Dari Siap Kerja Menuju Siap Pakai, Siap Karsa, dan Siap Cipta

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Kamis (03/09/2026) – Artikel Berjudul “Dari Siap Kerja Menuju Siap Pakai, Siap Karsa, dan Siap Cipta” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.

Kondisi seperti ini, sudah puluhan tahun selalu timbul dan seperti tidak punya Solusi yang terpadu, baik itu dari Lembaga Pendidikan atau Perguruan Tinggi , Ketenagakerjaan maupun Lembaga Lembaga Pelatihan , selalu berulang serta penuh dengan ketidak mengertian.

Saat Penulis jadi Ketua PMSM ( Perhimpunan Manajemen Sumberdaya Manusia Indonesia ) Provinsi Jawa Barat, tahun.2001 – 2013, penulis selalu memberikan masukkan kepada Lembaga Pendidikan dan Perguruan Tinggi, bahwa Motto Outputnya harus dirobah, dari menghasilkan Produk SIAP KERJA harus berganti menjadi Produk SIAP PAKAI ( ini standar paling minimal yang dibutuhkan Dunia Usaha atau Dunia Kerja ).

Sertifikat lokakarya MSDM Level Muda yang diselenggarakan PMSM Jawa Barat bersama Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Jawa Barat di Bandung, 9-10 Desember 2003, ditandatangani Ernawan S. Koesoemaatmadja selaku Ketua Umum DPD PMSM Jawa Barat. – (Sumber: Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge))

Disamping itu setiap tahun selalu bertambah dengan dibukanya Jurusan atau Program Study yang kecil kemungkinan lulusannya diserap Dunia Usaha.

Perguruan Tinggi serta Lembaga Pendidikan Menengah, seharusnya sangat memahami ( dan pasti faham ), bahwa Produk atau lulusannya, adalah Jasa beserta semua manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat Pemakai.

Produk lembaga pendidikan, memiliki berbagai lapisan, diantaranya.: Generic Product, Expected Product, Augmented Product dan Potential Product., kesemuanya itu nanti akan diserap oleh Masyarakat Pemakai, yakni Masyarakat langsung ( Immediate ), Masyarakat antara ( Intermediate ), dan Masyarakat akhir.( Ultimate ).

Upaya membangun Lulusan yang bermutu, Inovatif, Kompetitif serta Produktif, sebaliknya dari pola Mental Destruktif, Spekulatif dan Konsumtif, tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada Sistem Pendidikan, yang targetnya sebatas membawa Anak didikannya, dari titik tidak tahu sampai ke titik tahu.

Itu harus dibantu oleh Proses Pembelajaran yang berfungsi menjembatani Jurang yang sangat lebar, antara Tahu dan BISA. , merubah paradigma dalam pola Sikap, pola fikir, dan Profesionalismenya, tidak mampu bersaing apalagi menciptakan nilai tambah , karena tidak pernah Berfikir oleh sebab sudah terbiasa diruang kelas dijejali Meniru Berfikir

Dalam pembelajaran, Siswa ataupun Mahasiswa diberi pemahaman, bahwa nanti dunia kerja atau lingkup kerja amatlah beragam, dimana setiap keragaman adalah sama Terhormatnya, harus dihilangkan persepsi bahwa yang namanya bekerja, adalah kerja dibelakang Meja dan Kantor belaka.

Sertifikat lokakarya MSDM Level Muda yang diselenggarakan PMSM Jawa Barat bersama Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Jawa Barat di Bandung, 9-10 Desember 2003, ditandatangani Ernawan S. Koesoemaatmadja selaku Ketua Umum DPD PMSM Jawa Barat

Disamping itu bekali mereka dengan Pelatihan Sertifikasi Kompetensi, minimal Sertifikasi Entrepreneurship atau Sertifikasi Management( Mutu, MSDM, Kom.efektif, Waktu, Perilaku, Bisnis ).

Saat Penulis jadi Ketua Komite Akreditasi LPK – BLK. Jawa Barat tahun.2006 – 2012, menyarankan LPK – LKP – BLK. menyisipkan Pemahaman Human Capital Entrepreneurship pada setiap peserta didiknya, agar mampu merebut kesempatan kerja.

