MajmusSunda News – Bandung, Minggu (05/07/2026) – Bhinneka Tunggal Ika merupakan prinsip yang sering dipahami secara terlalu sempit. Seolah-olah karena kita satu Indonesia, maka identitas daerah harus dilemahkan, dikurangi, atau bahkan dicurigai. Padahal, maknanya justru sebaliknya: berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Yang disatukan adalah komitmen kebangsaan, bukan penghapusan jati diri budaya.
Karena itu, ketika orang Sunda ingin identitas kesundaannya dihormati, sejarahnya diakui, bahasanya dirawat, bahkan memiliki aspirasi tertentu mengenai nama daerahnya, hal itu tidak otomatis dapat disebut primordial dalam arti negatif. Sunda tidak sedang meminta keluar dari Indonesia. Sunda juga tidak sedang menolak keberadaan saudara-saudara lain yang hidup di tanah Jawa Barat: Cirebon, Betawi, Jawa, Minang, Batak, Bugis, Tionghoa, dan lain-lain. Selama aspirasi itu disampaikan secara terbuka, konstitusional, inklusif, dan tidak merendahkan kelompok lain, maka hal itu merupakan bagian yang sah dari Bhinneka Tunggal Ika.
Primordialisme baru menjadi masalah ketika identitas asal dipakai secara sempit: merasa paling asli, paling berhak, paling tinggi, lalu menyingkirkan yang lain. Namun, mencintai budaya sendiri, menjaga bahasa sendiri, dan ingin nama serta sejarah sendiri dihormati bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah hak kultural yang justru dilindungi oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Indonesia tidak menjadi kuat karena semua daerah dibuat seragam. Indonesia kuat karena setiap identitas lokal diberi ruang untuk hidup, tumbuh, dan memberi warna bagi bangsa. Sunda yang percaya diri tidak mengancam Indonesia. Sunda yang sadar sejarah, sadar budaya, dan tetap menghormati sesama anak bangsa justru memperkaya Indonesia.
Maka, menyebut aspirasi kultural Sunda sebagai primordial tanpa memahami isi dan tujuannya merupakan penyederhanaan yang tidak adil. Yang perlu diuji bukanlah apakah aspirasi itu bernama Sunda, melainkan apakah aspirasi tersebut tetap menjaga persaudaraan, menghormati keberagaman, dan memperkuat rumah besar bernama Indonesia sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Judul: Bhinneka Tunggal Ika dan Hak Menjadi Sunda
Penulis: Asep Zaenal Mustofa
Editor: Parkah












