Bermata Tapi Tak Melihat

Oleh: Ganjar Kurnia

Bermata Tapi Tak Melihat

MajmusSunda News – Bandung, Minggu (14/06/2026) – “Bermata Tapi Tak Melihat” adalah salah satu lagu hit Bimbo yang judulnya saja sudah seperti ketukan di pintu batin. Tidak berteriak, tetapi seharusnya akan membuat orang menoleh ke dalam dirinya sendiri. Lagu itu terasa merupakan gaungan dari Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 179: “manusia diberi hati, tetapi tidak memahami; diberi mata, tetapi tidak melihat; diberi telinga, tetapi tidak mendengar”. Ujung ayatnya bahkan lebih mengguncang: “mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi”.

Di tempat lain, Al-Qur’an juga menyebut: summun, bukmun, ‘umyun — tuli, bisu, buta (Al-Baqarah: 18). Tentu saja yang dimaksud bukan tidak bisa melihat benar-benar, telinga tidak budeg, atau lidah kelu. Ini soal manusia yang kehilangan kepekaan, tetapi tetap merasa dirinya paling benar.

Tuhan memberi manusia mata, telinga, dan hati sebagai paket bantuan kemanusiaan paling sempurna. Tetapi manusia, dengan penuh percaya diri, kadang tidak memakainya. Di sinilah Tuhan seperti sedang menegur: “Sudah Kuberi mata, masih juga tidak melihat. Sudah Kuberi telinga, masih juga tidak mendengar. Sudah Kuberi hati, masih juga tidak paham. Jadi sebenarnya maunya apa?”

Sebagai ayat, tentu berlaku untuk semua orang, termasuk para pemimpin. Karena posisinya, bila dikaitkan dengan pemimpin, gema ayat itu menjadi lebih panjang. Kalau rakyat biasa tidak melihat, mungkin ia hanya menabrak tiang listrik; tetapi kalau pemimpin tidak melihat, bisa-bisa satu negeri dibawanya menabrak tebing dan masuk jurang. Kalau rakyat biasa tidak mendengar, mungkin ia hanya salah menangkap obrolan. Tetapi kalau pemimpin tidak mendengar, ia bisa salah menangkap jeritan rakyat. Kalau rakyat biasa tidak memahami, mungkin ia hanya bingung membaca petunjuk obat, tetapi kalau pemimpin tidak memahami, ia bisa mengira penderitaan sosial hanyalah angka statistik yang bisa dirapikan dengan “statistrick”.

Ketika Tuhan menyamakan manusia seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, ironi menjadi sangat tajam. Binatang tidak pernah rapat kabinet; kambing tidak pernah menyusun naskah akademik untuk membenarkan kerakusannya; sapi tidak pernah menggelar konferensi pers untuk menjelaskan mengapa rumput tetangga perlu diambil demi stabilitas komunitas kesapiannya; kerbau tidak pernah memasang banner bertuliskan: “Dengan Semangat Kekerbauan Kita Bangun Padang Gembala Berkelanjutan.”

Binatang mengikuti naluri. Ia makan karena lapar, minum karena haus, berlari karena takut. Tetapi manusia bisa makan bukan karena lapar, melainkan karena ingin menimbun. Mengambil bukan karena perlu, melainkan karena ingin lebih. Ia bisa menindas sambil tersenyum, berbohong sambil mengutip kitab suci, menguras milik publik sambil menyebutnya untuk pembangunan. Maka kalimat “lebih rendah dari binatang” bukan penghinaan terhadap binatang. Bisa jadi, justru binatanglah yang tersinggung karena dibandingkan dengan manusia yang sudah kehilangan nurani.

Pemimpin yang bermata tetapi tak melihat biasanya bukan tidak punya data. Data ada. Laporan ada. Paparan PowerPoint ada. Grafik warna-warni juga ada, lengkap dengan animasi yang masuk dari kiri, keluar dari kanan. Semua dilihat, tetapi tidak benar-benar “dilihat”. Melihat bukanlah sekadar menggunakan mata, tetapi bagaimana menjadikan angka berubah menjadi wajah manusia. Melihat kemiskinan bukan hanya membaca persentase, tetapi membayangkan dapur yang tidak mengepul, anak-anak yang putus sekolah, petani yang menjual gabah dengan perasaan kalah sebelum panen, atau buruh kecil yang menghitung tanggal tua sejak tanggal muda.

