Kubiarkan Kau Terlelap di Pangkuanku

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Sabtu (25/07/2026) Duhai kucingku, tidurlah. Barangkali malam sedang menutup pintu-pintunya sendiri, agar lelapmu tidak disentuh oleh gaduh yang belum selesai. Di pangkuanku ini tubuh kecilmu terbaring, dengan napas yang naik dan turun, seperti sepotong kehidupan yang untuk sesaat tidak sedang menuju ke mana-mana. Dan entah mengapa, melihatmu tidur seperti ini, aku pun merasa dunia tidak harus selalu dikejar. Setidaknya sampai kau bangun.

Aku tidak tahu dari jalan mana bulu-bulu kecilmu telah sampai ke sini. Ada debu yang masih tinggal di antara helai-helainya, ada hangat matahari yang barangkali belum seluruhnya pergi. Kini kau terbaring di pangkuanku, ringan dan tenang. Sementara aku memandangmu, ada sesuatu dari pertemuan ini yang tidak meminta untuk dijelaskan. Barangkali memang tidak semua hal yang baik harus segera diberi penjelasan. Ada yang cukup diterima, seperti seekor kucing yang tiba-tiba tidur di pangkuan kita, lalu membuat kita merasa bahwa untuk beberapa saat, urusan dunia dapat menunggu.

Yudha Heryawan Asnawi bersama kucing kesayangannya – (Sumber: Yudha Heryawan Asnawi)

Kepalamu terletak di atas tubuhku. Kakimu terlipat, telingamu sesekali bergerak menangkap sesuatu yang tidak sampai kepadaku. Kau tidak mengucapkan apa-apa. Tentu saja. Kalau pun kau mengucapkan sesuatu, barangkali aku juga tidak akan memahami. Namun dari lelap yang sederhana itu, aku seperti mendengar sebuah bahasa lama yang tidak pernah diajarkan kepada siapa pun. Bahasa yang barangkali tidak membutuhkan kata-kata, karena tubuhmu sudah cukup menjelaskannya.

Tanganku bergerak perlahan, lalu berhenti. Barangkali ada saat ketika belaian terbaik adalah yang tahu kapan harus menjadi sentuhan dan kapan harus berubah menjadi penjagaan. Maka kubiarkan bulu-bulu itu tetap berada dalam lelapnya. Ada sesuatu yang rapuh dalam kepercayaan yang tidak boleh disentuh terlalu banyak. Bahkan seekor kucing yang sedang tidur pun barangkali tahu, meskipun tentu saja ia tidak perlu mengatakannya, bahwa kasih sayang yang baik tidak selalu harus sibuk menunjukkan dirinya.

Entah mengapa, tubuh kecil yang tertidur sering membawa kita kepada hal-hal yang jauh. Kepada waktu ketika segala sesuatu belum diberi nama. Kepada napas pertama yang tidak membawa janji dan tidak meminta balasan. Barangkali kasih sayang memang pernah sesederhana itu. Hanya sebuah kehadiran yang tidak ingin menguasai apa pun yang berada di dekatnya. Lalu kita tumbuh menjadi manusia, dan entah sejak kapan segala sesuatu mulai ingin kita miliki, kita pahami, kita pastikan, bahkan kita minta untuk membalas.

Di balik mata yang tertutup itu ada ruang yang tidak dapat kumasuki. Aku hanya melihat napasmu yang naik dan turun, seperti rahasia kecil yang sedang mengulang dirinya di antara tubuh dan waktu. Dan entah mengapa, ketika kau terlelap demikian, ada bagian dari diriku yang perlahan belajar untuk tidak membangunkan apa-apa. Tidak membangunkan tidurmu, tentu saja. Barangkali juga tidak membangunkan kegelisahan yang selama ini terlalu sering kita pelihara sendiri.

Tidurlah lebih lama. Kubiarkan kau terlelap di pangkuanku. Tidak perlu ada janji yang mengikat pagi. Jika kelak matamu terbuka dan tubuh kecilmu kembali mencari jalan, barangkali tidak ada yang perlu dibawa dari malam ini. Cukuplah pernah ada sebuah tubuh yang terlelap, sebuah pangkuan yang menerima, dan sesuatu yang tidak bernama pernah tinggal sebentar di antara keduanya. Dan jika nanti kau pergi begitu saja, tanpa pamit dan tanpa menoleh, aku akan tetap mengingat bahwa pernah ada seekor kucing yang membuatku memahami satu hal kecil tentang kasih sayang, bahwa kadang-kadang kita tidak perlu melakukan apa-apa selain menyediakan pangkuan, lalu membiarkan yang kita kasihi tidur dengan tenang.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Kubiarkan Kau Terlelap di Pangkuanku
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *