Ketika Saya Membaca Surat-Nya Kembali

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Kamis (30/07/2026) Malam ini saya kembali membaca surat dari-Nya. Tidak ada tanggal pada sudut kanan atasnya. Namun setiap kali membacanya, selalu ada rasa seolah-olah surat itu baru saja tiba, membawa pesan yang ditujukan tepat kepada hati yang sedang membacanya. Kalimat-kalimatnya tetap sama, tetapi yang berubah adalah diri yang membacanya. Sebab sebuah surat tidak hanya menunggu untuk dibaca. Ia juga menunggu pembacanya bertumbuh. Semakin panjang perjalanan hidup yang dilalui, semakin terasa bahwa surat dari-Nya telah lebih dahulu memahami jalan yang akan ditempuh, bahkan sebelum diri ini mampu membaca seluruh maknanya.

Semakin lama berada di dalamnya, semakin pelan langkah membaca setiap kalimatnya. Saya tidak pernah tergesa-gesa. Ada bagian yang kembali dibaca, bukan karena sulit dimengerti, melainkan karena ada kedalaman yang ingin lebih lama diselami. Surat itu selalu membuka perjumpaan dengan kasih sayang. Ia tidak datang membawa catatan kekurangan, tidak pula menghadirkan catatan tentang kesalahan. Kelembutannya perlahan menyentuh bagian-bagian hati yang pernah mengeras oleh perjalanan. Di hadapan kasih sayang seperti itu, tidak terasa sedang berhadapan dengan penghakiman. Yang terasa hanyalah sebuah pelukan yang menenangkan.

Dan mungkin di sanalah kita menemukan makna terdalam dari kasih sayang-Nya. Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pernah berada pada ruang ketika hati membutuhkan penerimaan, bukan penghakiman. Membutuhkan kelembutan yang menguatkan langkah, bukan sekadar kata-kata yang menunjukkan kesalahan.

Pada bagian itu saya berhenti cukup lama. Lalu kembali melanjutkan membaca, dan surat dari-Nya seperti membuka kembali halaman-halaman kehidupan yang pernah dilalui. Orang-orang yang pernah hadir datang kembali dalam ingatan. Ada yang membawa keindahan kenangan. Ada pula yang menghadirkan pelajaran yang tidak selalu ringan. Surat itu tidak mengajak menghitung siapa yang paling banyak keliru. Ia justru mengajarkan bagaimana hati dilapangkan melalui maaf. Perlahan dipahami bahwa memaafkan bukan sekadar hadiah untuk orang lain. Ia adalah cara menjaga hati agar tetap jernih menerima kasih sayang-Nya.

Dan bukankah kita pun pernah berada pada persimpangan yang sama? Ketika hati harus memilih antara menyimpan penilaian atau menyediakan ruang bagi maaf. Sebab hati yang lapang akan lebih mudah menerima cahaya kasih sayang.

Saya mengira kalimat demi kalimat telah selesai. Ternyata surat dari-Nya masih menyimpan halaman berikutnya. Ia mengajak kita tidak hanya memaafkan, tetapi juga mendoakan. Memohonkan ampun bagi mereka yang pernah hadir dalam perjalanan. Tidak selalu mudah, tetapi ada ketenteraman yang tumbuh dari sana. Betapa luas kasih sayang yang Dia bentangkan melalui beberapa kalimat sederhana. Hati yang mendoakan ternyata memiliki ruang yang lebih lapang dibanding hati yang terus menyimpan penilaian.

Ketika saya membuka bagian berikutnya, saya menemukan ruang yang lebih luas. Surat dari-Nya tidak mengajarkan manusia berjalan sendiri. Ia membuka pintu untuk mendengar, menghargai pikiran orang lain, berdialog, berdiskusi, dan bermusyawarah. Dari sana dipahami bahwa keputusan yang baik sering lahir bukan dari suara yang paling keras, melainkan dari hati yang bersedia memberi ruang bagi suara lainnya. Bukankah dalam kehidupan, kebaikan sering tumbuh ketika manusia belajar mendengarkan?

Semakin mendekati penghujungnya, surat itu semakin terasa teduh. Setelah kasih sayang, maaf, doa, dan musyawarah dilalui, tibalah saat sebuah keputusan dijalankan dengan sepenuh hati. Ketika seluruh ikhtiar telah dipersembahkan, surat dari-Nya mengajarkan untuk meletakkan hasilnya dalam kehendak-Nya. Di sanalah ditemukan ketenangan yang selama ini dicari. Kepasrahan. Keikhlasan. Tawakal.

Dan pada titik inilah kita memahami bahwa tawakal bukanlah berhenti berikhtiar. Tawakal adalah keberanian untuk tetap melangkah setelah seluruh usaha diberikan dengan sungguh-sungguh kepada-Nya. Kita tetap bergerak dengan kemampuan yang dimiliki, tetapi menyerahkan akhir perjalanan kepada kehendak-Nya.

Malam semakin larut. Saya pun kembali membaca surat dari-Nya. Saya kembali menyadari bahwa ada bacaan yang tidak pernah selesai, karena setiap kali kita membukanya, ia selalu menemukan cara baru untuk berbicara kepada hati kita. Dab saya pun kembali membaca surat dariNya…

_Fabimā raḥmatim minallāhi linta lahum. Walau kunta faẓẓan ghalīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik. Fa’fu ‘anhum wastaghfir lahum wa syāwirhum fil-amr. Fa iżā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh. Innallāha yuḥibbul mutawakkilīn_

Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
*(QS. Ali Imran ayat 159)

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Ketika Saya Membaca Surat-Nya Kembali
Penulis:Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *