Gua yang Mengajarkan Waktu

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Jum’at (14/08/2026) Setiap Kamis malam, atau dalam istilah masyarakat kita disebut malam Jumat, umat Muslim disunahkan membaca Surah Al-Kahfi. Di dalamnya terdapat kisah para pemuda yang meninggalkan kaumnya demi menjaga keyakinan, kemudian berlindung di dalam gua. Mereka tertidur dalam waktu yang panjang, sementara dunia terus bergerak di luar sana. Ketika terbangun, mereka mendapati keadaan telah berubah. Kisah itu tetap berdiri sebagai kisah tentang iman dan pertolongan Allah, tetapi di dalamnya terdapat ruang perenungan tentang manusia, waktu, dan perubahan yang selalu berjalan melampaui pengetahuan manusia.

Gua dalam kisah itu bukan sekadar tempat bersembunyi. Ia menjadi ruang ketika para pemuda tersebut mengambil jarak dari keadaan yang mengancam keyakinannya. Dalam kehidupan, pendidikan pun membutuhkan ruang semacam itu. Seorang manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk menerima pengetahuan, tetapi ruang untuk bertumbuh, mempertanyakan, mengalami, dan menemukan keyakinannya dengan lebih matang. Pendidikan yang baik tidak sekadar membawa seseorang mengetahui lebih banyak, tetapi memberi kesempatan agar sesuatu yang dipelajari perlahan menjadi bagian dari cara hidup.

Tidur mereka berlangsung sangat panjang. Jika dibaca dalam cahaya pendidikan, tidur itu seperti kurikulum yang bekerja dalam kesunyian. Kurikulum bukan hanya apa yang tertulis dalam dokumen atau apa yang disampaikan di ruang kelas. Ada pembentukan yang berlangsung melalui kebiasaan, pengalaman, kedisiplinan, kegagalan, perjumpaan, dan waktu. Banyak hal yang tidak segera terlihat hasilnya, sebagaimana tidur para pemuda itu tidak memperlihatkan apa yang sedang terjadi di luar pandangan manusia.

Waktu yang panjang kemudian menjadi pembelajaran itu sendiri. Pengetahuan membutuhkan waktu untuk mengendap. Pengalaman membutuhkan waktu untuk menjadi kebijaksanaan. Bahkan sebuah pertanyaan kadang membutuhkan perjalanan panjang sebelum menemukan jawabannya. Para pemuda itu tidak mengetahui bahwa ketika mereka terbangun, zaman telah berubah. Demikian pula manusia yang memasuki pendidikan tidak pernah sepenuhnya mengetahui seperti apa dunia ketika ia selesai belajar. Karena itu, pembelajaran bukan sekadar persiapan menghadapi masa depan, tetapi kemampuan untuk tetap bertumbuh ketika masa depan telah menjadi kenyataan.

Perubahan zaman dalam kisah Ashabul Kahfi juga memberi kedalaman pada pendidikan. Dunia yang mereka tinggalkan bukan lagi dunia yang mereka jumpai ketika terbangun. Namun keyakinan yang mereka bawa tetap menjadi bagian penting dari kisah tersebut. Di sini pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang mampu mengikuti perubahan. Ia juga perlu membentuk manusia yang memiliki sesuatu yang tetap ketika keadaan berubah, sehingga keterbukaan terhadap zaman tidak membuatnya kehilangan arah.

Yang lebih dalam lagi, seluruh perjalanan itu berlangsung di bawah kehendak Allah. Para pemuda itu memilih menjaga iman dan mencari perlindungan, tetapi waktu tidur mereka bukan sesuatu yang berada dalam kendali mereka. Ada wilayah kehidupan yang dapat diusahakan manusia, dan ada wilayah yang sepenuhnya berada dalam pengetahuan-Nya. Kesadaran semacam ini membuat pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menguasai pengetahuan. Semakin manusia belajar, semakin terbuka pula kesadarannya tentang luasnya sesuatu yang belum diketahuinya.

Karena itu, kisah Ashabul Kahfi tetap lebih besar daripada analogi apa pun tentang pendidikan. Gua tetap menjadi tempat perlindungan para pemuda dalam menjaga iman, tidur tetap menjadi bagian dari kehendak Allah, dan panjangnya waktu tetap menjadi bagian dari keajaiban kisah mereka. Namun dari sana pendidikan dapat belajar sesuatu yang sangat dalam. Ada proses yang tidak segera terlihat, ada pertumbuhan yang membutuhkan waktu, ada kurikulum yang bekerja tanpa banyak suara, dan ada pembelajaran yang baru terasa ketika manusia telah keluar dari ruang belajarnya. Yang berubah bukan hanya pengetahuannya, tetapi cara ia menghadapi dunia yang ternyata telah berubah bersamanya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Gua yang Mengajarkan Waktu
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *