MajmusSunda News, Rabu (30/09/2026) – Artikel Berjudul “Gangguan Kepribadian & Perilaku Bengis Masyarakat, Ditilik dari Sisi Phenomena Psikologi Sosial” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.
Psikologi Sosial memandang suatu persoalan atau fenomenanya dari tiga bidang atau gabungan dari tiga ilmu pengetahuan, yaitu: Psikologi, Sosiologi, dan Antropologi.
Jika kita meninjau secara lebih luas, manusia adalah makhluk yang kompleks, tetapi kita dapat memandangnya dari berbagai sudut. Sebagai contoh: pada umumnya orang Indonesia mempunyai adat kebiasaan menganggukkan kepala sebagai tanda dan rasa hormat kepada orang yang lebih senior/tua atau orang yang dihormati.
Dari contoh di atas, kita dapat mengupasnya dari sudut Psikologi, Sosiologi, dan Antropologi:
-
Sisi Psikologi: Kita melihat seseorang menganggukkan kepalanya hanya pada saat tertentu saja, tergantung pada personality/kepribadian dari individu tersebut. Hal-hal yang tercakup dalam kepribadian meliputi motif, emosi, norma-norma, sikap, dan tingkah laku seseorang.
-
Sisi Sosiologi: Kita melihat ia menganggukkan kepala mungkin karena lingkungan masyarakatnya berbuat hal yang sama, sehingga ia dipengaruhi oleh keadaan masyarakat di sekelilingnya. Hal-hal yang berhubungan dengan sosiologi mencakup susunan masyarakat, politik, dan lain-lain.
-
Sisi Antropologi: Kita melihatnya bahwa kebiasaan menganggukkan kepala tersebut telah menjadi adat atau kebiasaan bangsa Indonesia di negara Zamrud Khatulistiwa. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, ia tentu akan menjalankan apa yang telah menjadi peradaban atau kebudayaan tersebut. Hal-hal yang tercakup dalam kebudayaan antara lain adat istiadat, ritual, cara berpakaian, dan lain-lain.
Jadi, interaksi antara kepribadian (personality), masyarakat, dan kebudayaan merupakan bidang yang akan kita sentuh dalam kehidupan pasca-Reformasi saat ini. Bagaimana tatanan kehidupan sudah hampir awut-awutan tanpa terkendali merupakan bukti tingkah laku masyarakat yang dihasilkan dari interaksi antara kepribadian, masyarakat, dan kebudayaan yang berhubungan dengan situasi sosial.
Kondisi ini diperparah oleh marak dan membahananya media sosial tanpa kontrol, sehingga tercampur antara kebenaran asli dan hoax. Semua teramu dalam pidato-pidato terkait leadership, public opinion, rumor, propaganda, prejudice, attitude change, morale, communication, race relation, conflicts of values, dan lain-lain.
Tinjauan mengenai perilaku menyangkut kepribadian yang diidentifikasi melalui pendekatan interpersonal dan intrapersonal: bagaimana manusia berinteraksi dengan sesamanya dalam konteks sosial dan kultural, serta menyangkut keterampilan individual dalam menghadapi stimulus pribadi maupun stimulus sosial.
Perilaku merupakan produk dari cara manusia berpikir yang di-reinforce oleh emosi dan perasaan, kemudian membentuk ciri perilaku yang disebut sebagai karakter (character) serta diberi label kepribadian. Secara umum, masyarakat berkembang dengan lebih banyak menggunakan asumsi-asumsi yang kadang tidak rasional—seperti gangguan psikologis yang diremehkan oleh lingkungan dan masyarakat serta belum menjadi perhatian yang terpadu.
Terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat yang mengakibatkan perilaku menyimpang, khususnya di kalangan remaja dan anak muda yang bangga dilabeli Generasi Z (Gen Z). Bagaimana sekarang mereka hadir tanpa tata krama, adab, norma-norma, serta menunjukkan perilaku antisosial, pasif-agresif, avoidance, dependent, paranoid, obsessive-compulsive, bahkan borderline. Tanpa merasa malu, mereka memukuli teman sekelas sampai pingsan, mem-bully teman perempuan, berkelahi dengan guru, memaki-maki guru agama, membunuh ustadz pulang mengajar subuh, hingga menusuk imam shalat di masjid (memang itu kasus per kasus, tetapi terjadi bukan sekali dua kali).
Penyimpangan perilaku sosial masyarakat ini kurang mendapat perhatian dari aparat negara. Harus dipahami bahwa pelbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran ini dilatarbelakangi oleh beban menghimpit yang hampir tak tertanggungkan dari sosio-ekonomi keluarga, lingkungan, serta bangsa yang sedang berjuang mengatasi kemelaratan, kebodohan, dan globalisasi. Semua lapisan kelas menengah ke bawah (Santana – Cacing Cau) mengalami culture shock yang sangat berpengaruh pada dinamika kehidupan sehari-hari mereka.
Kenyataan lain adalah tidak terurusnya fakir miskin dan anak terlantar. Kebijakan publik yang “burung” juga telah melahirkan benih-benih bencana sosial yang mengerikan seperti yang terjadi belakangan ini: beberapa masyarakat di beberapa provinsi/daerah menantang pemerintah dengan pongahnya meminta merdeka, serta meningkatnya angka kriminalitas, bunuh diri, kekerasan terhadap anak, konflik rumah tangga, dan makin banyaknya orang dengan gangguan jiwa/mental.
Di lain pihak, untuk menghadapi bencana sosial tersebut, kebijakan yang dikeluarkan hanya bersifat seperti “industri kelontong”. Fenomena ini lambat laun akan melemahkan modal sosial kita, serta lebih jauh melemahkan ketahanan sosial-budaya dari suatu bangsa.
Vivat Indonesia!
***
Judul: Gangguan Kepribadian & Perilaku Bengis Masyarakat, Ditilik dari Sisi Phenomena Psikologi Sosial
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