Pemimpin yang bertelinga tetapi tak mendengar juga bukan karena tidak punya forum aspirasi. Forum ada. Musyawarah ada. Rapat dengar pendapat ada. Kanal pengaduan ada. Bahkan kadang rakyat diminta mengadu lewat aplikasi, seakan-akan luka sosial bisa diselesaikan dengan laporan yang tidak ditindaklanjuti. Mendengar bukan hanya membiarkan suara masuk ke telinga, lalu keluar lagi tersedot angin. Mendengar berarti memberi ruang kepada yang lemah agar tidak selalu kalah oleh suara yang dekat dengan kekuasaan. Mendengar berarti bersedia terganggu oleh kenyataan yang tidak nyaman. Suara rakyat memang tidak selalu merdu, kadang fals, kadang bergema penuh keluhan.

Yang berbahaya lagi adalah ketika pemimpin hatinya tidak mau memahami. Mata masih bisa dibantu kacamata. Telinga masih bisa dibantu alat dengar. Tetapi hati yang beku sering kali justru merasa dirinya paling hangat. Ia berbicara tentang rakyat dengan kalimat rapi, tetapi tidak lagi ikut bergetar ketika rakyat menangis. Ia datang ke kampung, bersalaman, tersenyum, berfoto, lalu pulang membawa kesimpulan bahwa semua baik-baik saja karena penyambutannya meriah. Padahal rakyat sering menyambut pejabat bukan karena sangat bahagia, melainkan karena sudah terlalu lama diajari sopan santun kepada tamu, termasuk kepada tamu yang datang membawa kamera lebih banyak daripada solusi.

Di ruang kekuasaan, summun, bukmun, ‘umyun bisa berubah menjadi budaya birokrasi. Tuli terhadap kritik, bisu terhadap kebenaran, buta terhadap penderitaan. Yang didengar hanya bisikan penjilat. Yang terlihat hanya laporan keberhasilan. Yang diucapkan hanyalah kalimat aman: “Sesuai arahan,” “Kami sudah koordinasi,” “Akan ditindaklanjuti,” dan kalimat sakti yang sering menjadi tempat berlindung di atas segala ketidakjelasan: “Sedang dalam proses.”

Kadang saya membayangkan, kalau ayat itu turun dalam bahasa rapat dinas, mungkin bunyinya begini: mereka punya indikator, tetapi tidak memahami keadaan; mereka punya kunjungan lapangan, tetapi tidak melihat kenyataan; mereka punya kanal pengaduan, tetapi tidak mendengar keluhan. Mereka sibuk bergerak, tetapi lupa bagaimana nilai kemanusiaan diperjuangkan dan direalisasikan.

Itulah humor Tuhan: lembut, tetapi membuat manusia seharusnya malu. Lagu Bimbo itu akhirnya bukan sekadar lagu religi. Ia seperti cermin kecil yang diletakkan di depan wajah. Kita semua dipersilakan bercermin, tetapi khusus untuk pemimpin, cermin itu sebaiknya dibuat lebih besar, agar “ngacanya” bisa lebih detail.

Kekuasaan sering membuat orang merasa penglihatannya paling tajam, padahal yang tajam kadang hanya ambisinya. Kekuasaan sering membuat orang merasa paling banyak mendengar, padahal yang didengar hanya gema dari lingkaran sendiri. Kekuasaan sering membuat orang merasa paling memahami rakyat, padahal rakyat baginya tinggal kategori: miskin ekstrem, rentan miskin, penerima bantuan, pemilih potensial, atau sekadar angka dalam bahan pidato.

Pada akhirnya, ayat itu bukan sekadar ancaman. Ia juga semacam undangan untuk kembali menjadi manusia. Melihat dengan mata yang jujur. Mendengar dengan telinga yang rendah hati. Memahami dengan hati yang tidak menjadi kantor cabang ambisi dan kekuasaan.

Pemimpin tidak dituntut menjadi malaikat. Itu terlalu berat. Lagi pula, mungkin malaikat pun keberatan kalau terlalu sering dijadikan perbandingan politik. Pemimpin cukup mulai dari hal sederhana: jangan pura-pura tidak melihat ketika rakyat susah; jangan pura-pura tidak mendengar ketika rakyat mengeluh; jangan pura-pura tidak paham ketika keadilan sedang dipermainkan. Hal yang paling menyedihkan bukanlah orang buta yang tidak melihat jalan, tetapi adanya orang bermata sehat, berdiri di depan jurang, membawa rombongan, lalu berkata dengan penuh keyakinan: “Tenang, ini jalan menuju masa depan yang akan lebih sejahtera.”

Melihat fenomena ini, kalaulah pada akhirnya ada kegagalan dan kekacauan, terbayang ada seekor kambing tua berwarna hitam menggeleng-gelengkan kepala, sambil bergumam: “Jangan bawa-bawa nama kami.”

Cigadung, 14-06-26

Judul: Bermata Tapi Tak Melihat

Dolar

Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *