MajmusSunda News – Bandung, Minggu (23/08/2026) – Namanya Ahmad Zaki Ali. Ia bukan pejabat, bukan selebritas, bukan pula tokoh yang setiap gerakannya dikawal kamera. Ia seorang relawan kemanusiaan, pendiri Yayasan Komunitas Gerak Bareng. Ketika gempa melukai Flores, Nusa Tenggara Timur, ia tidak datang membawa pidato. Ia datang membawa bantuan. Tidak ada karpet merah, tidak ada penyambutan pejabat, tidak pula baliho besar bertuliskan: Selamat Datang Pahlawan Kemanusiaan.
Pada Jumat, 21 Agustus 2026, dalam perjalanan menyalurkan bantuan menuju wilayah Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Ahmad Zaki Ali meninggal dunia. Ia diduga mengalami serangan jantung akibat kelelahan. Ia berangkat untuk mengantar pertolongan, tetapi akhirnya pulang dalam pertolongan orang lain.
Begitulah hidup seorang relawan. Ketika masih hidup, mungkin langkahnya hanya dianggap debu di jalan. Setelah meninggal, jejaknya dicari orang.
Ketika masih bekerja, barangkali tak banyak yang bertanya apakah ia sudah makan, cukup tidur, atau memiliki ongkos untuk pulang. Namun, setelah tubuhnya terbujur, ucapan belasungkawa berdatangan. Namanya disebut. Fotonya dibagikan. Kebaikannya dikenang. Dedikasinya dipuji.
Kita memang sering terlambat mengenali manusia. Kita baru mengetahui seseorang adalah pohon setelah teduhnya hilang. Kita baru menyadari seseorang adalah pelita setelah ruangan kembali gelap. Kita baru merasakan seseorang telah memikul beban yang berat setelah pundaknya tidak lagi ada.
Selama hidup, relawan sering dianggap orang aneh. Ketika orang lain sibuk mencari keuntungan, ia malah mencari tempat yang sedang kesusahan. Ketika kebanyakan orang menghindari bencana, ia justru mendatanginya. Ketika orang lain mengumpulkan harta untuk dirinya, ia mengumpulkan bantuan untuk orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Dalam kamus ekonomi, tindakannya mungkin sulit dijelaskan. Tidak ada laba, tidak ada dividen, tidak ada fasilitas jabatan. Yang ada hanya lumpur, debu, kurang tidur, mi instan, jalan rusak, dan mungkin ucapan terima kasih yang kadang bahkan tidak sempat disampaikan.
Tetapi dunia rupanya masih bertahan karena adanya orang-orang yang secara ekonomi dianggap tidak masuk akal itu. Ketika meninggal, pejabat datang melayat. Karangan bunga berbaris. Media menulis riwayat perjuangannya. Unggahan duka mendapat ribuan tanda suka. Kematian seolah-olah humas yang paling efektif bagi kebaikan. Padahal, relawan tidak membutuhkan pujian setelah nadinya berhenti. Ia membutuhkan perhatian ketika napasnya masih terengah-engah. Ia membutuhkan teman ketika memanggul bantuan. Ia membutuhkan kendaraan yang layak, perlindungan kesehatan, biaya operasional, dan waktu beristirahat. Keluarganya membutuhkan kepastian bahwa orang yang pergi menolong sesama tidak sedang mempertaruhkan nyawanya sendirian.
Negeri ini mempunyai banyak gelar kehormatan, penghargaan, medali, dan piagam. Sayangnya, semua itu sering datang terlambat. Orang yang berbuat baik ketika hidup kadang harus mengetuk banyak pintu hati untuk memperoleh bantuan. Setelah meninggal, semua pintu mendadak terbuka.
Ahmad Zaki Ali mungkin tidak pernah menghitung berapa orang yang mengenalnya. Relawan sejati memang jarang bekerja untuk dikenang. Ia cukup mengetahui ada orang lapar yang harus diberi makan, orang sakit yang harus ditolong, dan korban bencana yang tidak boleh dibiarkan merasa sendirian.
Sekarang, Ahmad Zaki Ali telah selesai menempuh perjalanan kemanusiaannya. Bantuan yang dibawanya dapat habis dibagikan, tetapi keteladanannya tidak. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu berdiri di atas panggung. Kadang ia berjalan ke daerah bencana, berkeringat, kelelahan, lalu pergi tanpa sempat menerima tepuk tangan.
Seperti biasa, sayang sekali kita baru merasakan kehadiran orang baik setelah ia tiada. Mungkin itulah salah satu kemiskinan yang paling menyedihkan: bukan kekurangan orang baik, melainkan kurangnya mata yang bersedia membantu perjuangan mereka ketika masih hidup.

Judul: Dirasakan Setelah Tiada
Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)
Editor: Parkah












