Istiqlal dan Merdeka: Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Minggu (16/08/2026) Hari ini saya berada di Jakarta untuk sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan persiapan perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Di tengah rangkaian kegiatan itu, saya menyempatkan salat Jumat di Masjid Istiqlal.

Seusai salat, pikiran saya masih tertahan pada nama *_Istiqlal_*. Bukan semata nama sebuah masjid, melainkan sebuah kata yang membawa makna kemerdekaan. Dalam bahasa Arab, _istiqlal_ mengandung nuansa berdiri sendiri, bebas dari ketergantungan, dan memiliki kemampuan menentukan kehendak sendiri. Sementara “merdeka” dalam pemahaman bahasa Indonesia membawa rasa terbebas dari belenggu dan tidak berada di bawah kuasa pihak lain. Dua kata itu tidak sepenuhnya sama, tetapi seperti bertemu pada satu kesadaran tentang kemampuan manusia dan bangsa untuk berdiri dengan martabatnya sendiri.

Sejarah kemudian memberi kedalaman kepada kata merdeka. Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam satu pagi yang sederhana. Ada perjalanan panjang yang dipenuhi keberanian, pengorbanan, pemikiran, dan kesediaan meninggalkan kenyamanan. Ada mereka yang berjuang dengan senjata, ada yang menulis, mendidik, mengorganisasi, merawat persatuan, dan ada pula yang namanya tidak pernah masuk ke dalam catatan sejarah. Mereka menanam sesuatu yang hasilnya akan dinikmati oleh generasi yang belum mereka kenal.

Karena itu, heroisme kemerdekaan terasa lebih indah ketika dikenang dengan keheningan. Mereka yang berjuang tidak selalu mengetahui seperti apa Indonesia setelah merdeka. Sebagian bahkan tidak sempat melihat bendera berkibar di negeri yang mereka perjuangkan. Namun justru di sana terdapat keagungan sebuah pengorbanan. Mereka memberikan bagian dari hidupnya kepada sesuatu yang lebih panjang daripada usia mereka sendiri.

Setelah kemerdekaan diperoleh, perjalanan bangsa tidak berhenti. Ia berganti wajah menjadi pembangunan. Sekolah, jalan, rumah sakit, industri, pertanian, teknologi, dan berbagai infrastruktur menjadi ikhtiar agar sebuah bangsa semakin mampu mengurus kehidupannya sendiri. Tetapi pembangunan bukan sekadar bertambahnya bangunan atau panjangnya jalan. Ia menemukan maknanya ketika manusia menjadi lebih berdaya, kehidupan menjadi lebih layak, dan masa depan memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh.

Di sinilah ilmu memperoleh tempatnya dalam istiqlal. Ketergantungan tidak selalu hadir dalam bentuk penguasaan wilayah. Ia dapat muncul melalui pengetahuan, teknologi, pangan, energi, kesehatan, dan kemampuan strategis. Bangsa yang merdeka membutuhkan ilmu agar kebebasannya tidak hanya bersifat simbolik. Ilmu memberi kemampuan untuk memahami persoalan sendiri, menemukan jawaban sendiri, sekaligus memberi sesuatu kepada dunia. Kemajuan pengetahuan menjadi salah satu cara sebuah bangsa memperpanjang makna kemerdekaannya.

Namun berdiri sendiri tidak berarti hidup sendirian. Manusia tidak pernah sepenuhnya mandiri, demikian pula sebuah bangsa. Kemerdekaan yang dewasa justru memungkinkan sebuah bangsa bekerja bersama tanpa kehilangan kehendak dan martabatnya. Istiqlal bukan kesendirian. Ia adalah kemampuan berdiri sehingga ketika tangan mengulurkan kerja sama, yang diberikan bukan ketergantungan, melainkan persahabatan dan kontribusi.

Ada kemerdekaan yang jauh lebih sunyi. Sebuah bangsa dapat terbebas dari penjajahan, tetapi manusianya masih dapat diperbudak oleh keserakahan, gengsi, ketakutan, dan kepentingan diri. Karena itu, merdeka bukan hanya keadaan politik. Ia juga perjalanan batin untuk membebaskan diri dari sesuatu yang menjauhkan manusia dari martabatnya sebagai hamba. Mungkin di situlah cita-cita kemerdekaan menemukan horizon yang lebih jauh, bukan hanya menjadi bangsa yang mampu berdiri sendiri, tetapi menjadi negeri yang baik, kehidupan yang baik, dan masyarakat yang hidup dalam keberkahan. Sebuah cita-cita yang telah lama dikenal dalam ungkapan *_baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur_*, negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun. Sebab kemerdekaan yang paling indah bukan hanya ketika bangsa ini bebas menentukan jalannya, tetapi ketika jalan itu membawa kehidupan semakin dekat kepada kebaikan, kemaslahatan, dan keridaan-Nya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Istiqlal dan Merdeka: Menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *