MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Selasa (29/07/2025) – Tulisan berjudul “Garut Hebat? Nasib Rakyatnya Begitu-Begitu Saja” ini ditulis oleh: Rd. H. Holil Aksan Umarzen, Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA) dan Dewan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
“Garut Hebat” – begitulah slogan yang digemakan pemerintahan baru di Kabupaten Garut, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. H. Abdusy Syakur Amin dan Hj. Luthfianisa Putri Karlina. Slogan ini menghiasi baliho, tayangan media sosial, aplikasi digital, bahkan menjadi nama program resmi pemerintah.
Tapi sebagai rakyat yang tinggal dan tumbuh di tanah Garut, saya ingin bertanya jujur,
“Garut Hebat, hebatnya di mana?”
Hebat Itu Harus Terasa, Bukan Hanya Terdengar
Slogan boleh hebat, desain boleh modern, jargon boleh viral — tapi jika nasib rakyat tetap terpuruk, maka itu semua hanya jadi dekorasi mimpi.
Hebat itu bukan kata sifat yang dibangun di atas spanduk atau aplikasi digital. Hebat adalah keadaan sosial yang berubah, ekonomi yang membaik, layanan yang bersih, dan martabat rakyat yang naik kelas.
Contoh Kongkret: Aspirasi Rakyat Diabaikan
Salah satu contoh paling mencolok adalah kunjungan kerja resmi Anggota DPD RI, Ibu Anya Dewi, ke Kabupaten Garut pada hari ini Selasa 29 Juli 2025 . Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya menyerap aspirasi masyarakat, khususnya terkait pemekaran Kabupaten Garut Utara dan Kabupaten Garut Selatan, yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade oleh tokoh-tokoh lokal, kepala desa, ulama, dan aktivis masyarakat.
Namun sangat disayangkan, tidak ada sinyal dukungan nyata dari Bupati Garut terhadap kunjungan ini. Tidak ada forum bersama, tidak ada publikasi keterlibatan, bahkan tidak ada narasi penguatan aspirasi yang disampaikan ke pemerintah pusat.
Padahal, kunjungan ini merupakan peluang emas untuk menunjukkan bahwa pemerintah daerah berpihak pada jeritan rakyat yang mendambakan pemerataan pembangunan dan keadilan wilayah.
“Bagaimana bisa disebut Hebat, jika suara rakyat selama puluhan tahun pun diabaikan begitu saja?”
Rakyat Mana yang Sudah Berubah Nasibnya?
Mari kita evaluasi secara jujur.
Pemerintah berjanji memberi:
1.Modal usaha Rp 1 – 50 juta untuk UMKM
2.Bansos Rp2 juta untuk warga miskin
3.Ciptaan 100.000 lapangan kerja
4.Pelayanan publik cepat, digital, transparan
Tapi mari kita tanyakan langsung:
Berapa warga Cilawu, Bungbulang, Leuwigoong, atau Cibatu yang sudah benar-benar menerima modal itu?
Siapa yang bisa membuktikan bantuan sosial itu nyata turun ke tangan rakyat tanpa syarat politik?
Sudahkah pemuda-pemuda Garut punya pekerjaan yang layak dan berkelanjutan dari program pemerintah?
Apakah perangkat desa kini bebas dari pungli dan calo birokrasi?
Jika tak ada jawabannya, maka semua itu hanya tinggal janji dan rakyat sekali lagi jadi penonton.
Evaluasi: Antara Branding dan Bukti
Saya tidak menafikan niat baik dari pemimpin baru Garut. Tapi niat baik tidak cukup jika tidak disertai dengan:
1.Transparansi capaian
2.Peta jalan realisasi program
3.Evaluasi publik terbuka
4.Keterlibatan warga dalam pembangunan
Sampai hari ini, rakyat belum melihat satu pun wilayah yang secara nyata menunjukkan perubahan besar berkat “Garut Hebat”.
Hebat Itu, Jika Rakyat Merasa Dimuliakan
Garut akan benar-benar hebat jika rakyat kecil merasakan perubahannya. Jika aparat bekerja karena nurani, bukan pesanan. Jika pemimpin membela yang lemah, bukan menjaga kenyamanan yang kuat.
Hebat adalah ketika rakyat tidak perlu lagi mengemis haknya, karena pemerintah sudah hadir dengan hati dan akal sehat.
***
Judul: Garut Hebat? Nasib Rakyatnya Begitu-Begitu Saja
Penulis: Rd. H. Holil Aksan Umarzen
Editor: Asep Ruslan












