MajmusSunda News, Minggu (09/08/2026) – Tulisan ini saya susun dari berbagai sumber yang saya baca, dari pengetahuan yang saya peroleh, serta dari _folklore_ dan cerita para sesepuh yang sampai kepada saya. Karena itu, saya tidak menempatkan seluruh uraian di dalamnya sebagai satu-satunya tafsir tentang kujang. Sebagian adalah catatan sejarah, sebagian merupakan pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat, dan sebagian lagi adalah perenungan saya ketika melihat kujang bukan hanya sebagai benda, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang urang Sunda.
Ada benda-benda yang dibuat untuk memotong, tetapi kemudian justru dipakai untuk mengingat. Kujang adalah salah satunya. Di tangan urang Sunda, ia pernah menjadi alat pertanian, senjata, dan kemudian pusaka; tetapi perjalanan sebuah benda tidak selalu berhenti pada fungsi awalnya. Kujang tumbuh bersama perubahan masyarakat Sunda, dari kehidupan ngahuma yang sangat dekat dengan tanah hingga menjadi tanda yang dikenali sebagai bagian dari identitas Tatar Sunda. Jejak tentang kujang bahkan telah tercatat dalam Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian pada 1518 Masehi. Maka, barangkali terlalu sederhana bila kujang hanya disebut senjata khas Sunda. Ia lebih menyerupai benda yang menyimpan perjalanan panjang sebuah peradaban.
Menariknya, sejarah kujang justru membawa kita kepada sesuatu yang sangat ekologis. Sebelum ia dibayangkan sebagai pusaka, kujang berkaitan dengan pekerjaan mengolah tanah. Ia hadir bukan semata untuk menghadapi manusia lain, melainkan untuk berhadapan dengan semak, ilalang, ranting, dan tanah yang hendak ditanami. Di sana terdapat hubungan yang agak sunyi antara manusia dan alam. Bilah itu menjadi perpanjangan tangan manusia ketika tangannya sendiri tidak cukup kuat untuk membuka jalan menuju kehidupan. Barangkali karena itulah jejak kujang sebagai alat berladang masih dapat ditemukan dalam tradisi masyarakat tertentu. Sebuah senjata yang akarnya berada di ladang mengajarkan sesuatu yang menarik: kehidupan manusia pada mulanya bukan dibangun dengan menaklukkan alam, melainkan dengan belajar bekerja bersamanya.
Lalu zaman bergerak. Masyarakat berubah, tata sosial berubah, cara mempertahankan diri berubah, dan kujang pun mengalami perubahan bentuk, fungsi, serta makna. Dari benda yang bersentuhan dengan pekerjaan sehari-hari, ia perlahan memperoleh kedudukan simbolik dan sakral. Di sinilah antropologi menemukan sesuatu yang sering luput dari pandangan kita: benda budaya tidak pernah benar-benar mati ketika fungsi praktisnya hilang. Ia dapat berpindah dari tangan petani ke ruang upacara, dari alat kerja menjadi pusaka, dari pusaka menjadi lambang, dan dari lambang menjadi ingatan kolektif. Benda itu tetap diam, tetapi masyarakat yang mengelilinginya terus memberinya makna.
Karena itu bentuk kujang terasa begitu berbeda dari senjata yang dibayangkan secara sederhana sebagai alat untuk menyerang. Lekuk bilahnya seperti menyimpan gerak yang tidak selesai. Ada bagian yang meruncing, ada lengkungan, ada mata pada bilah, dan pada beberapa bentuknya muncul tafsir yang menghubungkannya dengan bentuk-bentuk tertentu dari alam dan kehidupan. Saya tidak ingin memastikan semua tafsir simbolik itu sebagai kebenaran sejarah, sebab _folklore_ memang memiliki cara sendiri dalam menjaga ingatan. Tetapi secara kultural, cara sebuah masyarakat membaca bentuk menunjukkan bagaimana manusia menyimpan pandangan dunianya ke dalam benda. Orang Sunda tidak hanya membuat sebuah benda, tetapi menitipkan sesuatu dari cara mereka memandang kehidupan ke dalam benda itu.
