MajmusSunda News – Bandung, Rabu (29/07/2026) – Bertempat di Kitchen dan Cafe, Jalan Sangkuriang No. 17, Coblong, Bandung, pada Senin, 27 Juli 2026, pukul 10.00 WIB, dilaksanakan kegiatan “Budaya Day’s”, yang merupakan program kegiatan budaya yang dirancang sebagai ruang pembelajaran, dialog, serta pengenalan kembali nilai-nilai budaya Sunda kepada masyarakat luas. Kegiatan ini diselenggarakan dalam forum kelas budaya dengan tema “Dasa Daya Waluya” sebagai upaya memperluas pemahaman terhadap ajaran dan nilai-nilai budaya Sunda melalui pendekatan yang komunikatif dan relevan.
Kegiatan Budaya Day’s diselenggarakan oleh Lokapesta Culture Prod bekerja sama dengan Pasundan Istri Divisi Budaya dan Yayasan Sunda Tigabelas Buhun. Kelas Budaya Day’s episode pertama menghadirkan tema obrolan “Mengenal Ajaran Indung (Ibu) Orang Sunda Dasa Daya Waluya” dengan menghadirkan pemateri Ambu Rita Laraswati dari Yayasan Sunda Tigabelas Buhun. Beliau merupakan Ketua Yayasan, budayawati, penulis, peneliti literasi, seniman, dan spiritualis. Yayasan Sunda Tigabelas Buhun merupakan yayasan yang bergerak dalam pelestarian budaya, riset, penulisan budaya, dan pengembangan pemberitaan melalui media yang berfokus pada kebudayaan.

Materi yang disampaikan oleh Ambu Rita Laraswati bertema “Dasa Daya Waluya Selaras dengan Ajaran Leluhur Sunda”. Dasa Daya Waluya harus memiliki kekuatan roh ilmu leluhur Sunda yang telah lebih dahulu mengajarkan nilai-nilai budi pekerti, seperti nilai etika, moral, kesopanan, serta hubungan antarsesama, hubungan dengan alam, dan Tuhan. Leluhur orang Sunda telah lebih dahulu memahami hal tersebut. Terbukti, pada masa kehidupan leluhur terdapat zaman peradaban emas. Peradaban yang saat itu menjadi utama adalah nilai-nilai kebaikan, seperti Dasa Pasanta dan Dasa Marga yang terdapat dalam Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian serta naskah kuno lainnya. Sepuluh kekuatan yang ada pada Dasa Pasanta dan Dasa Daya Waluya sangat selaras. Artinya, Dasa Daya Waluya layak dijadikan panduan dalam pendidikan karakter untuk membentuk manusia mulia dan paripurna.

Sebelum pembahasan tema utama disampaikan, kegiatan kelas budaya dibuka dengan penampilan pembacaan narasi “Kidung Indung Mibanda Elmu” yang disampaikan oleh Ambu Rita Laraswati. Kidung tersebut merupakan hasil karya tulis Ambu Rita Laraswati. Kidung Indung mengajak para indung-indung Pasundan Istri, indung-indung Bandung, dan indung-indung dunia untuk kembali kepada kesadaran akan fungsi dan peran indung, serta mengajak semua indung untuk bangkit melihat keadaan kehidupan yang saat ini membutuhkan kebangkitan jiwa indung-indung Sunda. Para peserta kelas Budaya Day’s meneteskan air mata saat mendengarkan Kidung Indung. Lantunan kidung tersebut mampu menggugah rasa para peserta kelas Budaya Day’s. Dalam narasi Kidung Indung, para indung diajak untuk bangkit karena indung memiliki tugas berat dalam membentuk karakter anak-anak yang mulia dan paripurna. Indung mengandung, melahirkan, menjadi guru, menjadi penentu kehidupan anak, serta menjadi penjaga moral dalam keluarga, lingkungan, dan bangsa. Syair terakhir Ambu Rita Laraswati mengajak para indung untuk bangun dan sadar.
“Indung hudang, Indung nangtung, tinggal anak bangsa leungiteun Budi pekerti, Indung geura hudang, selametken anak bangsa jeung dan nagara, gunakeun jiwa Sunda.”
Artinya:
“Ibu bangun, ibu berdiri, lihat anak bangsa sudah kehilangan budi pekerti, ibu cepat bangun, selamatkan anak bangsa dan negara, pakailah jiwa Sunda.”
Dilanjutkan dengan “Kidung Dasa Daya Waluya” yang bermakna tentang sepuluh kekuatan untuk menjadi manusia mulia. Sangat penting Dasa Daya Waluya disampaikan sebagai gerakan kesadaran dan pengingat agar manusia kembali pada kondisi yang Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, Junun, Akur, Jujur, Ludeung, dan Teuneung sehingga manusia tetap berada pada jati diri sejati sebagai manusia berbudi luhur dengan kesadaran yang penuh. Dengan demikian, kehidupan di dunia berada dalam keadaan aman, tenteram, sejahtera, sentosa, penuh kerahayuan, serta tercapai menjadi manusia yang paripurna. Manusia yang paripurna bukanlah yang paling kaya, paling viral, atau paling berkuasa, melainkan manusia yang sehat, selamat, dan seimbang lahir batin. Dalam budaya Sunda dikenal ungkapan, “Cageur awak, Cageur pikir, cageur batin.”

Gita G. Poeradirdja menyampaikan materi Dasa Daya Waluya sebagai ajaran indung yang harus dipahami oleh para indung. Dasa Daya Waluya merupakan nilai-nilai pokok utama yang harus dikuasai oleh para indung untuk mendidik anak-anak karena ibulah yang menjadi guru awal, guru dasar bagi anak-anak yang dilahirkannya untuk mendapatkan pelajaran dan ilmu. Dasa Daya Waluya disusun oleh salah satu pendiri Yayasan Pasundan Istri, yaitu Ibu Emma Poeradirdja, sebagai pedoman dalam organisasi perempuan. Saat itu, Ibu Emma Poeradirdja sangat konsisten menjadikan nilai Dasa Daya Waluya sebagai pedoman bagi anggota Pasundan Istri.
Dasa Daya Waluya merupakan nilai-nilai yang universal sehingga dapat digunakan dan diterapkan oleh suku bangsa maupun agama mana pun karena ajaran nilai-nilai tersebut bersifat mendasar untuk diterapkan oleh setiap individu manusia, imbuh Gita G. Poeradirdja. Dasa Daya Waluya merupakan kompas untuk menjalankan hidup damai, tenteram, dan bahagia lahir batin.
Kelas Budaya Day’s dengan materi “Ajaran Indung (Ibu) Orang Sunda Dasa Daya Waluya” akan terdiri atas lima episode (pertemuan) yang dilaksanakan setiap hari Senin, sebanyak dua kali pertemuan dalam satu bulan. Bagi yang telah mengikuti episode pertama diharapkan dapat mengikuti episode berikutnya agar memperoleh pemahaman yang utuh mengenai nilai Dasa Daya Waluya.
YAYASAN SUNDA TIGABELAS BUHUN
Bandung, 28 Juli 2026
Anggara, 6S Pon, Posyandu, 1963 Caka Sunda

Judul: Kidung Indung dan Kidung Dasa Daya Waluya Menggema di Kelas Budaya Day’s
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Ketua Yayasan Sunda13 Buhun, Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)
Editor: Parkah












