidah, yang diibaratkan cahaya yaitu mata, yang diibaratkan angin yaitu tulang, yang diibaratkan angkasa yaitu kepala. Itulah yang disebut Pertiwi dalam tubuh. Ya diibaratkan oleh pengusaha bumi”.
Sangat jelas bahwa kita manusia ada di dunia ini karena unsur-unsur alam yang membentuk dan mencipta kita, kita sudah lupa pada diri kita adalah jagat alit yang dihidupkan oleh jagat semesta, rusak dan hilang keseimbangan kita manusia maka akan memengaruhi keseimbangan bumi pertiwi ini. Manusia banyak melupakan pemahaman ilmu leluhur Sunda, banyak juga yang menyatakan ajaran leluhur Sunda adalah musyrik, jika kita resapi dan maknai lebih dalam jika kita mau sadar itulah kesejatian ajaran kehidupan dunia.
Angka satu (1) adalah Esa di ujung angka 8, berdiri kokoh 1 maknanya kembali pada yang satu. Segala sesuatu bermula dari angka 1 dan kembali pada yang satu dan kepada satulah segala sesuatu kembali. Kesatuanlah yang menyatukan dan membuat persatuan dalam beragam “Bhinneka Tunggal Ika” seperti beribu-ribu buih air yang menjadi satu ke samudra, seperti beragam warna yang menyatu dalam pelangi. Angka 81 mengajarkan kita setelah kita kembali pada satu, kembali pada dasar sejati.
Usia Republik Indonesia 81, marilah kita tidak hanya merayakan ulang tahun kemerdekaan, tidak hanya merayakan angka dan tahun tetapi mari kita merayakan makna dan memahami makna yang tersembunyi dari balik angka itu. Kemerdekaan adalah titipan dan amanah. Persatuan, kesatuan dan menyatu yang sering kita dengar dalam kehidupan berbangsa kita, adalah rencana Sang Pencipta agar kita saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan saling memisahkan.
Perjalanan mencapai kedaulatan, bulan 8 (Agustus), merupakan bulan kesempurnaan, tanggal 17 = 1 + 7 = 8, merupakan tanggal kesempurnaan. Angka tanggal dan bulan kemerdekaan Republik Indonesia bila dihitung 8 + 8 = 16 = 1 + 6 = 7 yang bermakna “Pitulung” artinya pertolongan untuk bangsa kita dari semesta. Setelah kemerdekaan hadir selama 81 tahun akankah kita sia-siakan, diisi dengan sikap tidak setia dan tidak cinta pada tanah air, tidak memiliki rasa nasionalisme, jika anak bangsa seperti ini maka Kemerdekaan bangsa ini akan hilang dan kembali ditindas dan dijajah kembali.
Angka 17-8-2026 yang merupakan hari kemerdekaan yang ke-81 adalah langkah awal yang memanggil anak bangsa kembali pada kesatuan dan persatuan untuk menjaga tanah air bangsa Indonesia. Di usia 81 kemerdekaan kembali ajaran leluhur kita Nusantara “Nawa Sanga” kita makna sebagai 8 arah penjaga tanah air Indonesia untuk tetap 1 (satu) tujuan yaitu merdeka, dengan sikap dan semangat persatuan maka bangsa kita dan dunia kita akan tetap kokoh dan berdaulat.
“Dari satu kita lahir, kepada satu kita kembali, delapan puluh satu tahun bukanlah akhir, melainkan awal dari cahaya yang tidak akan pernah padam”.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81, tetap menjadi bangsa yang berdaulat di bawah payung langit keadilan Nusantara dan adil di bumi dan makmur dalam kasih sayang Nawa Sanga (9 kekuatan penjaga alam) dan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa.
Waspada pada kemerdekaan Republik Indonesia ke-82 tahun di tahun 2027 artinya 8 + 2 = 10 (kembali pada yang satu), angka 1 akan dominan berperan kembali pada titik awal!!
YAYASAN SUNDA TIGABELAS BUHUN
Bandung, 29 Agustus 2026.
Tumpek, 8s Kliwon, Maga, 1963 Caka Sunda (Caang Bulan)

Judul: Makna Angka 81 dalam Pandangan Budaya Sunda dan Spiritual dalam Memaknai Kemerdekaan RI ke-81 (Nawa Sanga/Nawa Dewata)
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Ketua Yayasan Sunda13 Buhun, Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)
Editor: Parkah












