Peta Bukan Sekadar Persepsi: Refleksi Seorang Geodet tentang Akurasi, GIS, dan GeoAI

Oleh: Farhan Helmy

Peta

MajmusSunda News – Bandung, Kamis (10/09/2026) – Apa yang saya bahas dalam tulisan ini dapat diilustrasikan secara sederhana melalui gambar di atas: bagaimana Afrika dan Greenland terlihat berbeda ketika direpresentasikan menggunakan dua proyeksi peta yang berbeda, Mercator dan Equal Earth.

Hampir empat dekade lalu, ketika menjadi mahasiswa Geodesi di Institut Teknologi Bandung (ITB), salah seorang profesor saya mengajarkan rule of thumb sederhana: semakin luas wilayah yang kita analisis, semakin hati-hati kita memperlakukan permukaan Bumi yang melengkung seolah-olah sebuah bidang datar. Saya masih ingat beliau menyebut sekitar 100 kilometer sebagai pengingat praktis, bukan batas matematis yang berlaku universal. Yang tertinggal dalam ingatan saya sampai sekarang justru prinsipnya:

Kita harus tahu kapan asumsi penyederhanaan mulai berpengaruh terhadap hasil analisis, apalagi ketika digunakan untuk pengambilan keputusan.

Mungkin itu pula sebabnya sampai sekarang saya selalu berhati-hati terhadap penyederhanaan persoalan, terutama ketika hasil analisis akan digunakan untuk pengambilan keputusan.

Pelajaran lama itu kembali teringat ketika Majelis Umum PBB pada 4 September 2026 mengadopsi Resolusi A/RES/80/307, Correct the Map: Rebalancing Global Cartographic Representation and Promoting Equitable Representation of the World’s Regions, Particularly Africa.

Saya menyambut baik inisiatif ini, terutama perhatian terhadap bagaimana Afrika direpresentasikan dalam peta dunia. Tetapi dari perspektif geodesi, istilah “correct” atau “lebih akurat” perlu dibaca secara hati-hati.

Akurat untuk parameter spasial apa, pada skala berapa, dan untuk tujuan apa?

Proyeksi equal-area lebih tepat untuk membandingkan luas benua, tetapi tidak otomatis lebih akurat untuk jarak, bentuk, arah, sudut, atau seluruh analisis geometrik.

Pertanyaan ini semakin relevan karena sampai hari ini pekerjaan saya masih bersinggungan dengan teknologi geospasial: GIS, penginderaan jauh, observasi Bumi berbasis satelit, analisis spasial, dan kini GeoAI. Peta bukan lagi sekadar sesuatu yang kita lihat. Data, peta, dan model geospasial semakin menjadi bagian dari pengambilan keputusan tentang risiko iklim, bencana, infrastruktur, investasi, aksesibilitas, hingga alokasi sumber daya yang adil bagi semua.

Teknologi dapat menghasilkan angka dan model dengan presisi yang luar biasa, tetapi presisi komputasi tidak boleh disamakan dengan kebenaran geodetik maupun ketepatan analitis, apalagi ketika hasilnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dalam artikel lengkap ini, saya mencoba melihat Correct the Map bukan sebagai akhir perdebatan tentang proyeksi peta, melainkan sebagai pintu masuk menuju persoalan yang lebih besar: literasi, integritas, transparansi, dan akuntabilitas geospasial di era GIS dan GeoAI. Bagi saya, semua ini semakin relevan untuk menjawab berbagai persoalan abad ini, termasuk krisis iklim dan keberlanjutan, ketika semakin banyak keputusan bergantung pada bagaimana kita mengukur, merepresentasikan, dan memahami ruang tempat kita hidup.

Seperti diingatkan Alfred Korzybski (1879–1950), “the map is not the territory.” Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya, tetapi keputusan yang dibuat berdasarkan peta pada akhirnya dapat mengubah wilayah itu sendiri.

Artikel lengkap dalam bahasa Inggris: Correct the Map, but What Are We Correcting? A Geodetic Engineer’s Reflection on Perception, GIS, and GeoAI dapat dibaca di:
tinyurl.com/43e5d87w

Bandung, 10 September 2026

#CorrectTheMap #Geodesi #GIS #GeoAI #Geospasial #EarthObservation #Kartografi #LiterasiGeospasial #ASCODI

Farhan Helmy

Judul: Peta Bukan Sekadar Persepsi: Refleksi Seorang Geodet tentang Akurasi, GIS, dan GeoAI

Penulis: Farhan Helmy adalah pendiri Advanced Systems Computing Design and Innovation (ASCODI) Lab, Thamrin School of Climate Change and Sustainability; Presiden DILANS Indonesia; serta Lead Asia-Africa Inclusive Nexus Network (AAINN). Ia bekerja pada persinggungan perubahan iklim, systems thinking, pembangunan inklusif, tata kelola dan pembiayaan berkelanjutan, dengan perhatian pada bagaimana risiko sistemik dan kebijakan publik memengaruhi kelompok rentan.

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *