MajmusSunda News, Kolom Artikel, Minggu (31/08/2025) – Artikel berjudul “Cangehgar, Kasintu, dan Ayam Kampung” ini ditulis oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana, Anggota Dewan Pakar Sejarah dan Kebudayaan, Majelis Masyarakat Sunda (MMS), juga Ketua Yayasan Buana Varman Semesta.
Pada saat ini di dunia masih terdapat empat jenis ayam yang hidup secara liar di habitat hutan-hutan. Pertama, Gallus lafayettii (Sri Lankan Jungglefowl) yang tersebar luas di kawasan Sri Langka. Warna bulu jantannya secara umum cenderung kuning.

Kedua, Gallus sonneratti (Grey Jungglefowl) yang berkembang luas di kawasan Anak Benua India, terutama di sepanjang belahan barat dari utara ke selatan. Warna bulu jantannya secara umum cenderung berwarna kuning.
Ketiga Gallus gallus (Red Jungglefowl) yang tersebar luas di kawasan sejak Pakistan, India, Banglades, Nepal, Cina, Indo-Cina, Semenanjung Melayu, Sumatra, Jawa, Bali, Madura, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Philiphina. Secara umum warna bulu jantannya cenderung berwarna merah.
Keempat, Gallus varius (Green Jungglefowl) yang tersebar luas di kawasan Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Warna bulu pejantannya cenderung berwarna hijau dengan anasir warna biru.

Secara umum ayam peliharaan itu sendiri sebenarnya masih mengandung genetika 70-80% ayam hutan merah (Gallus gallus) sehingga termasuk ke dalam klasifikasi yang sama dengan ayam hutan merah (Gallus gallus domesticatus). Jejak tersebut terutama masih terlihat dengan jelas pada perawakan ayam kampung asli yang tersebar luas di Asia Tenggara. Prosentase sisanya diperkirakan mengandung genetika ayam hutan hijau, ayam hutan Sri Langka, dan ayam hutan abu-abu.
Dengan asumsi bahwa ayam hutan merah yang berhasil didomestikasi pada akhirnya mengalami kawin silang juga dengan ayam hutan selain ayam hutan merah, yakni ayam hutan hijau, ayam hutan Sri Langka, dan ayam hutan abu-abu.
Dalam bahasa Sunda ada peribahasa “Ngawur Kasintu nyieuhkeun Hayam” (menabur Kasintu mengusir Ayam). Artinya, sikap baik, memuji, memuja, menghargai terhadap orang lain, orang jauh, bukan kerabat dekat karena dianggap memiliki keutamaan. Sementara terhadap orang dekat, kerabat, tidak demikian karena dinilai biasa, tidak punya nilai dan keutamaan, padahal dalam kondisi krusial, orang dekatlah yang paling bisa diandalkan dan memiliki manfaat yang jelas dibandingkan orang yang jauh.
Ilustrasi itu tentu saja berakar dari hubungan antara Kasintu dan Ayam Kampung itu sendiri yang sebenarnya masih terhubung kekerabatan. Hewan yang satu jauh di hutan, sedangkan hewan yang satu didomestikasi di kampung-kampung bersama manusia. Betapapun kita menaburkan makanan, sifat liarnya tetap saja membawanya pergi ke hutan-hutan. Sementara Ayam Kampung siap setiap waktu untuk memberikan manfaat sebagai makanan.
Warna merah pada ayam hutan memang menyala dan indah. Sementara unsur keindahan pada ayam kampung telah pudar. Namun, melalui pola makan yang baik posturnya menjadi lebih besar.

Selain Kasintu di Tatar Sunda, masih terdapat Cangehgar. Jika Kasintu berwana merah dan memiliki jengger atas yang bergerigi dan jengger bawah yang terdiri dari dua bagian kanan dan kiri yang kecil. Cangehgar memiliki warna hijau kebiruan dan jengger atas yang tidak bergerigi dan jengger bawah yang tunggal dan panjang. Pada jenggernya terdapat warna merah, kuning dan biru yang indah.
Saat ini status konservasi kedua ayam hutan tersebut masih terjaga dengan baik. Berbagai komunitas pecinta ayam hutan memelihara dan mengembangbiakannya secara domestik sehingga cenderung menjadi tidak liar lagi. Dengan pola atur hukum yang baik upaya konservasi dan penggiat pecinta ayam hutan sebenarnya bisa dibangun kerja sama yang baik dalam rangka upaya konservasi yang terarah selain bersifat hobi. Tentu saja atas seizin pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Mengenal ayam kampung tanpa mengenal ayam hutan serasa ada yang kurang. Mengenal ayam hutan tanpa arah konservasi lingkungan sebagai berorientasi kekayaan flora dan fauna di Tatar Sunda juga kurang.
Begitu juga mengenal ayam kampung tanpa kesadaran bahwa ayam kampung merupakan aset pangan dan komersil yang memiliki ikatan psikologis dan sosiologis yang kuat pada masyarakat Sunda ditengah usaha kemandirian bangsa juga kurang afdol.
Usaha konservasi, hobi, dan kemandirian ekonomi selalu bisa berjalan beriringan. GTK (Yayasan Buana Varman Semesta/Varman Institut – Pusat Studi Sunda/30 Agustus 2025).
***
Judul: Cangehgar, Kasintu, dan Ayam Kampung
Penulis: Gelar Taufiq Kusumawardhana, Yayasan Buana Varman Semesta/Varman Institut – Pusat Studi Sunda
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas info penulis
Gelar Taufiq Kusumawardhana adalah Anggota Dewan Pakar Sejarah dan Kebudayaan, Majelis Masyarakat Sunda (MMS), Ketua Yayasan Buana Varman Semesta, dan Kandidat Doktor pada Konsentrasi Agama dan Budaya, Program Studi Agama-Agama, Program Pascasarjana (S3), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Kini ia bermukim di Perumahan Pangauban Silih Asih, Blok R, No. 37, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
***












