MajmusSunda News, Senin (10/08/2026) – Kita hidup dalam waktu yang menyukai kecepatan. Apa pun ingin segera sampai, segera selesai, segera menjadi. Informasi datang dalam hitungan detik, pekerjaan dipercepat oleh teknologi, dan banyak hal yang dahulu membutuhkan perjalanan kini cukup ditempuh dengan beberapa sentuhan. Perlahan kita terbiasa mengukur kehidupan dengan jarak antara ingin dan memperoleh. Semakin pendek jaraknya, semakin terasa berhasil kita menjalani zaman.
Pengetahuan kemudian memberi kita sesuatu yang sangat berharga sekaligus sedikit berbahaya. Ia membuat kita tahu syarat-syarat untuk memperoleh banyak hal. Kita tahu apa yang diperlukan untuk mendapatkan gelar, menaikkan pangkat, menduduki jabatan, membangun pengaruh, bahkan memperoleh kekuasaan. Setelah syarat-syarat itu diketahui, kita pun menemukan berbagai jalan untuk mempercepatnya. Yang dahulu ditempuh dengan perjalanan panjang, dicari jalan pintasnya. Seolah setelah mengetahui caranya, kita juga telah mengetahui bagaimana menjadi sesuatu itu.
Padahal gelar dapat berubah dalam selembar keputusan, jabatan dapat berpindah dalam satu penetapan, dan kekuasaan dapat datang kepada seseorang dalam satu pagi. Yang tidak serta-merta berubah adalah manusia yang menerima semua itu. Nama boleh bertambah panjang, tetapi kedalaman tidak mengenal jalan pintas. Seseorang dapat segera dipanggil dengan sebuah gelar, tetapi belum tentu segera tumbuh menjadi apa yang seharusnya terkandung di balik gelar tersebut.
Saya teringat Imam Malik. Ia menempuh perjalanan ilmu yang panjang, berguru dan belajar sebelum bersedia duduk untuk mengajar dan memberi fatwa. Dalam riwayat yang masyhur, kelayakannya untuk berfatwa terlebih dahulu disaksikan oleh sekitar tujuh puluh ulama. Bahkan ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak diketahuinya, ia tidak merasa perlu menyelamatkan kewibawaannya dengan sebuah jawaban. Ia cukup mengatakan bahwa ia tidak tahu. Ada keanggunan tertentu dalam sikap semacam itu. Ilmu tidak selalu membuat seseorang ingin segera dipanggil sebagai orang yang tahu.
Kita barangkali memang dapat mempercepat proses memperoleh sesuatu, tetapi tidak seluruh proses menjadi sesuatu dapat dipercepat. Kita dapat mengetahui bagaimana memperoleh gelar, tetapi menjadi berilmu adalah perjalanan yang lain. Kita dapat mengetahui bagaimana memperoleh jabatan, tetapi menjadi pribadi yang pantas dipercaya oleh jabatan itu memerlukan waktu. Kita dapat mengetahui jalan menuju kekuasaan, tetapi belajar agar kekuasaan tidak mengikis kemanusiaan adalah perjalanan yang sama sekali berbeda.
Sebab tahu sendiri adalah sesuatu yang imaterial. Ia tidak dapat dipajang seperti gelar, dikenakan seperti pangkat, atau terlihat seperti kekuasaan. Namun justru karena tidak kasatmata, pengetahuan dapat bekerja jauh ke dalam diri. Ia mengubah cara kita melihat manusia, memilih kata, menggunakan kewenangan, dan memandang diri sendiri. Pengetahuan yang sungguh hidup tidak hanya membuat kita memiliki lebih banyak jawaban. Ia perlahan menambah sesuatu yang tidak terlihat, yaitu tanggung jawab.
Barangkali di situlah agama terasa lebih dalam daripada sekadar sesuatu yang cepat diketahui. Hari ini kita begitu mudah menemukan ayat, hadis, tafsir, pendapat ulama, dan berbagai penjelasan. Tetapi mengetahui tentang sabar tidak membuat waktu menunggu menjadi lebih pendek. Mengetahui tentang kasih sayang tidak serta-merta membuat hati mudah mengasihi. Mengetahui tentang Tuhan pun masih membutuhkan perjalanan agar pengetahuan itu menemukan tempatnya dalam kehidupan. Ada sesuatu yang harus tumbuh perlahan, seperti akar yang bekerja dalam gelap sebelum pohon memperlihatkan teduhnya.
Maka ada hal-hal yang boleh berjalan cepat, tetapi ada pula yang sebaiknya dibiarkan tumbuh dalam waktunya sendiri. Kedewasaan, kebijaksanaan, kasih sayang, ketulusan, kepercayaan, dan kesadaran tentang siapa kita di hadapan kehidupan. Semua itu tidak memiliki jalan pintas. Gelar, pangkat, jabatan, ilmu, bahkan kekuasaan dapat menjadi tanda pencapaian, tetapi sekaligus membawa amanah. Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak pula yang harus kita pertanggungjawabkan kepada manusia dan kepada Dia yang mengetahui untuk apa pengetahuan itu kita gunakan. Mungkin yang tak bisa dipercepat bukanlah perjalanan menuju sesuatu, melainkan perjalanan menjadi manusia yang pantas menerimanya.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Yang Tak Bisa Dipercepat
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












