MajmusSunda News, Minggu (25/10/2026) – Malam ini saya mengikuti acara pembukaan Rapat Kerja Nasional Perhepi di Bogor. Acara dihadiri banyak guru besar di bidang ekonomi pertanian, para akademisi, dan insan yang menaruh perhatian pada masa depan pertanian Indonesia. Di tengah suasana akademik itu, seorang peserta menyampaikan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi tidak mudah dijawab. Sejauh mana kemajuan ilmu ekonomi pertanian telah berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani? Kita dapat berbicara tentang produksi, produktivitas, efisiensi, daya saing, dan ketahanan pangan dengan berbagai ukuran yang semakin canggih. Namun, apakah kehidupan petani telah menjadi lebih layak, aman, dan berkelanjutan? Pertanyaan itu membawa saya pada hubungan antara kesejahteraan petani, sains, dongeng, dan fenomena. Empat kosa kata yang memang muncul dalam diskusi yang penuh keakrban itu. Empat hal itu sepintas berbeda, tetapi sesungguhnya dapat saling menerangi.
Dalam sebuah dongeng, seekor angsa bertelur emas setiap hari. Pemiliknya menjadi kaya karena memperoleh sesuatu yang berharga secara berulang. Kisah itu mengingatkan kita bahwa sumber kemakmuran perlu dipelihara, bukan sekadar dipanen. Pertanian pun demikian. Tanah, air, benih, pengetahuan, dan tenaga petani merupakan sumber kehidupan yang memungkinkan pangan terus dihasilkan. Jika kita hanya sibuk menghitung hasil panen, sementara kehidupan orang yang menanamnya terabaikan, barangkali kita sedang menikmati telur emas tanpa cukup memikirkan keadaan angsanya. Ada ironi yang patut direnungkan ketika hasil pertanian menjadi sumber nilai bagi banyak pihak, tetapi orang yang mengusahakan tanahnya masih berhadapan dengan ketidakpastian pendapatan, kenaikan biaya produksi, dan risiko musim yang tidak selalu dapat dikendalikan. Dongeng itu memang bukan bukti ilmiah, tetapi kebijaksanaan yang dikandungnya dapat membantu kita melihat persoalan dengan sudut pandang yang lebih manusiawi.
Sains mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada cerita, dugaan, atau kesan. Ia mengajak kita mengamati fenomena, mengumpulkan bukti, menguji penjelasan, dan bersedia memperbaiki kesimpulan. Ketika produksi meningkat tetapi kesejahteraan petani belum membaik secara sebanding, keadaan itu menjadi fenomena yang perlu diteliti. Kita perlu melihat harga jual, biaya produksi, penguasaan lahan, posisi tawar, rantai distribusi, akses pembiayaan, hingga risiko yang harus ditanggung petani. Angka produksi yang meningkat belum dengan sendirinya menjelaskan bagaimana nilai ekonomi dibagikan. Penjelasan yang terdengar masuk akal pun belum tentu benar sebelum berhadapan dengan kenyataan. Penelitian perlu memberi ruang bagi pengalaman petani sebagai sumber pengetahuan yang penting, bukan sekadar pelengkap bagi data yang dikumpulkan dari luar. Sebab, kehidupan yang diteliti tidak selalu sepenuhnya terwakili oleh cara peneliti merumuskan persoalannya.
Akan tetapi, sains juga mengingatkan kita tentang batas dari apa yang dapat diukur. Produktivitas dapat dinyatakan dalam angka, keuntungan dapat dihitung dalam rupiah, dan efisiensi dapat dibandingkan melalui berbagai indikator. Sementara itu, rasa aman petani menghadapi musim berikutnya, keberlanjutan tanah yang diwariskan kepada anak cucu, dan martabat seseorang yang bekerja untuk menyediakan pangan bagi banyak orang tidak selalu terwakili sepenuhnya dalam tabel. Ukuran tetap diperlukan, tetapi kebijaksanaan menuntut kita memahami apa yang belum berhasil ditangkap oleh ukuran tersebut. Pendapatan memang penting, tetapi kesejahteraan juga menyangkut kesehatan, pendidikan, kepastian usaha, akses terhadap perlindungan sosial, dan kemampuan keluarga petani merencanakan masa depan. Di sinilah ilmu berhadapan dengan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar ketepatan perhitungan, yakni apakah hal-hal yang kita ukur sudah mencerminkan hal-hal yang sungguh berarti bagi kehidupan.
