MajmusSunda News, Kamis (30/07/2026) – Pagi ini saya kembali mengantar *Aini Adha Pakuan Syahida*, anak bungsu saya, menuju stasiun KRL. Di rumah, saya biasa memanggilnya *Nik*. Ia kini mahasiswi semester tujuh Fakultas Teknik Sipil Universitas Indonesia. Selain aktif di bangku kuliah, Nik juga mengemban amanah di Badan Eksekutif Mahasiswa. Sesekali ia turun ke jalan bersama kawan-kawannya, menyampaikan suara yang menurut keyakinannya perlu didengar. Sejak awal kuliah, ia memilih berangkat dengan kereta. Alasannya sederhana, lebih hemat. Namun setiap kali saya bertanya mengapa tetap setia menggunakan KRL, jawabannya hampir tidak pernah berubah, “Biar bisa melihat rakyat.” Kalimat itu sederhana, tetapi selalu berhasil memperpanjang percakapan kami sepanjang perjalanan.
Barangkali karena itu pula, hubungan kami lebih sering terjalin melalui diskusi daripada nasihat. Kami bisa berbicara tentang banyak hal, dari persoalan kampus hingga keadaan negeri. Sesekali kami berdebat. Bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling memperkaya cara pandang. Mungkin beginilah cara kami menjaga kedekatan. Tidak selalu dengan pelukan, tetapi dengan percakapan.
Hari ini Nik berulang tahun. Di keluarga kami tidak pernah ada tradisi meniup lilin atau memotong kue. Kami lebih terbiasa merayakannya dengan ucapan sederhana dan doa. Dalam perjalanan menuju stasiun itulah saya menyampaikan harapan-harapan seorang ayah. Saya memilih kalimat yang tidak terlalu panjang, karena saya tahu Nik bukan anak yang senang diperlakukan seolah-olah rapuh. Sampailah saya pada satu doa, “Semoga Nik menjadi anak yang pintar.”
Kalimat itu bahkan belum selesai ketika telapak tangannya menepuk pelan paha saya, seolah meminta saya berhenti. Lalu ia menoleh sambil tersenyum dan berkata, “Doa itu lebih pas buat bapak.” Saya tertawa kecil. “Kok begitu?” tanya saya. Dengan tenang ia menjawab, “Kalau Nik tidak pintar, akibatnya paling hanya untuk diri Nik. Tetapi kalau bapak sampai tidak pintar, akibatnya bisa untuk banyak orang.”
Saya terdiam. Bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena saya sedang menerima jawaban. Sebagai dosen, saya tiba-tiba merasa sedang diingatkan kembali bahwa ilmu bukan sekadar kehormatan akademik, melainkan amanah. Kekeliruan seorang pendidik tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia dapat menjalar melalui ruang-ruang kuliah, melalui pikiran para mahasiswa, bahkan melalui keputusan-keputusan yang lahir dari ilmu yang pernah diajarkannya. Mungkin karena itulah, kita memerlukan orang-orang terdekat yang berani mengingatkan, justru ketika kita merasa telah cukup lama belajar.
Kereta pun datang. Nik melangkah menuju gerbong, lalu melambaikan tangan dengan senyum khas seorang aktivis yang tetap percaya bahwa negeri ini layak diperjuangkan. Saya tidak lagi melanjutkan doa yang tadi sempat terpotong. Cukup di dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, berkahilah Aini Adha Pakuan Syahida dengan cinta-Mu dan ilmu-Mu.” Setelah itu, tanpa sempat ia dengar, saya menambahkan satu doa lagi untuk diri saya sendiri. “Dan ya Allah, jangan biarkan saya berhenti belajar. Sebab benar kata Nik, jika seorang ayah yang juga seorang dosen berhenti menjadi pembelajar, akibatnya memang tidak hanya akan berhenti pada dirinya.”
Perjalanan menuju stasiun pagi ini ternyata bukan hanya mengantarkan seorang mahasiswi kembali ke kampusnya. Ia juga mengantarkan seorang ayah kembali kepada kesadaran bahwa umur boleh bertambah, jabatan boleh berubah, pengalaman boleh semakin panjang, tetapi di hadapan ilmu pengetahuan kita tetaplah murid. Dan kadang-kadang, guru terbaik yang Allah kirimkan kepada seorang ayah adalah anaknya sendiri.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Jawaban Doa dari Seorang Aktivis
Penulis:Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












