MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (16/10/2026) – Hari ini saya datang ke Surabaya untuk menunaikan satu tugas. Seusai menyelesaikan pekerjaan, malamnya kami menyempatkan diri menikmati Rawon Setan di Jalan Embong Malang. Semangkuk rawon tersaji di meja, dua orang pengamen memainkan musik dari panggung kecil di trotoar, sementara di seberang jalan JW Marriott berdiri megah dengan gemerlap lampunya. Dalam satu suasana malam, tiga dunia hadir berdampingan, tradisi kuliner, perjuangan mencari nafkah, dan kemewahan modern. Pemandangan sederhana itu mengusik pikiran saya tentang lanskap sosial Indonesia.
Rawon Setan mewakili ekonomi lokal yang tumbuh dari tradisi dan usaha sehari-hari. Dua pengamen menggambarkan pekerja informal yang mengandalkan keterampilan dan kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Sementara itu, JW Marriott menghadirkan kapitalisme modern dengan modal besar, jaringan internasional, dan kemewahan yang memiliki harga. Ketiganya sama-sama menjalankan kegiatan ekonomi, tetapi dengan sumber daya dan kemampuan yang berbeda. Dalam satu ruas jalan, tradisi lokal, perjuangan personal, dan kekuatan modal global bertemu.
Jarak di antara ketiganya hanya selebar jalan, tetapi jarak sosial yang membayanginya jauh lebih luas. Rumah makan bertumpu pada keterampilan dan pelanggan, pengamen mengandalkan nyanyian dengan pendapatan tak menentu, sedangkan hotel megah ditopang aset dan sistem usaha berskala besar. Perbedaannya bukan sekadar besar kecilnya penghasilan, melainkan juga kepastian hidup, kemampuan menghadapi risiko, dan luasnya pilihan yang dimiliki.
Ketiganya menjadi bagian dari kehidupan ekonomi kota, tetapi tidak memiliki daya tawar dan perlindungan yang setara. Pemilik rumah makan menghadapi persaingan, pengamen menghadapi ketidakpastian nafkah, sementara usaha besar memiliki sumber daya untuk mengelola risiko secara lebih terstruktur. Perbedaan itu memengaruhi cara manusia merencanakan masa depan dan menjaga kehidupan keluarganya. Kota mempertemukan mereka secara geografis, tetapi struktur ekonomi membentuk pengalaman hidup yang berlainan.
Kemajuan Indonesia bukan hanya tentang gedung yang semakin tinggi, investasi yang semakin besar, atau kota yang semakin gemerlap. Ada usaha kecil yang merawat tradisi dan pekerja yang menggantungkan nafkah pada kesempatan. Kontribusi mereka turut menghidupkan perekonomian, meskipun tidak selalu tampak dalam angka-angka pembangunan. Kota yang maju semestinya bukan hanya memberi ruang bagi modal besar, tetapi juga membuka kesempatan bagi usaha lokal dan pekerja kecil untuk tumbuh dengan layak.
Malam itu, aroma rawon, alunan musik dari trotoar, dan cahaya JW Marriott menyusun potret kecil tentang negeri kita. Di balik setiap kegiatan ekonomi, ada manusia yang bekerja, menyimpan harapan, dan menghadapi risiko. Ada yang mengembangkan bisnis dengan perencanaan, ada yang mempertahankan usaha kuliner, dan ada yang berharap nyanyiannya memperoleh imbalan yang cukup untuk dibawa pulang. Ekonomi memang dapat dibaca melalui angka dan pertumbuhan, tetapi maknanya juga tercermin dalam pengalaman manusia yang menjalaninya.
Indonesia bukan hanya bangunan megah yang terlihat dari kejauhan. Indonesia juga hidup dalam semangkuk makanan, nyanyian yang mengharap imbalan, dan ikhtiar manusia untuk hidup bermartabat. Tradisi, perjuangan hidup, dan kemewahan modern dapat berdampingan tanpa harus menjadi sama. Namun, pertumbuhan ekonomi akan lebih bermakna ketika kesempatan dan kesejahteraan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Malam di Jalan Embong Malang itu mengingatkan saya bahwa wajah Indonesia bukan hanya tercermin dari apa yang berhasil kita bangun, tetapi juga dari ruang hidup yang kita sediakan bagi manusia di sekelilingnya.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: JW Marriott, Pengamen dan Rawon Setan: Sebuah Lanskap Kecil Tentang Kelas Sosial dan Wajah Indonesia
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