Dongeng, fenomena, dan sains sesungguhnya memiliki tempat yang berbeda. Dongeng dapat menyimpan kebijaksanaan dalam kisah, fenomena menghadirkan kenyataan yang perlu dipahami, sedangkan sains menguji penjelasan tentang kenyataan itu. Persoalan muncul ketika dongeng diperlakukan sebagai bukti, ketika fenomena langsung diberi kesimpulan, atau ketika hasil pengukuran dianggap telah mewakili seluruh kebenaran. Kita dapat memiliki cerita yang indah, data yang lengkap, dan analisis yang canggih, tetapi tetap keliru apabila pertanyaan yang diajukan sejak awal kurang menyentuh persoalan kehidupan yang sebenarnya. Bahkan, suatu fenomena dapat tampak berbeda ketika dilihat dari tempat yang berbeda. Bagi konsumen, harga pangan yang murah terasa melegakan; bagi petani, harga yang sama dapat berarti pendapatan yang tidak mencukupi. Keduanya merupakan kenyataan yang perlu dipahami, bukan dipertentangkan secara tergesa-gesa. Kerendahan hati intelektual diperlukan agar kita tidak terlalu cepat menganggap bahwa apa yang telah berhasil dijelaskan berarti seluruh persoalan telah dipahami.
Barangkali karena itulah kesejahteraan petani perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan pertanian, melainkan sebagai bagian inti dari tujuan yang hendak dicapai. Produksi yang meningkat tentu menggembirakan, tetapi kegembiraan itu akan lebih bermakna ketika petani memperoleh penghidupan yang layak, konsumen mendapatkan pangan yang terjangkau, dan sumber daya alam tetap mampu menopang kehidupan. Ketiganya tidak selalu mudah dipertemukan, sehingga diperlukan ilmu yang jernih, kebijakan yang adil, dan kelembagaan yang mampu membagi manfaat serta risiko secara lebih proporsional. Tugas ekonomi pertanian bukan hanya menjelaskan bagaimana sumber daya dialokasikan secara efisien, tetapi juga membantu kita memahami siapa yang memperoleh manfaat dari proses ekonomi tersebut dan siapa yang menanggung bebannya. Di tengah kemajuan teori dan metode penelitian, pengalaman petani tetap layak menjadi bagian dari percakapan akademik. Bukan untuk menggantikan ketelitian sains, melainkan untuk memastikan bahwa pertanyaan ilmiah tidak menjauh dari kehidupan yang hendak diperbaiki.
Malam ini, setelah mengikuti pertemuan para akademisi yang menaruh perhatian pada ekonomi pertanian, saya kembali memikirkan hubungan antara ilmu dan kehidupan. Sains membantu kita menguji penjelasan, fenomena mengingatkan bahwa kenyataan tidak selalu sesuai dengan dugaan, dan dongeng sesekali menyampaikan kebijaksanaan melalui cara yang sederhana. Ketiganya mengajak kita melihat bahwa kemajuan tidak cukup dinilai dari banyaknya hasil yang dapat dipanen atau panjangnya daftar keberhasilan yang dapat disampaikan. Ada kehidupan manusia yang berlangsung di balik setiap angka, ada tanah yang menyimpan daya dukung bagi masa depan, dan ada harapan petani yang tumbuh bersama setiap musim tanam. Sebuah bangsa patut bersyukur ketika pangannya berlimpah. Namun, di antara angka produksi, rumusan teori, dan berbagai kisah tentang keberhasilan, masih tersisa pertanyaan yang layak menemani langkah kita. Apakah mereka yang menumbuhkan pangan bagi kehidupan banyak orang telah memperoleh kehidupan yang sejahtera dari pekerjaannya sendiri?
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Kesejahteraan Petani, Sains, Dongeng dan Fenomena: Renungan Pembuka Rakernas Perhepi
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