Dari sini saya melihat ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar identitas kultural. Sebuah masyarakat ternyata dapat menitipkan ingatannya kepada benda. Yang tidak lagi dapat diceritakan oleh seorang tua kepada anaknya, kadang tetap tinggal pada bentuk sebuah pusaka. Yang tidak lagi dialami oleh generasi berikutnya, kadang masih dapat disentuh melalui benda yang diwariskan. Kujang menjadi semacam memori yang dibekukan oleh tempa dan waktu. Ia membawa kita kepada kesadaran bahwa kebudayaan bukan hanya kumpulan tarian, pakaian, bahasa, atau upacara. Kebudayaan juga adalah kemampuan sebuah masyarakat untuk meninggalkan jejak tentang siapa dirinya, dari mana ia datang, dan nilai apa yang dahulu dianggap layak untuk diteruskan.
Tetapi ada satu hal yang membuat kujang menarik untuk direnungkan lebih jauh. Ia adalah bilah yang tajam, tetapi tidak selamanya harus digunakan untuk melukai. Di situlah mungkin letak pelajaran yang sederhana tentang kekuatan. Kekuatan tidak selalu ditentukan oleh seberapa jauh sesuatu mampu menghancurkan. Kadang kekuatan justru terlihat dari kemampuan menahan ketajaman agar tidak salah arah. Kujang yang menjadi pusaka tidak lagi terutama dinilai dari daya lukanya, melainkan dari makna yang dikandungnya. Seolah-olah perjalanan sejarahnya berkata bahwa kekuatan yang matang adalah kekuatan yang telah menemukan batas bagi dirinya sendiri.
Barangkali ini pula yang membuat kujang tetap hidup di tengah masyarakat yang telah sangat jauh berubah. Kita boleh tinggal di kota, bekerja dengan mesin, berbicara melalui layar, dan hampir tidak lagi mengenal pekerjaan berladang seperti leluhur kita. Namun manusia tetap membutuhkan tanda untuk mengatakan, dari sinilah saya berasal. Identitas bukan sekadar kebanggaan terhadap masa lalu. Ia adalah kesediaan untuk menerima bahwa ada sesuatu yang diwariskan kepada kita, lalu bertanya apakah kita cukup bijaksana untuk meneruskannya tanpa sekadar mengulang bentuknya. Kujang tidak meminta kita kembali ke masa lalu. Ia hanya diam di sana, seperti sebuah pertanyaan yang tidak tergesa-gesa, apa yang dari masa lalu masih pantas dibawa ke hari ini?. Tentu, meski kita telah terpisah waktu dari para karuhun, nilai-nilai Kujang masih bisa kita sari-kan di hari ini.
Maka ketika saya melihat kujang, saya tidak lagi hanya melihat sebilah senjata dari tanah Sunda. Saya melihat tanah yang pernah dibuka, alam yang pernah menjadi ruang kehidupan, tangan yang pernah bekerja, masyarakat yang pernah membangun tata kehidupannya, dan para sepuh yang meninggalkan sesuatu agar generasi sesudahnya tidak sepenuhnya kehilangan arah. Sebuah bilah ternyata dapat menyimpan begitu banyak hal, bukan karena logamnya, melainkan karena manusia memberi kehidupan kepada makna. Mungkin begitulah hikmah bekerja: ia tidak selalu datang dalam bentuk nasihat. Kadang ia berdiam di dalam sebuah benda, menunggu seseorang memandangnya sedikit lebih lama, sampai akhirnya kita mengerti bahwa yang diwariskan oleh karuhun bukanlah kujangnya, melainkan cara untuk menjaga hubungan antara manusia, tanah, sesama, dan Yang Maha Mengetahui.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Kujang
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