Contoh. Mempersiapkan Fresh Graduate dan Calon Tenaga Unggulan untuk Dunia kerja, dengan Sertifikate Ketrampilan Nasional, kerjasama PMSM Indonesia Jabar & Disnakertrans Jabar.

Bakat dan kemampuan Lulusan selaku Sumberdaya Insani. sangat penting, sampai pada tahap Siap Pakai dan Siap Cipta. Banyak orang masuk dalam Dunia Pendidikan Formal Akademis, tidak sesuai dengan Bakat yang dipunyainya, dan ironisnya kadang Dipaksakan, akibatnya praktek jual beli nilai dan Ijazah semakin merajalela.

Kembali pada perlunya Pendidikan di deudeul oleh Pembelajaran, produk lulusan yang tadinya hanya : Siap Didik, Siap Latih, Siap Kerja, harus ditingkatkan menjadi Siap Pakai, Siap Karsa, Siap Cipta, menempuh proses tahap demi tahap kesiapan mendapat tugas, akan mendapat pengalaman dan Ilmu yang sesungguhnya ( Know How dan Knowledge ). Untuk menghapus kenyataan seperti sekarang, bahwa Fresh Graduate yang hanya Siap Didik, sudah harus dianggap SIAP PAKAI, padahal belum berproses untuk Siap Karya, Siap Karsa dan Siap Cipta, sehingga tidak mungkin dapat menghasilkan Nilai tambah apapun.

Kepekaan dan Kepedulian Siswa dan Mahasiswa juga kurang diberi tahu, bahwa Hobby adalah asset berharga, tampaknya sepele, pribadi, tetapi beberapa penelitian menunjukkan , Sumberdaya Insani yang memiliki Hobby, dan melaksanakannya dengan tekun, ternyata ada kecenderungan untuk merebut kesempatan kerja, dan bekerja dengan lebih baik, begitu juga untuk kesehatan.

Kenali diri sendiri, tiap orang punya kelebihan dan kekurangan, jangan malu menerima kritik, Pengalaman Kerja tidak selalu diperoleh melalui kerja Formal, Pengalaman Aktif di OSIS, Pramuka, Senat, BEM, Karang Taruna dsb, atau menjadi Penjaga Stand Pameran adalah Juga Pengalaman Kerja yang berharga.( Penekanan Pemahaman kerja, dari diajar menjadi Belajar ).

Terlebih untuk yang Melamar Kerja, jangan diabaikan, Kenali Perusahaan dan Pekerjaan yang akan anda lamar, sesuaikan dengan type dan kemampuanmu sendiri, gunakan kesempatan Seleksi, untuk membuka Apa dan Siapa dirimu yang sesungguhnya , jangan ragu bertanya dan menggali pengetahuan, supaya tidak termasuk dalam Klasifikasi Pengangguran Intelektual.

===== 00000 =====

Catatan : kalau di Belanda, Siswa SLTA/selevel, mereka sudah mempersiapkann diri, mau Kuliah atau Kerja.

Siswa yang ingin lanjut Kuliah, masuk Sekolah umum VWO ( Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs ), yang ingin langsung kerja, masuk Sekolah VOKASI MBO ( Middrlbaar Beroep Onderwijs ).

Bila lulusan MBO ingin kuliah, harus Sekolah lagi 2(dua) tahun di HBO ( Hoger Beroep Onderwijs ), tapi Kuliahnya hanya boleh di Prodi Ilmu Terapan ( Toegepaste Wetenschapp ). Umumnya yang milih Jalur Vokasi, memang sudah memutuskan untuk tidak Kuliah, tidak seperti di Indonesia, Lulusan SMA – SMK ngabring berebut Test ke Perguruan Tinggi, akhirnya banyak yang Jobless.

( Seperti waktu kita dulu dijajah Belanda, sudah seperti itu, yang akan terus kuliah, memilih Sekolah di HBS atau AMS, yang ingin langsung kerja, memilih Sekolah Vokasi seperti HIK, Ambachtsschool, Handel school dll )

=====00000=====

***

Judul: Dari Siap Kerja Menuju Siap Pakai, Siap Karsa, dan Siap Cipta
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *