Ketika Bulog Mencari Gudang Filial

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (01/05/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Ketika Bulog Mencari Gudang Filial” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Setelah serapan gabah sukses, kini Perum Bulog menghadapi masalah gudang untuk menyimpan gabah/beras yang diserap. Kondisi gudang Perum Bulog yang jumlahnya relatif terbatas, membuat Perum Bulog perlu mencari gudang lain yang dapat digunakan untuk penyimpanan gabah/beras. Banyak pilihan yang bisa diambil. Namun optimalisasi gudang filial, dianggap lebih rasional untuk dipilih.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

“Gudang filial” mungkin merujuk pada gudang yang berada di bawah naungan atau cabang dari suatu perusahaan atau organisasi utama. Dalam konteks logistik atau distribusi, gudang filial dapat berfungsi sebagai  tempat penyimpanan barang di daerah tertentu; Pusat distribusi untuk wilayah tertentu dan mendukung operasional perusahaan induk. Gudang filial dapat membantu meningkatkan efisiensi dan kecepatan pengiriman barang ke pelanggan.

Gudang filial Bulog adalah fasilitas penyimpanan yang dimiliki oleh Perum Bulog (Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik) untuk menyimpan berbagai komoditas pangan seperti beras, kedelai, gula, dan lain-lain. Berikut beberapa contoh gudang filial Bulog :

– Gudang Bulog Bumirejo, Pati. Gudang ini memiliki kapasitas penyimpanan 5.500 ton dan digunakan untuk menyimpan kedelai. Lokasinya strategis karena dekat dengan lahan persawahan petani dan akses jalan yang mudah.

– Gudang Bulog Klahang, Sokaraja, Banyumas. Gudang ini memiliki kapasitas penyimpanan 3.500 ton dan juga digunakan untuk menyimpan kedelai.

– Gudang Bulog Kantor Cabang Tulungagung. Berlokasi di Pulosari, Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur.

– Gudang Bulog Kantor Cabang Bogor. Berlokasi di Jl. Nasional 11, Babakan, Dramaga, Bogor, Jawa Barat.

– Gudang Bulog Divisi Regional Jawa Barat. Gudang ini menyimpan berbagai komoditas pangan seperti beras (5,8 ribu ton), minyak goreng (250 ton), gula (551 ton), dan tepung terigu (24 ton).

– Gudang Bulog Sulteng. Memiliki stok beras 7.000 ton, minyak goreng 603 ton, gula 100 ton, dan stok lainnya.

– Gudang Bulog Jember. Berlokasi di Jalan Raya Bangsalsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Gudang-gudang filial Bulog ini berfungsi untuk menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi pangan di berbagai wilayah Indonesia.

Keberadaan gudang filial ini menjadi sangat penting setelah dalam musim panen kali ini, Perum Bulog mampu menyerap gabah petani dengan serapan sangat tinggi. Sejak jauh-jauh dari sudah diperhitungkan, jika serapan gabah cukup tinggi ditengarai gudang-gudamg Perum Bulog yang ada, tidak mungkin akan dapat menampung gabah yang diserap.

Masalah gudang ini perlu ditangani dengan serius. Jangan sampai hasil genjotan produksi yang berlimpah menjadi problem baru, mengingat kita tidak cerdas dalam menyiapkam proses penyimpanannya. Gabah/beras butuh perlakuan khusus dalam proses penyimpanannya. Sekalinya petugas gudang Perum Bulog teledor menanganinya, maka akan muncul isu beras berkutu atau beras bau apek.

Apa yang ditemukan Komisi IV DPR RI di gudang Perum Bulog di Jagjakarta, beberapa waktu lalu, terkait soal “beras berkutu” yang diproyeksikan terjadi pula di gudang-gudang Perum Bulog lainnya, menjadi pukulan yang menyakitkan bagi Perum Bulog. Menurut info yang beredar di media sosial, beras Bulog yang ‘rusak’ ini mencapai anfka 300 ribu ton.

Beras berkutu yang ditemukan para Wakil Rakyat diatas, umumnya tercatat sebagai beras impor, yang proses pembeliannya nenggunakan syarat yang sangat ketat. Selain itu, dilihat dari beras pecahnya, beras impor rwlatif lebih baik dibandingkan dengan beras hasil petani dalam negeri. Itu sebabnya, menjadi tanda tanya besar, bagaimana nasibnya dengan beras yang dihasilkan petani dalam negeri, juka disimpan cukup lama di gudang Perum Bulog.

Berkaca pada pengalaman ditemukannya beras berkutu, pasti kita berharap agar Perum Bulog, khususnya para petugas gudang Perum Bulog di lapangan, menjadi lebih profesional lagi dalam mengelola penyimpanannya. Kita ingin agar serapan gabah yang digarap Perum Bulog bebar-benar dapat dikelola dengan baik, sehingga tidak ditemukan lagi yang namanya beras berkutu.

Beras berkutu atau beras bau apek atau beras berwarna kekuning-kuningan/kecoklat-coklatan, mestinya tidak perlu terjadi kalau SOP penyimpanan gabah/beras dijalankan dengan baik. Besar peluangnya, beras berkutu terjadi karena bisa saja para petugas gudang Perum Bulog tidak sungguh-sungguh menerapkan SOPnya.

Proses penyimpanan gabah/beras, tidak kalah strategisnya dengan proses penyerapan gabah/beras. Itu sebabnya, semenjak dini telah dirumuskan ‘sukses penyerapan = sukses penyimpanan’. Sekarang penyerapan gabah/beras terbilang sukses. Tinggal bagaimana dengan proses penyimpanannya ? Hal ini jelas merupaksn ‘pe-er’ besar yang harus dijawab oleh Perum Bulog.

Terbatasnya gudang Perum Bulog yang dapat digunakan untuk menyimpan gabah/beras petani, sebetulnya tidak perlu terjadi sekiranya sejak jauh-jauh hari Perum Bulog sudah mampu membaca isyarat jaman dengan baik. Disinilah pentingnya pendekatan deteksi dini dilakukan. Jangan lagi digunakan pendekatan ‘pemadam kebakaran’.

Sayang, hal ini tidak sempat dilakukan. Perum Bulog sepertinya tidak menyangka bila produksi beras akan meningkat cukup signifikan. Dengan meningkatnya produksi beras, sehingga Perum Bulog diwajibkan untuk menyerapnya, baru terpikirkan perlunya gudang yang cukup banyak. Itu sebabnya, pilihan mencari gudang filial, dianggap sebagai jalan keluarnya.

***

Judul: Ketika Bulog Mencari Gudang Filial
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *