Ketika Aku Menasihati Presiden: Di Antara Amanah Kekuasaan dan Keberanian Sebuah Nasihat

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Minggu (04/10/2026) – Saya memilih kata-kata dengan hati-hati. Di hadapan saya ada seorang pemegang amanah yang kewenangannya jauh lebih besar daripada suara saya. Saya tahu, dalam ruang seperti ini, sebuah kalimat dapat terdengar sebagai pujian, kritik, bahkan ancaman, tergantung dari telinga yang menerimanya. Maka saya tidak datang membawa keberanian yang gaduh. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang tidak selalu mudah didengar oleh seorang pemimpin.

Seorang pemimpin tidak selalu memerlukan orang yang mengatakan bahwa langkahnya sudah benar. Ia justru memerlukan suara yang berani mengingatkan ketika sebuah keputusan perlu dipikirkan kembali. Kritik bukanlah tanda permusuhan, melainkan bentuk tanggung jawab agar kekuasaan tidak berjalan terlalu jauh dari tujuan yang semula hendak dijaganya. Rakyat tidak hanya membutuhkan keputusan yang cepat, tetapi juga keputusan yang kelak masih dapat dipertanggungjawabkan ketika tepuk tangan telah lama berhenti. Karena itu, kritik yang jujur bukan ancaman bagi kekuasaan, melainkan salah satu cara untuk menjaganya tetap berada di jalan amanah.

Saya teringat kepada seorang ulama yang berabad-abad lalu pernah berdiri di hadapan seorang sultan. Imam Nawawi berhadapan dengan Sultan al-Zahir Baybars di Damaskus ketika rakyat dibebani pajak untuk kebutuhan perang. Ketika sebagian ulama telah memberikan pandangan yang membolehkan, Nawawi datang dengan pertanyaan yang lebih dalam. Apakah rakyat masih patut dibebani ketika kemewahan di lingkungan kekuasaan belum dikurangi dan harta negara belum benar-benar habis. Ia tidak berbicara dari kursi kekuasaan. Ia juga tidak memiliki pasukan. Yang dibawanya hanya ilmu, keyakinan, dan keberanian untuk menyampaikan apa yang diyakininya benar.

Dalam kerangka itulah jarak antara ulama dan umara perlu dipahami. Jarak tersebut bukanlah jarak permusuhan, melainkan ruang yang menjaga kejernihan nasihat. Terlalu dekat, ilmu dapat kehilangan kemerdekaannya dan berubah menjadi pembenaran. Terlalu jauh, nasihat kehilangan kesempatan untuk sampai kepada pengambil keputusan. Maka seorang yang berdiri di hadapan penguasa harus menjaga dua hal sekaligus, adab kepada manusia dan keberanian kepada kebenaran. Imam Nawawi telah menunjukkan bahwa keduanya dapat berdiri dalam satu tubuh. Ia tidak menjadikan keberanian sebagai alasan untuk kehilangan adab, dan tidak menjadikan adab sebagai alasan untuk kehilangan keberanian.

Maka di hadapan saya kini terasa ada dua zaman yang seperti bertemu. Seorang ulama di Damaskus berabad-abad silam, dan seorang yang hari ini berdiri di hadapan pemegang kekuasaan. Situasinya tentu berbeda. Zaman berbeda, persoalan berbeda, manusia berbeda. Tetapi amanah kekuasaan tetap memiliki pertanyaan yang serupa. Apakah di sekitar kekuasaan masih tersedia suara yang tidak dibeli oleh kedekatan. Apakah masih ada orang yang berani mengatakan bahwa sebuah keputusan perlu dipikirkan kembali. Dan apakah pemegang amanah masih cukup lapang untuk mendengar suara yang tidak selalu menyenangkan telinga.

Maka saya menyampaikan sesuatu dengan segala keterbatasan seorang manusia. Kekuasaan yang besar hendaknya tidak hanya dikelilingi oleh orang-orang yang pandai menyampaikan kabar baik. Sesekali dengarkan pula suara yang membuat kita berhenti sejenak. Bukan karena suara itu pasti benar, tetapi karena seorang pemimpin yang besar tidak kehilangan kebesarannya hanya karena bersedia mendengar. Imam Nawawi tidak menjadi besar karena berhasil menundukkan seorang sultan. Ia dikenang karena tidak menundukkan ilmunya kepada kekuasaan. Di sanalah nasihat menemukan martabatnya. Ia disampaikan dengan adab, tetapi tidak kehilangan tulang punggung kebenaran.

Setelah semua kata selesai, barangkali yang tersisa hanyalah tatapan sejenak. Saya tidak tahu apa yang akan dipilih oleh tangan yang memegang amanah sebesar itu. Saya hanya tahu, suatu hari kursi kekuasaan akan ditinggalkan, nama akan menjadi bagian dari sejarah, dan setiap keputusan akan menemukan waktunya untuk berbicara sendiri. Tugas orang yang berada di hadapan penguasa bukan membuat penguasa selalu senang, melainkan menjaga agar kebenaran tidak kehilangan jalan untuk sampai ke telinga kekuasaan. Imam Nawawi telah memperlihatkan bahwa jalan itu pernah ditempuh. Kini, setiap zaman memiliki orang-orangnya sendiri untuk menjalaninya. Dan ketika seorang manusia berdiri di hadapan kekuasaan, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya keberanian orang yang menasihati, melainkan juga keluasan hati orang yang dinasihati.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Ketika Aku Menasihati Presiden: Di Antara Amanah Kekuasaan dan Keberanian Sebuah Nasihat
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *